Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang akan melakkan misi  penyelidikan asal-usul pandemi Covid-19, termasuk Peter Daszak (tengah) dan Hung Nguyen (kiri) sedang berada di dalam bus setelah mendarat di terminal internasional, bandara di Wuhan, Tiongkok pada 14 Januari 2021. ( Foto: Nicolas Asfouri / AFP )

Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang akan melakkan misi penyelidikan asal-usul pandemi Covid-19, termasuk Peter Daszak (tengah) dan Hung Nguyen (kiri) sedang berada di dalam bus setelah mendarat di terminal internasional, bandara di Wuhan, Tiongkok pada 14 Januari 2021. ( Foto: Nicolas Asfouri / AFP )

Tim Penyelidik Asal-Usul Covid Tiba di Wuhan

Jumat, 15 Januari 2021 | 06:50 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WUHAN, investor.id – Tim ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah tiba di Wuhan, Tiongkok pada Kamis (14/1) untuk menyelidiki asal-usul virus corona Covid-19, setelah lebih dari satu tahun kemunculannya. Namun, dua orang anggota tim ahli dilarang melanjutkan perjalanan saat di Singapura karena hasil tes menyatakan positif virus antibodi.

Menurut badan kesehatan PBB sebagian besar tim telah tiba, tetapi dua anggota tidak diizinkan naik pesawat dari Singapura menuju Wuhan setelah dinyatakan positif antibodi virus corona. Insiden ini berdampak pada perubahan dalam perjalanan panjang para ahli ke Tiongkok.

Tim ahli internasional yang terdiri dari 13 ilmuwan dikabarkan telah mendarat di Wuhan untuk menjalani misi tertunda lama. Dalam misi ini, tim ahli akan bertemu dengan para pejabat Tiongkok dengan memakan pakaian hazmat dan menjalani tes usap (swab) tenggorokan pada saat kedatangan, Setibanya di bandara, tim ahli dibawa ke sebuah hotel untuk menjalani karantina selama dua pekan sebelum melaksanakan tugasnya.

Ketua tim ilmuwan WHO Peter Ben Embarek mengatakan kelompoknya akan mengawali misi dengan menjalani karantina hotel wajib. “Dan kemudian setelah dua minggu, kami akan dapat berkeliling dan bertemu dengan rekan-rekan China kami secara langsung dan pergi ke berbagai situs yang ingin kami kunjungi,” tuturnya.

Sebagai informasi, virus corona Covid-19 pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, Tiongkok tengah pada akhir 2019. Sejak itu, pandemi menyebar ke seluruh dunia dan merenggut hampir dua juta orang sejauh ini, menginfeksi puluhan juta dan menggerogoti perekonomian global.

Pihak WHO sendiri menyatakan, bahwa menetapkan jalur penularan virus dari hewan ke manusia sangat penting untuk mencegah wabah di masa depan. Meskipun telah melalui proses negosiasi yang melelahkan selama berbulan-bulan, tim ahli sempat ditolak masuk pada pekan lalu. Hal ini menjadi tanda sensitivitas politik dari asal usul virus yang dikacaukan oleh tuduhan antar negara, dugaan dan penyangkalan.

Hotel Jade Boutique, tempat anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tinggal selama dua pekan menjalani karantina, sebelum misi penyelidikan mereka tentang asal-usul pandemi Covid-19, di Wuhan, Tiongkok, pada 14 Januari 2021. ( Foto: Nicolas Asfouri / AFP )
Hotel Jade Boutique, tempat anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tinggal selama dua pekan menjalani karantina, sebelum misi penyelidikan mereka tentang asal-usul pandemi Covid-19, di Wuhan, Tiongkok, pada 14 Januari 2021. ( Foto: Nicolas Asfouri / AFP )

Kedatangan WHO

Sebanyak dua ahli dalam misi internasional untuk menyelidiki asal-usul Covid-19 di Tiongkok, dikabarkan masih berada di Singapura setelah dinyatakan positif antibodi Covid. Demikian disampaikan WHO pada Kamis.

Sebelumnya WHO mengatakan, bahwa tim ahli internasional telah mendarat di Wuhan untuk misi yang telah lama tertunda, tetapi kemudian mencuit bahwa dua ilmuwan masih di Singapura.

“Dua ilmuwan masih di #Singapore untuk menyelesaikan tes # COVID19. Semua anggota tim memiliki beberapa tes PCR dan antibodi negatif untuk Covid-19 di negara asal mereka sebelum melakukan perjalanan,” demikian cuitan WHO.

Menurut WHO, semua anggota dinyatakan negatif usai menjalankan tes PCR, yang menentukan apakah seseorang saat ini terinfeksi Covid-19.

Tetapi kemudian dua anggota positif Covid-19 setelah menjalani tes antibodi IgM – yang biasanya merupakan antibodi pertama yang diproduksi oleh sistem kekebalan ketika virus menyerang.

Di saat IgM terdeteksi, subjek mungkin masih terinfeksi atau baru saja sembuh dari infeksi Covid-19. WHO menyatakan, kedua ilmuwan saat ini sedang di tes IgM serta antibodi IgG, yang umumnya muncul sekitar seminggu setelah gejala Covid-19 dimulai, dan menunjukkan bahwa Anda baru-baru ini terinfeksi virus.

Sementara itu, Pemerintah Tiongkok bersiap melakukan pengawasan atas hasil penyelidikan asal-usul virus corona yang dihimpun tim ilmuwan WHO. Tiongkok menyampaikan gagasan bahwa pandemi dimulai di luar perbatasannya. Otorotas Tiongkok juga lebih memilih untuk fokus pada pengendalian krisis kesehatan masyarakat yang relatif cepat.

Embarek memperingatkan misi ini bisa menjadi perjalanan yang sangat panjang sebelum mendapatkan pemahaman penuh tentang apa yang terjadi.

“Saya tidak berpikir kami akan mendapatkan jawaban yang jelas setelah misi awal ini, tetapi kami akan melanjutkannya. Idenya adalah untuk memajukan sejumlah studi yang telah dirancang dan diputuskan beberapa bulan lalu agar kita lebih memahami apa yang terjadi,” katanya.

Klaster Baru

Di sisi lain, perjalanan tim ahli dilakukan, ketika Tiongkok sedang bergerak untuk memadamkan klaster baru dari Covid-19. Tercatat, lebih dari 20 juta penduduk diisolasi di bagian utara Tiongkok. Bahkan, salah satu provinsi di Negeri Tirai Bambu itu telah menyatakan keadaan darurat, menyusul laporan korban meninggal dunia pertama akibat Covid-19 dalam delapan bulan.

Padahal sebelumnya, Tiongkok telah mengendalikan sebagian besar pandemi Covid-19 melalui penerapan karantina (lockdown) yang ketat dan pengujian massal. Pemulihan ekonominya digadang-gadang sebagai indikasi kepemimpinan yang kuat oleh otoritas Komunis.

Tetapi, Komisi Kesehatan Nasional melaporkan ada 138 kasus infeksi pada Kamis, atau tertinggi sejak Maret tahun lalu. Klasternya pun terbilang sedikit bila dibandingkan dengan kebanyakan negara yang bersaing dalam hal kasus infeksi yang merajalela dan catatan jumlah kematian.

Kematian pertama akibat virus di Tiongkok dalam beberapa bulan telah meimbulkan kekhawatiran di seluruh negeri. Tagar (#) “Kematian virus baru di Hebei” pun langsung menarik 270 juta penayangan di platform media sosial Weibo, pada Kamis.

“Saya sudah lama tidak melihat kata-kata 'kematian akibat virus'. Ini sedikit mengejutkan! Saya harap epidemi dapat segera berlalu,” demikian unggahan salah satu penggun.

Ada pun angka kematian terakhir yang dilaporkan di daratan Tiongkok adalah pada Mei tahun lalu, di mana jumlah kematian resmi sekarang mencapai 4.635 jiwa.

Pemerintah Tiongkok sendiri sangat ingin membasmi klaster-klaster lokal menjelang perayaan festival Tahun Baru Imlek pada bulan depan, di mana umumnya ratusan juta orang bermobilisiasi di seluruh negeri.

Pemerintah Heilongjiang timur laut pun mengumumkan keadaan darurat pada Rabu (13/1), di saat infesi virus corona menyebar. Pihak berwenang telah memberitahu 37,5 juta penduduknya untuk tidak meninggalkan provinsi kecuali benar-benar diperlukan.
 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN