Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melambaikan tangan dari dalam mobil saat di Walter Reed Medical Center di Bethesda, Maryland pada 4 Oktober 2020. ( Foto: ALEX EDELMAN / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melambaikan tangan dari dalam mobil saat di Walter Reed Medical Center di Bethesda, Maryland pada 4 Oktober 2020. ( Foto: ALEX EDELMAN / AFP )

Prinsip Kebijakan Ekonomi Trump akan Bertahan

Senin, 2 November 2020 | 06:53 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Setelah berhasil mengontrol Partai Republik, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kemudian mengubah prinsip-prinsip ekonominya. Dan di luar perkiraan banyak pihak.

Partai mana pun yang kemudian menguasai Gedung Putih dan Kongres usai pemilihan presiden (pilpres) 3 November 2020 dan pemilu-pemilu lainnya, prinsip kebijakan ekonomi Trump akan bertahan lama.

Di masa kepemimpinan Trump sejak 2016, proteksionisme menggantikan perdagangan bebas. Utang nasional membubung dan perimbangan anggaran dikesampingkan. Perubahan atas gaya ortodoks ekonomi konservatif ini diperkirakan bertahan lama, jika pun Trump tidak terpilih lagi.

“Partai Republik tidak akan kembali seperti semula. Partai ini secara ideologis sudah dilanda kebingungan dan sekarang tidak tahu berdiri di mana,” ujar Edward Allen, akademisi Council on Foreign Relations, seperti dilansir AFP, Minggu (1/11).

Visi ekonomi Trump itu yang akan dilihat oleh pemilih, apakah akan mengangkatnya lagi (via suara elektoral) untuk masa jabatan kedua, atau penantangnya Joe Biden.

Sejumlah kursi Senat yang diperebutkan pada hari yang sama juga dapat membuat Demokrat sebagai pengendali yang baru. Tapi menurut Eswar Prasad, profesor kebijakan perdagangan Cornell University, doktrin Trump akan bertahan lama terlepas partai mana pun yang menguasai Gedung Putih dan Kongres nantinya.

“GOP (Republik) tampaknya sudah menerima perubahan yang dilakukan Trump, mengesampingkan beberapa prinsip inti ekonominya dan mendukung agenda sosialnya dengan menurunkan pajak, deregulasi, dan sistem hukum condong ke kanan. Apa pun hasil pilpres nanti, Trump telah mengubah substansi dan arah kebijakan Partai Republik,” tutur dia.

Sebelum Trump tampil sebagai presiden pada 2016, Republik mendukung perdagangan bebas. Tapi, pemerintahan Trump mengenakan tarif tinggi atas ratusan miliar dolar AS barang, terutama yang diimpor dari Tiongkok serta Eropa.

Perimbangan anggaran yang dibiayai oleh utang itu juga menjadi pembahasan besar di Grand Old Party (GOP). Tapi, Trump menunda perimbangan anggaran itu selama lima tahun menjadi 2035. Hingga partai menyetujui dana bantuan US$ 3 triliun untuk mendukung perekonomian selama pandemi Covid-19.

Bila kubu Republik dulu menggunakan masalah utang nasional sebagai senjata untuk menumpulkan ambisi pemerintahan Barack Obama, Trump pada 2019 menegaskan bahwa pengurangan utang bukan lagi prioritas. Pemerintah, kata dia, lebih baik menambah anggaran militer.

“Jika kita tidak memiliki militer yang kuat, kita tidak perlu khawatir soal utang. Tapi kita memiliki masalah-masalah lebih besar,” ujar Trump.

Pada tahun fiskal yang berakhir 30 September 2020, defisit anggaran AS mencapai US$ 3,1 triliun atau dua kali lipat lebih dari level tertinggi sebelumnya.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN