Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Taipan tembakau miliarder Michael Bambang Hartono, pada 22 Agustus 2018. ( Foto: AFP / Anthony Wallace )

Taipan tembakau miliarder Michael Bambang Hartono, pada 22 Agustus 2018. ( Foto: AFP / Anthony Wallace )

Reputasi Orang Terkaya di Indonesia Dipertaruhkan

Selasa, 19 Januari 2021 | 14:31 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Reputasi orang terkaya di Indonesia Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono bersaudara – pemilik raksasa perusahaan tembakau Djarum – sedang dipertaruhkan. Kondisi ini menyusul kesepakatan penyelesaian antara PT Bukit Muria Jaya (BMJ), anak usaha dari Djarum, yang mencapai US$ 1,5 juta dengan Departemen Kehakiman (Depkeh) Amerika Serikat (AS) atas 28 pelanggaran sanksi perdagangan terkait Korea Utara (Korut) agar meninggalkan program senjata nuklir.

Melalui kesepakatan tersebut, BMJ juga telah menandatangani perjanjian penangguhan penuntutan dengan Departemen Kehakiman AS, atas dugaan bersekongkol melakukan penipuan bank sehubungan dengan ekspor kertas rokok ke Pyongyang, Korut.

Selain itu, mereka menandatangani perjanjian penyelesaian dengan Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS. Demikian menurut pernyataan Departemen Kehakiman yang dikeluarkan pada 17 Desember.

Di bawah ketentuan masa percobaan 18 bulan, BMJ setuju menerapkan program kepatuhan internal yang dirancang untuk mencegah, dan mendeteksi pelanggaran undang-undang sanksi AS, serta rutin menyampaikan laporan kemajuan ke Departemen Kehakiman.

Kabar tersebut mengejutkan kalangan bisnis dalam negeri mengingat reputasi keluarga Hartono – sebagai pemilik Djarum – yang dihormati, dan saat ini memiliki kekayaan bersih mencapai US$ 38 miliar versi Forbes.

Selain Djarum – sebagai produsen besar rokok kretek – Michael dan Robert Hartono bersaudara memiliki saham pengendali di Bank Central Asia (BCA), bank swasta terbesar di Asia Tenggara dengan kapitalisasi pasar US$ 60 miliar, serta saham elektronik dan real estat.

“Reputasi mereka berlapis emas. Ini jelas bukan praktik yang disetujui oleh saudara-saudara karena terkait masalah reputasi,” ujar salah seorang pebisnis yang telah mengenal keluarga itu selama bertahun-tahun, yang dikutip dari asiatimes.com pada Senin (18/1).

Sementara itu, dilansir dari Bloomberg.com, sepak terjang Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono bermula ketika keduanya mengambil alih bisnis rokok yang dikelola ayahnya Oei Wie Gwan setelah meninggal dunia pada 1963. Pada tahun yang sama, sempat terjadi peristiwa kebakaran yang hampir menghancurkan pabrik rokok perusahaan.

Oei sendiri memulai pembuatan rokok Djarum dari sebuah tempat usaha di Kudus, Jawa Tengah, di mana ia mencampurkan tembakau dengan bumbu cengkeh asli negara tersebut. Jika tidak sedang mempromosikan dan menjual Djarum di jalanan Kudus, Oei pasti terlihat sedang melinting rokok kretek di lantai.

Setelah diambil alih, Robert dan Michael membangun kembali dan memodernisasi Djarum. Mereka mendirikan pusat penelitian dan pengembangan untuk membuat campuran rokok kretek baru, termasuk cerutu dan varietas rasa ceri.

Kakak beradik ini mulai mengekspor rokok mereka pada 1972. Saat ini, sekitar 60.000 pekerja di pabriknya di Kudus masih melinting secara manual rokok kretek Djarum, yang mana sebagian besar dijual kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

Robert dan Michael juga menciptakan rokok kretek mesin pertama mereka, Filter Djarum, pada 1976. Mereka memperkenalkan Djarum Super linting mesin, yang sekarang menjadi salah satu merek paling populer di Indonesia, lima tahun kemudian.

Berdasarkan statistik pemerintah, produk tembakau adalah item nomor 3 dalam pengeluaran rumah tangga terkait makanan di Indonesia setelah makanan olahan dan beras. Pasar tembakau terbesar kelima di dunia berdasarkan jumlah rokok yang terjual, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Robert dan Michael bermitra dengan Farallon Capital, hedge fund yang berbasis di San Francisco, untuk membeli 51% saham publik Bank Central Asia (BCA), perusahaan jasa keuangan terbesar di Indonesia berdasarkan nilai pasar, dengan nilai sekitar US$ 860 juta pada 2002.

Sahamnya dibeli melalui holding vehicle Farindo Investasi. Farallon kemudian menjual sisa sahamnya di bank tersebut kepada Hartonos pada 2009. Mereka juga berekspansi ke properti dan pada 2004 memenangkan hak untuk membangun kembali Hotel Indonesia dan Hotel Wisata, yang terletak di kompleks yang sama di Jakarta Pusat. Mereka mengubah properti menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel dan apartemen mewah, dan menamakannya Grand Indonesia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Asiatimes.com dan Bloomberg.com

BAGIKAN