Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. ( Foto: MARTY MELVILLE / AFP )

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. ( Foto: MARTY MELVILLE / AFP )

Selandia Baru Resesi

Jumat, 18 September 2020 | 07:28 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WELLINGTON – Selandia Baru terjun ke dalam resesi untuk pertama kali dalam satu dekade pada Kamis (17/9). Data pemerintah memastikan keruntuhan ekonomi ini memaksa Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern mempertahankan tanggap pandemi menjelang pemilihan umum (pemilu) bulan depan.

“Kontraksi 12,2% pada April-Juni merupakan angka terbesar sejauh ini, sejak pencatatan dimulai,” demikian pernyataan dari badan data nasional Stats NZ, yang dikutip oleh AFP.

Selandia Baru juga masih menerapkan aturan karantina atau lockdown ketat, yang sudah berlangsung selama hampir dua bulan dan menutup perbatasan negara.

Bahkan Ardern menolak tuduhan oposisi, bahwa langkah-langkah keras yang diberlakukan pemerintahannya sebagai penyebab ekonomi Selandia Baru terdorong dari tepi jurang. Menurut dia, penerapan aturan pembatasan telah membantu menahan penyebaran virus corona Covid-19, dan memungkinkan kegiatan bisnis dilanjutkan jauh lebih awal daripada di banyak negara lain.

Sebaliknya pemimpin dari kubu kiri-tengah – yang akan mengikuti pemilu pada 17 Oktober – itu menunjukkan bahwa Selandia Baru hanya mencatat 25 kematian yang disebabkan oleh Covid-19, dari total populasi lima juta.

“Sukses menurut saya adalah menyelamatkan nyawa orang, mendukung dan menyelamatkan bisnis rakyat, keluar dari sisi lain (krisis) lebih cepat, lebih cepat dan dengan lebih banyak aktivitas. Saya mendukung hasil kami,” ujar Ardern kepada wartawan.

Dia menambahkan kesulitan ekonomi akibat penerapan karantina pada kuartal Juni akan diikuti oleh rebound pada Juli-September, di saat aturan pembatasan terkait virus corona dilonggarkan secara signifikan.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Selandia Baru Grant Robertson, catatan itu bisa menjadi jauh lebih buruk mengingat dokumen anggaran pada Mei memperkirakan penurunan kuartalan 23,5%. Sedangkan Departemen Keuangan memperkirakan penurunan 16% pada pekan ini.

“Tidak mungkin ada partai politik yang dapat mengklaim bahwa tidak akan terjadi resesi di Selandia Baru selama periode ini. Ini adalah guncangan ekonomi global sekali dalam 100 tahun,” kata dia.

Sebagai informasi, dalam jajak pendapat di Selandia Baru, Ardern masih sangat diunggulkan dan diperkirakan mempertahankan jabatannya, meskipun angka ekonomi pra-pemilihan yang buruk.

Periode Traumatis

Kelompok oposisi dari Partai Nasional mengatakan angka-angka tersebut menunjukkan perlunya pergantian pemerintahan. Mereka beranggapan pemerintahan Ardern tidak dapat mengelola ekonomi atau merespons pandemi Covid-19 dengan baik.

“Sekarang sudah resmi bahwa kita berada dalam resesi terdalam, yang bakal terus diingat dan itu menjadi bukti bahwa Selandia Baru membutuhkan pemerintah yang dipimpin oleh Partai Nasional, yang sekarang memiliki rencana sangat jelas,” ujar Pemimpin Partai Nasional Judith Collins.

Menurut Collins, Selandia Baru sangat tidak diuntungkan dibandingkan negara tetangga Australia, yang mencatat kontraksi ekonomi 7% pada kuartal Juni setelah mengadopsi pendekatan lebih fleksibel untuk menerapkan lockdown dan kontrol perbatasan.

Berdasarkan laporan, Selandia Baru sebelumnya mengalami resesi pada 2008-2009 dan hingga tiga bulan pertama tahun ini. Negeri itu sempat mencatatkan pertumbuhan triwulanan nonstop sejak 2010.

Namun penurunan Kuartal II yang diikuti kontraksi 1,6% dalam tiga bulan pertama 2020, menegaskan ekspektasi luas bahwa Selandia Baru berada dalam resesi.

Kepala ekonom Kiwibank Jarrod Kerr menyatakan bahwa angka-angka tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kami belum pernah melihat yang seperti ini. Ini sangat traumatis. Ekspor jasa terhambat dan turun 40% pada kuartal tersebut, tingkat konsumsi turun 12%, dan investasi berkurang 20%,” kata Kerr.

Tetapi dia mengatakan bahwa, itu catatan satu kali yang akan diikuti oleh lonjakan pertumbuhan 10% pada kuartal September, sekaligus menjadi rekor.

“Bisnis dan rumah tangga jelas-jelas beradaptasi dengan perdagangan di dunia dengan kontrak tatap muka yang terbatas,” tambahnya. 
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN