Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita mengenakan masker sedang berjalan melewati gedung bank sentral Inggris atau Bank of England (BOE) di pusat kota London, Inggris pada 6 Agustus 2020. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

Seorang wanita mengenakan masker sedang berjalan melewati gedung bank sentral Inggris atau Bank of England (BOE) di pusat kota London, Inggris pada 6 Agustus 2020. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

Sektor Jasa Keuangan akan Terganggu Pasca-Brexit

Sabtu, 12 Desember 2020 | 07:32 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Bank of England (BoE) mengatakan bahwa sektor perbankan Inggris masih tangguh walau menghadapi risiko-risiko Brexit dan pandemi Covid-19. Tapi, bank sentral Inggris ini mengingatkan, sektor jasa keuangan dapat mengalami gangguan ketika masa transisi Brexit berakhir.

Menurut Komite Kebijakan Keuangan atau Financial Policy Committee (FPC) BoE – yang bertugas menjaga sistem finansial – bank-bank besar Inggris mampu menyerap kerugian kredit sebanyak 200 miliar pound (setara US$ 266 miliar, dan 200 miliar euro).

“Persiapan sektor keuangan untuk akhir masa transisi dengan UE sekarang dalam tahap akhir. Sebagian besar risiko terhadap stabilitas keuangan Inggris yang dapat timbul dari gangguan terhadap penyediaan jasa keuangan lintas batas pada akhir masa transisi telah dikurangi, berkat persiapan ekstensif oleh sektor swasta dan otoritas,” demikian disampaikan FPC dalam laporan stabilitas keuangan pada Jumat (11/12), yang dikutip AFP.

Namun, stabilitas keuangan tidak sama dengan stabilitas pasar atau penghindaran gangguan apapun bagi para pengguna keuangan. “Beberapa volatilitas pasar dan gangguan pada jasa keuangan, terutama untuk para nasabah di UE, dapat muncul,” demikian peringatan yang tertuang dalam laporan.

Kabar tersebut muncul setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memperingatkan bahwa Inggris bisa keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan perdagangan menyusul gagalnya pembicaraan dengan UE di level tertinggi di Brussels, Belgia.

Seperti diketahui, Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020 namun masih berada di bawah aturan sampai 31 Desember tahun ini. Selama masa transisi, Inggris berusaha menetapkan persyaratan-persyaratan dalan hubungan dagang terbarunya dengan UE pasca-Brexit.

Optimistis

Komite inti Bank of England sendiri menyatakan optimistis atas kemampuan perbankan untuk menahan lebih banyak gejolak.

“FPC menilai bahwa sistem perbankan Inggris tetap tangguh terhadap berbagai kemungkinan hasil ekonomi. Perbankan memiliki kapasitas untuk terus mendukung bisnis dan rumah tangga, bahkan jika hasil ekonomi jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan saat ini, berkat peningkatan sokongan modal yang substansial sejak krisis keuangan global. Bank-bank Inggris telah menyerap kerugian kredit sebesar 20 miliar poun pada 2020 sebagai akibat dampak kronis dari pandemi Covid-19 yang mematikan,” demikian penjelasan dari FPC.

Inggris telah menjadi salah satu negara yang paling parah terkena pandemi Covid-19 dengan angka kematian terbanyak di Eropa. Ekonominya pun kontraksi 11% dan menjadi catatan terburuk dalam tiga abad. Laporan FPC menyebutkan, prospek perbankan akan memburuk karena nasabah individu bisnis tidak dapat membayar kembali pinjaman mereka.

“Namun demikian, bank-bank besar Inggris dapat menyerap kerugian kredit hingga 200 miliar pound atau jauh lebih banyak daripada yang akan disiratkan, jika ekonomi mengikuti jalur yang konsisten dengan perkiraan BoE,” kata FPC

FPC juga menilai bahwa skenario-skenario Inggris dan ekonomi makro global yang diperlukan untuk menghasilkan kerugian pada skala ini harus dalam keadaan sangat parah, semisal, tingkat pengangguran Inggris naik hingga lebih dari 15%.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN