Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berbicara tentang pemberian 50 juta dosis vaksin Covid-19 di AS dalam acara memperingati tonggak sejarah, di Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower di Washington, DC, pada 25 Februari 2021. ( Foto: Saul Loeb / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berbicara tentang pemberian 50 juta dosis vaksin Covid-19 di AS dalam acara memperingati tonggak sejarah, di Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower di Washington, DC, pada 25 Februari 2021. ( Foto: Saul Loeb / AFP )

Stimulus Covid US$ 1,9 T Diputuskan Hari Ini

Jumat, 26 Februari 2021 | 06:11 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) pada Jumat (25/2) waktu setempat akan melakukan pemungutan suara untuk paket stimulus virus corona Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun. Presiden AS Joe Biden mengajukan proposal tersebut ke Kongres sebelum program tunjangan pengangguran berakhir bulan depan, sementara penolakan dari Partai Republik semakin kuat.

Para CEO bisnis AS pada Rabu (24/2) memberikan dukungannya terhadap rencana besar tersebut. Menurut mereka, stimulus itu diperlukan untuk membantu ekonomi yang sedang berjuang. Namun pihaknya menerima peringatan dari Partai Republik tentang daftar keinginan Demokrat yang terlalu tinggi, jauh melampaui bantuan virus corona.

Steny Hoyer, pemimpin mayoritas DPR AS dari Partai Demokrat mengatakan, belanja sebesar itu diperlukan karena kebutuhan bantuan terkait Covid-19 masih sangat besar. Ia yang secara simbolis akan mengajukan apa yang disebut Rencana Penyelamatan Amerika itu ke pemungutan suara pada Jumat. Dengan harapan kemudian juga dapat disetujui oleh Senat AS.

Kubu Demokrat di DPR berharap tidak ada penolakan terhadap rencana tersebut. Selain akan memberikan bantuan tunai kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan, juga akan memperluas dan memperluas tunjangan pengangguran, mendukung usaha kecil, mendanai respons pandemi lokal maupun negara bagian, dan percepatan vaksinasi.

Tetapi suara di Senat sangat ketat karena terbagi dua. Biden harus mengamankan dukungan dari seluruh Senator Demokrat atau berisiko kehilangan stimulus tersebut.

Pemimpin Minoritas Senat Mitch McConnell pada Rabu menyebut rancangan undang-undang (UU) itu sebagai pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Para anggota Republik mengatakan, hanya 9% dari US$ 1,9 triliun yang benar-benar digunakan untuk mendanai kesehatan masyarakat.

Bantuan Mendesak

Sementara itu, ada rintangan prosedural terhadap salah satu elemen kunci dari RUU tersebut. Yakni kenaikan upah minimum menjadi US$ 15 per jam dari sebelumnya US$ 7,25. Ini merupakan salah satu janji kampanye Biden.

Karena Demokrat berusaha meloloskan langkah tersebut di bawah aturan rekonsiliasi, sebuah proses anggaran yang memungkinkan melewati ketentuan 60 suara normal di Senat. Tapi karenanya wajib mematuhi aturan tertentu.

Senat diharapkan paling cepat memutuskan masalah itu pada Rabu. Dan peluang untuk memberikan suara atas RUU pada minggu depan, sebelum tenggat waktu berakhirnya tunjangan pengangguran jatuh pada 14 Maret 2021.

Tetapi jika Senat tidak menyetujui penaikan upah minimum dimasukkan dalam rekonsiliasi, mau tidak mau harus dicabut karena hampir tidak mungkin untuk mendapatkan 60 suara. Dengan tekanan yang terus meningkat, para CEO pun urun pendapat.

Sebuah surat yang ditandatangani oleh lebih dari 150 CEO dari Partnership for New York City menyebutkan, rencana stimulus Biden memberikan kerangka kerja untuk kerja sama publik-swasta untuk mengatasi Covid-19 dan untuk menuju era baru pertumbuhan yang inklusif. Di antara para penandatangan surat tersebut terdapat Laurence Fink dari BlackRock, James Gorman dari Morgan Stanley, dan David Solomon dari Goldman Sachs.

"Tindakan bantuan federal sebelumnya sangat penting, tetapi lebih banyak yang harus dilakukan untuk menempatkan negara pada lintasan pemulihan yang kuat dan tahan lama," tulis mereka, Kamis (25/2), yang diilansir AFP.

Sebuah surat terpisah dari Business Roundtable, yang mewakili para CEO utama AS, juga meminta Kongres untuk bergerak dengan cepat pada bantuan ekonomi melalui paket stimulus.

Tidak ada Senat Republik yang menyatakan dukungan untuk RUU tersebut, kecuali Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer menegaskan akan memperjuangkan suara Demokrat. "Jangan salah. Kami akan mengesahkan bantuan Covid-19 yang sanat mendesak itu," tukasnya.

 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN