Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kantor pusat Unilever di Rotterdam, Belanda pada 21 Agustus 2018. (FOTO: REUTERS/Piroschka van de Wouw/File Photo)

Kantor pusat Unilever di Rotterdam, Belanda pada 21 Agustus 2018. (FOTO: REUTERS/Piroschka van de Wouw/File Photo)

Penjualan Unilever Melonjak Dibantu Inflasi, Tetapi Laba Turun

Selasa, 26 Juli 2022 | 17:23 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Grup barang konsumen Inggris Unilever mengatakan bahwa pendapatan semester I-2022 melonjak karena harga yang lebih tinggi, tetapi laba bersih turun karena kenaikan biaya dan perpajakan.

Pendapatan perusahaan melonjak 15% menjadi 29,6 miliar euro (US$ 30,2 miliar) dalam enam bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Tetapi volume penjualan turun, kata Unilever dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Unilever Agresif Garap Pasar Digital dan Siapkan Portofolio Khusus e-Commerce

Laba setelah pajak turun hampir 7% menjadi 2,9 miliar euro karena biaya keuangan, input, dan biaya restrukturisasi yang lebih tinggi, di samping pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat.

Unilever memroduksi produk makanan, pembersih, dan kecantikan, termasuk es krim Magnum, pembersih permukaan Cif, dan sabun Dove.

Biaya input melonjak di belakang inflasi yang tak terkendali, ditambah tekanan rantai pasokan global.

“Unilever telah memberikan kinerja paruh pertama yang dibangun di atas momentum kami di 2021, meskipun ada tantangan inflasi yang tinggi dan pertumbuhan global yang lebih lambat,” kata CEO Alan Jope, Selasa (26/7).

“(Penjualan) didorong oleh penetapan harga yang kuat untuk mengurangi inflasi biaya input, yang, seperti yang diharapkan, berdampak pada volume,” jelasnya.

Perusahaan memperingatkan bahwa prospek perusahaan tetap terganggu oleh melonjaknya inflasi biaya.

“Inflasi biaya input tinggi telah tersebar luas di seluruh pasar kami dan diperkirakan akan tetap tinggi di paruh kedua,” kata Unilever.

Analis kelompok riset Third Bridge Alex Smith memperkirakan kebijakan kenaikan harga lebih mungkin diambil dalam beberapa bulan mendatang, sebagai hasilnya.

Baca juga: Biden: AS Tidak Akan Resesi

“Inflasi akan terus mengikis margin Unilever untuk 12-18 bulan ke depan, meskipun tekanan margin sebagian telah dikurangi oleh kenaikan harga di paruh pertama. Para ahli kami melihat kenaikan harga lebih lanjut di paruh kedua,” kata Smith.

Unilever telah mengalami permintaan yang kuat untuk produk pembersih tangan dan rumah tangga selama wabah virus corona.

Perusahaan kembali memperingatkan bahwa lockdown baru di Tiongkok telah membebani belanja konsumen raksasa Asia itu pada kuartal kedua tahun ini.

Unilever menjadi perusahaan yang sepenuhnya milik Inggris pada akhir 2020, setelah menyelesaikan penggabungan entitas perusahaan Belanda dan Inggris.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com