Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying. ( Foto: fmprc.gov.cn )

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying. ( Foto: fmprc.gov.cn )

Tiongkok Ingin Tata Ulang Hubungan dengan AS

Jumat, 22 Januari 2021 | 06:37 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Tiongkok pada Kamis (21/1) menyampaikan ucapan selamat kepada Joe Biden atas pelantikannya sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat (AS). Tiongkok menyerukan pengaturan ulang hubungan antara kedua negara pascaperiode diplomasi yang buruk di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Selain itu, Tiongkok juga menyambut baik berita bahwa AS akan bergabung kembali dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pakta Iklim Paris. Langkah Biden ini sejalan dengan usahanya untuk segera mengembalikan AS ke peran kunci dalam kepemimpinan global.

Seperti diketahui, di era pemerintahan Trump – yang selalu bersikap bermusuhan – Tiongkok kerap mendapat kecaman atas perdagangan, hak asasi, asal-usul virus Covid-19, supremasi teknologi dan pertahanan. Hal ini berdampak pada hampir setiap hari terjadi pertikaian antara diplomat kedua negara.

Presiden baru AS Biden diprediksi tetap keras terhadap Tiongkok, namun akan melunakkan sikapnya dan berkomitmen pada kerja sama internasional usai periode kebijakan “America First” Trump yang memecah belah.

“Dengan kerja sama dari kedua belah pihak, para 'malaikat' yang lebih baik dalam hubungan Tiongkok-AS akan mengalahkan kekuatan jahat,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying dalam jumpa pers, Kamis, yang dikutip AFP.

Hua menambahkan, Biden telah menggunakan kata persatuan beberapa kali dalam pidato pengukuhannya. “Dan persisnya itu yang dibutuhkan saat ini dalam hubungan AS-Tiongkok. Periode belakangan ini memang sangat sulit,” katanya.

Tiongkok bahkan sempat mengejek Menteri Luar Negeri Mike Pompeo seperti "badut" pada jam-jam terakhir masa jabatannya, sebelum memberikan sanksi kepadanya serta puluhan penasihat dan mantan pejabat di pemerintahan Trump.

“Para pejabat dan anggota keluarga mereka akan dilarang memasuki daratan Tiongkok, Hong Kong dan Makau,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

“Selama beberapa tahun terakhir pemerintahan Trump, terutama Pompeo, telah mengubur terlalu banyak ranjau dalam hubungan AS-Tiongkok yang perlu dihilangkan, membakar terlalu banyak jembatan yang perlu dibangun, dan menghancurkan terlalu banyak jalan yang perlu diperbaiki,” tutur Hua.

Ketegangan Taiwan

Di sisi lain masih ada tanda-tanda ketegangan di depan mata, menyusul undangan resmi terhadap perwakilan dari pulau Taiwan untuk mengahadiri acara pelantikan presiden AS untuk pertama kalinya sejak 1979. Pasalnya, Tiongkok tegas menolak setiap kontak resmi dengan Taiwan dan berusaha menjaga pulau itu tetap terisolasi secara diplomatis.

Utusan Taiwan Hsiao Bi-khim mengunggah video dirinya yang menghadiri pelantikan presiden AS Rabu (20/1). Dia merasa terhormat untuk mewakili rakyat dan Pemerintah Taiwan di sini pada pelantikan Presiden Biden dan Wakil Presiden Harris. Demokrasi adalah bahasa umum kami dan kebebasan merupakan tujuan bersama.

Sebagai informasi, AS telah mengakui Tiongkok atas Taiwan selama era pemerintahan presiden Jimmy Carter pada 20 Januari 1977-20 Januari 1981. Tetapi, AS tetap menjadi sekutu tidak resmi Taiwan yang paling demokratis, dan terikat oleh undang-undang Kongres untuk menjual senjata ke pulau itu guna mempertahankan diri.

Hua pun memperingatkan Tiongkok ingin AS menangani masalah Taiwan dengan hati-hati, dan tepat untuk mencegah kerusakan pada hubungan AS-Tiongkok.

Pemerintahan Biden diperkirakan terus menekan Tiongkok atas perdagangan dan hak asasi manusia, setelah Trump melancarkan perang perdagangan yang memberlakukan tarif miliaran dolar untuk barang-barang asal Negeri Tirai Bambu.

Calon menteri keuangan AS Janet Yellen pada Selasa (19/1) berjanji untuk menangani praktik-praktik Tiongkok yang kejam, tidak adil, dan ilegal dalam perdagangan. Sedangkan calon menteri luar negeri Antony Blinken mengatakan, mendukung deklarasi pendahulunya bahwa Tiongkok melakukan genosida terhadap warga Uighur dan sebagian besar orang Muslim lainnya di Xinjiang.

Biden sendiri memiliki kata-kata yang keras yang ditujukan ke Presiden Tiongkok Xi Jinping ketika dia menjadi kandidat presiden AS pada Februari tahun lalu. Dia menyebut pemimpin Tiongkok itu sebagai "preman" yang "tidak memiliki demokrasi.

Trump di sisi lain memiliki kata-kata yang lebih bersahabat bagi Xi, terlepas perbedaan mereka. Dia menyebut presiden Tiongkok sebagai pemimpin hebat dan orang baik dalam bisnis yang sulit, dalam cuitan Agustus 2019.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN