Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Luar Negeri RI Retno L Marsudi saat menerima enam anggota Steering Committee dari Jejaring Negosiator dan Mediator Wanita Asia Tenggara atau Southeast Asian Network of Women Peace Negotiators and Mediators (SEANWPNM) secara virtual pada 23 Desember 2020. ( Foto: Kemlu.go.id )

Menteri Luar Negeri RI Retno L Marsudi saat menerima enam anggota Steering Committee dari Jejaring Negosiator dan Mediator Wanita Asia Tenggara atau Southeast Asian Network of Women Peace Negotiators and Mediators (SEANWPNM) secara virtual pada 23 Desember 2020. ( Foto: Kemlu.go.id )

RI Prakarsai Pembentukan Jejaring Negosiator dan Mediator Wanita Asia Tenggara

Kamis, 24 Desember 2020 | 08:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno L Marsudi menerima enam anggota Steering Committee dari Jejaring Negosiator dan Mediator Wanita Asia Tenggara atau Southeast Asian Network of Women Peace Negotiators and Mediators (SEANWPNM) secara virtual pada Rabu (23/12). Dalam kesempatan tersebut Retno mengatakan bahwa Perempuan harus diberikan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam proses perdamaian.

Dia juga berharap agar SEANWPNM mampu melengkapi dan memperkuat mekanisme dan inisiatif di Asean dan di kawasan yang terkait agenda Women, Peace and Security (WPS), serta menjalin kolaborasi dan kemitraan dengan jaringan mediator perempuan, baik di kawasan lain maupun di tingkat global demi memperkuat gerakan global pemajuan agenda WPS.

Keberadaan SEANWPNM pun diharapkan dapat merintis generasi baru mediator-mediator perempuan di kawasan, dan pada akhirnya memperkuat pemajuan agenda WPS secara internasional.

Menlu Retno menekankan pentingnya pendekatan budaya dan menghindari finger pointing dalam mengupayakan perdamaian yang langgeng, dan menyentuh akar permasalahan konflik.

Ada pun enam anggota Steering Committe SEANWPNM yang hadir pada pertemuan itu terdiri atas Shadia Marhaban dari Indonesia, Dr. Emma Leslie dari Kamboja, Prof. Miriam Coronel-Ferrer dari Filipina, Lilianne Fan dari Malaysia, Leonésia Tecla da Silva dari Timor-Leste dan Angkhana Neelapaijit dari Thailand. Namun demikian, keanggotaan ke-6 tokoh mediator dan negosiator perempuan dalam Steering Committee SEANWPNM bukanlah mewakili masing-masing negara asal maupun institusi terkait, melainkan kapasitas pribadi.

Menurut salah satu anggota dari Indonesia, Shadia Marhaban, SEANWPNM akan memperluas jangkauannya dengan merangkul lebih banyak mediator dan negosiator perempuan lain di Asia Tenggara.

Sebagai informasi, SEANWPNM adalah jejaring negosiator dan mediator wanita di Asia Tenggara yang pembentukannya diprakarsai oleh Indonesia sejak tahun 2019, sebagai langkah penting dalam meningkatkan peran perempuan di bidang perdamaian.

Dengan terbentuknya SEANWPNM, maka kawasan Asia Tenggara mempelopori pembentukan jejaring di Asia dan bergabung dengan kawasan-kawasan lain, seperti Skandinavia, Mediterania, Afrika, Arab dan Persemakmuran yang telah lebih dulu memilki jejaring mediator dan negosiator perempuan.

Secara umum, berbagai ketegangan dan konflik global dan kawasan masih minim melibatkan peran perempuan dalam mediasi. Walaupun berbagai kajian menemukan bahwa peran perempuan dapat meningkatkan keberhasilan dan keberlanjutan kesepakatan perdamaian, namun kenyataan di lapangan menunjukkan porsi peranan perempuan masih sangat minim. Menurut Council on Foreign Relations, keterlibatan perempuan hanya mengisi 10% proses negosiasi damai di Afghanistan, 20% dalam proses politik Libya dan hampir tidak ada di dalam proses damai Yaman.

Isu Women, Peace and Security (WPS) sendiri sudah menjadi perhatian besar Retno yang merupakan menlu perempuan pertama Indonesia. Dia telah banyak menyaksikan penderitaan para perempuan sebagai korban konflik saat mengunjungi pengungsi Rohingya di Cox's Bazaar, dan pengungsi Palestina di Amman. Sebagai korban konflik, mereka memiliki aspirasi sebagai agen perdamaian.

Dalam peluncuran Global Alliance of Regional Women Mediators di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-74 tahun 2019 lalu, hadir perwakilan Network Mediator dari Afrika, Mediterania, Skandinavia, dan negara-negara Persemakmuran, namun tidak ada wakil dari Asia Tenggara. Alhasil, menlu RI saat itu menyampaikan keinginan untuk membentuk Network di Asia Tenggara pada 2020.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Kementerian Luar Negeri RI

BAGIKAN