Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

The Fed Menilai Serangan Siber Risiko Utama bagi Ekonomi AS

Selasa, 13 April 2021 | 06:24 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan, dirinya lebih khawatir tentang risiko serangan siber skala besar dibandingkan krisis keuangan seperti yang terjadi pada 2008.

Risiko krisis seperti pada 2008 yang memaksa keluarnya dana talangan pemerintah bagi bank-bank dinilainya sangat sulit terjadi lagi. Powell mengatakan itu dalam wawancara yang disiarkan Minggu (11/4) di CBS, yang dikutip AFP.

"Dunia sudah berubah dan berkembang. Risiko-risikonya pun berubah. Dan saya akan mengatakan bahwa risiko itu yang paling kita perhatikan sekarang adalah risiko dunia maya," katanya.

Ia menambahkan, kekhawatiran itu dirasakan oleh banyak pemerintah maupun bisnis swasta, khususnya di bidang keuangan. Karena organisasi-organisasi itu berinvestasi paling banyak untuk melawan serangan dunia maya. Powell menekankan, The Fed sedang menilai berbagai jenis skenario.

"Ada beberapa skenario di mana utilitas pembayaran yang besar, misalnya, rusak sementara sistem pembayaran tidak dapat berfungsi. Pembayaran tidak bisa diselesaikan. Ada beberapa skenario di mana lembaga keuangan besar akan kehilangan kemampuan untuk melacak pembayaran yang dilakukan dan hal-hal seperti itu," ungkapnya.

The Fed juga melihat kemungkinan bahwa sebagian atau bahkan sebagian besar dari sistem keuangan bisa dimatikan.

"Kami menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan uang untuk berjaga-jaga terhadap hal-hal ini," katanya.

Dolar Digital

Powell juga menjelaskan tentang kemungkinan untuk meluncurkan dolar digital, karena Tiongkok bulan lalu menjadi negara ekonomi besar global pertama yang mengungkap rencana cryptocurrency.

Dia mengatakan bahwa untuk saat ini The Fed sedang mengevaluasi kemungkinan tersebut.

"Kami merasa itu kewajiban kami untuk memahaminya. Bagaimana cara kerjanya? Apa fitur-fiturnya?" Powell mengatakan.

Ia juga menambahkan, The Fed sedang mengembangkan peranti lunak dan bahkan merancang tampilan dolar AS digital. Tetapi keputusan akhir tentang apakah akan mempublikasikannya hanya akan dilaksanakan setelah dampaknya dipahami sepenuhnya.

“(Dolar adalah) mata uang cadangan dunia. Dolar sangat penting Kita tidak perlu menjadi yang pertama yang melakukan ini. Kami ingin melakukannya dengan benar. Dan itulah yang akan kami lakukan," tukasnya.

Oktober lalu, Powell telah mengindikasikan AS sedang memikirkan untuk mengeluarkan cryptocurrency. Tetapi ia kemudian memperingatkan bahwa penilaian penuh tentang manfaat dan risiko akan membutuhkan waktu.

Sementara itu, penciptaan dolar digital dinilai dapat menguntungkan ekonomi AS, Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan dalam wawancara dengan New York Times yang diterbitkan 22 Februari 2021.

Dia menyoroti kebutuhan bank sentral untuk menilai dengan benar masalah terkait, terutama perlindungan konsumen. Mengenai ekonomi AS, Powell mengatakan perekonomian negara sedang pada titik perubahan.

“Pertumbuhan dan pekerjaan akan mengalami percepatan dalam beberapa bulan mendatang,” ia memperkirakan.

Tetapi Yellen sekali lagi bersikeras bahwa pandemi Covid-19 terus menimbulkan risiko.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN