Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Hong Kong. ( Foto: Istimewa )

Bendera Hong Kong. ( Foto: Istimewa )

Status Hong Kong Digoyang, Bisnis Asing Bisa Terguncang

Happy Amanda Amalia, Rabu, 3 Juni 2020 | 08:23 WIB

HONG KONG, investor.id – Menteri Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi Edward Yau mengatakan bahwa Hong Kong adalah satu dari tiga pusat keuangan utama di dunia. Oleh sebab itu, setiap gangguan terhadap statusnya sebagai pusat finansial tersebut bakal berdampak juga ke semua perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut, termasuk perusahaan-perusahaan asing.

“Langkah Washington untuk mencabut status perdagangan khusus Hong Kong dengan AS merupakan tindakan tidak adil dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Yau kepada CNBC, Selasa (2/6).

Pernyataan Yau mengacu ke pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (29/5). Yang akan mengakhiri status perdagangan istimewa Hong Kong dengan AS. Pengumuman Trump merupakan respons atas persetujuan Tiongkok terhadap usulan undang-undang keamanan yang akan secara efektif mengesampingkan badan legislatif di wilayah administrasi khusus tersebut.

RUU kontroversial itu juga menuai kritikan, dan digadang-gadang menggerus kebebasan dan otonomi wilayah Tiongkok.

Secara terpisah, AS pada tahun lalu telah mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan Hong Kong cukup otonom dari wilayah daratan untuk memenuhi persyaratan hubungan perdagangan yang menguntungkan dengan AS.

Namun usulan Tiongkok soal undang-undang keamanan tersebut memicu kekhawatiran terhadap status Hong Kong sebagai pusat keuangan utama di Asia. Yau pun menekankan pentingnya Hong Kong bagi perusahaan-perusahaan dari seluruh kawasan.

“Hong Kong adalah salah satu dari tiga pusat keuangan utama di seluruh dunia. Di sini, kami berdagang secara global di zona waktu kami untuk semua saham yang terdaftar di Hong Kong. Mereka tidak hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan Hong Kong,” kata Yau.

Ia menambahkan bahwa yang terdaftar, termasuk perusahaan-perusahaan dari Tiongkok daratan, Singapura dan AS.

Dia menambahkan, banyak perusahaan mendirikan kantor-kantor pusat di kota itu sebagai pintu gerbang ke daratan Tiongkok, ke Asia Timur dan Asia Tenggara.

Ada kekhawatiran terhadap lebih dari 1.300 perusahaan Amerika yang beroperasi di Hong Kong. Pasalnya, perusahaan-perusahaan itu akan terkena dampak jika status perdagangan khusus Hong Kong dengan AS harus dicabut.

Saling Berkepentingan

Yau mengatakan, baik perusahaan-perusahaan lokal dan luar negeri berada di sektor jasa, di mana ada kepentingan-kepentingan saling terkait.

“Kami menyambut semua orang untuk datang berbisnis di sini. Hong Kong melayani peran yang sangat unik. tidak hanya untuk negara, tetapi juga untuk dunia,” pungkasnya.

Jumlah perusahaan yang beroperasi di Hong Kong dan memiliki perusahaan induk di luar kota pada tahun lalu mencapai 9.040 atau naik hampir 10% dari 2017. Demikian menurut data dari InvestHK, yakni sebuah lembaga pemerintah di Hong Kong. Ada pun sebagian besar dari perusahaan-perusahaan itu berasal dari daratan Tiongkok, Jepang, Singapura, AS, dan Inggris.

“Hong Kong belum terhindar dari iklim geopolitik utama yang lebih besar,” tutur Yau.

Bahkan sebelum AS bergerak mencabut status khusus pada Hong Kong, ketegangan antara AS dan Tiongkok sedang meningkat. Kedua negara adidaya tersebut saling memperdebatkan, permasalahan, seperti asal-usul wabah virus corona.

Namun, Yau menambahkan ada yang tidak logis bagi mitra dagang utama yang berinvestasi di Hong Kong. Bila di satu sisi mengambil keuntungan penuh dari neraca perdagangan dan sektor jasa Hong Kong. Di sisi lain, melakukan sesuatu yang dimaksudkan untuk membahayakan Hong Kong.

“Padahal secara bersamaan merusak kepentingan mereka sendiri,” ujar Yau.

Dia pun mendesak agar Pemerintah AS mempertimbangkan kembali keputusannya. Serta mempertimbangkan secara penuh dampak dari langkah-langkah ekonomi masing-masing, serta pasar global. (sumber lain)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN