Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pelanggan berbelanja sayur di pasar di Nanjing, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 11 Januari 2021. ( Foto: STR / AFP )

Pelanggan berbelanja sayur di pasar di Nanjing, di provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, pada 11 Januari 2021. ( Foto: STR / AFP )

Tiongkok Catat Ekspansi 2,3% di 2020

Selasa, 19 Januari 2021 | 07:34 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Biro Statistik Nasional Tiongkok atau National Bureau of Statistics (NBS) pada Senin (18/1) melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,3% pada 2030. Meski berada pada laju paling lambat dalam lebih dari empat dekade, tapi Tiongkok menjadi satu-satunya negara dengan kekuatan ekonomi besar yang tetap ekspansif, setelah bangkit dari krisis virus yang diakibatkan pandemi virus corona Covid-19.

Menurut laporan, ekspansi 2,3% pada 2020 merupakan bentuk perlambatan nyata dari pertumbuhan 2019 yang direvisi sebesar 6,0%. Angka revisi itu sendiri sudah merupakan yang terendah dalam beberapa dekade. Ini mengingat Tiongkok dilanda oleh permintaan domestik yang lemah dan ketegangan perdagangan.

Namun, catatan tersebut dianggap masih lebih baik dibandingkan perkiraan dari hasil jajak pendapat AFP terhadap para analis dari 13 lembaga keuangan, yang memproyeksikan ekspansi 2,0%.

Dalam tiga bulan terakhir 2020, rebound ekonomi Tiongkok berlanjut dengan pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan sebesar 6,5% - sebuah peningkatan berkelanjutan sejak Kuartal II.

Catatan itu membawa ekonomi Tiongkok kembali ke lintasan pra-pandemi, walaupun tingkat pertumbuhan sepanjang 2020 masih menjadi kinerja terburuk sejak kontraksi 1,6 pada 1976 – ketika Ketua Mao Zedong meninggal. Kontraksi tersebut terjadi dua tahun sebelum mantan pemimpin Deng Xiaoping mulai beralih dari perencanaan pusat ala komunis, dan mengubah Tiongkok menjadi pusat industri, perdagangan, serta teknologi.

Menurut NBS, tahun lalu adalah lingkungan yang suram dan kompleks, baik di dalam maupun luar negeri. Ini dikarenakan pandemi Covid-19 memberikan dampak besar. Seperti diketahui, sejak kemunculannya pertama kali di Tiongkok tengah pada akhir 2019, virus corona telah memporak-porandakan perekonomian dunia.

Namun, Tiongkok juga yang menjadi negara pertama yang bangkit kembali usai memberlakukan karantina atau lockdown ketat, serta langkah-langkah pengendalian virus.

Pemulihan Belum Kokoh

Komisaris NBS Ning Jizhe mengatakan kepada wartawan bahwa landasan pemulihan ekonomi Tiongkol masih belum kokoh.

“Ada banyak ketidakpastian dalam dinamika perubahan pandemi, serta lingkungan eksternal,” ujarnya, seperti dikutip AFP.

Menurut data terbaru, produksi industri pada 2020 tumbuh 2,8% atau melambat lebih jauh dari tahun-tahun sebelumnya.

Angka penjualan ritel, yang pemulihannya tertinggal di belakang aktivitas industri, pun menyusut 3,9% selama setahun penuh. Ini disebabkan oleh konsumen yang mewaspadai pengeluarannya, akibat pandemi Covid-19 yang berlarut-larut.

Hal itu menjadi penanda kontraksi pertama dalam penjualan ritel sejak 1968, sekaligus menegaskan kesulitan di tengah dorongan Tiongkok untuk menyeimbangkan kembali ekonominya dengan konsumsi domestik sebagai pendorong utama.

Di sisi lain, tingkat pengangguran perkotaan tetap di kisaran 5,2%. Namun menurut Ning, jumlah pekerja baru di daerah perkotaan lebih dari 11 juta – melebihi target sembilan juta.

Sementara para ahli mengingatkan pengangguran bisa lebih tinggi dari angka resmi yang ditunjukkan, karena banyaknya orang di angkatan kerja informal Tiongkok.

“Momentum penguatan rebound ekonomi Tiongkok selama Kuartal IV-2020 mencerminkan peningkatan pengeluaran konsumsi swasta serta ekspor bersih yang meningkat,” tutur Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia-Pasifik IHS Markit, kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa ekspor telah dibantu oleh rebound pesanan dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa, termasuk pengiriman peralatan medis selama pandemi.

Tapi Iris Pang, kepala ekonom ING untuk Greater China, mengatakan kendati Tiongkok dapat mencapai pemulihan total, masih ada pertanyaan terbuka. Ini mengingat tanpa stimulus fiskal dan moneter, ekonomi tidak akan pulih pada kecepatan seperti itu.

“Risiko perang teknologi antara Tiongkok dan beberapa negara tetap ada, jika AS tidak menghapus beberapa tindakan.

Sementara itu Louis Kuijs dari Oxford Economics menambahkan, pemberlakuan aturan baru pembatasan pemerintah karena wabah Covid-19 lokal juga dapat menghambat pertumbuhan Kuartal I tahun ini.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN