Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus saat mengadakan konferensi pers virtual tentang Covid-19 (novel coronavirus) dari markas besar WHO di Jenewa, Swiss, pada 5 Januari 2021. ( Foto: World Health Organization / AFP )

Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus saat mengadakan konferensi pers virtual tentang Covid-19 (novel coronavirus) dari markas besar WHO di Jenewa, Swiss, pada 5 Januari 2021. ( Foto: World Health Organization / AFP )

Tiongkok Izinkan WHO Selidiki Asal-Usul Covid

Rabu, 6 Januari 2021 | 07:03 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pada Selasa (5/1) bahwa tim ahli independennya telah diberikan izin berkunjung ke Tiongkok untuk mengeksplorasi asal-usul kemunculan virus corona Covid-19.

Tim beranggotakan 10 orang itu diperkirakan segera tiba untuk melakukan kunjungan selama lima atau enam pekan di Tiongkok. Jadwal tersebut termasuk dua pekan karantina yang akan dijalani tim. Namun, saat dimintai keterangan mengenai rencana kedatangan tim dari WHO, Pemerintah Tiongkok menolak memberikan tanggal pasti dan rincian kunjungan. Penolakan ini menjadi pertanda sensitifnya misi yang mereka jalani.

Perjalanan WHO baru dapat dilakukan setahun setelah pandemi virus corona Covid-19 menyebar, karena dibayangi oleh tuduhan menutup-nutupi, konspirasi, dan kekhawatiran akan menutupi kesalahan.

Bahkan, Tiongkok sempat menjadi sorotan dunia karena menunda akses para ahli independen ke Negeri Tirai Bambu guna menyelidiki asal-usul pandemi. Pihak berwenang juga menyatakan enggan menyetujui penyelidikan tersebut.

Sebagai informasi, Covid-19 pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan pada akhir 2019, sebelum merembet ke luar perbatasan Tiongkok untuk menyebarkan malapetaka, hingga menelan korban jiwa lebih dari 1,8 juta jiwa dan melemahkan ekonomi global.

Asal-usul kemunculannya virus corona ini sendiri masih menjadi perdebatan sengit. Pembahasannya masih berkutat soal tuduhan dan dugaan dari komunitas internasional, serta kebingungan otoritas Tiongkok yang berkeras mempertahankan versi kisah virusnya.

Namun, tim WHO berjanji hanya akan fokus pada sains, khususnya tentang bagaimana virus corona menular dari hewan – yang diyakini kelelawar – ke manusia.

“Ini bukan soal menentukan negara yang bersalah atau otoritas yang bersalah. Ini tentang memahami apa yang terjadi untuk menghindari hal itu di masa depan, untuk mengurangi risiko,” ujar Fabian Leendertz dari Robert Koch Institute, pusat badan pengendalian penyakit Jerman, yang ikut di antara anggota tim, kepada AFP pada akhir Desember tahun lalu.

Di sisi lain masih ada keraguan atas apa yang dapat diharapkan dalam misi WHO mengingat apa yang dicapai dan tekanan negara yang akan dihadapi. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa misi tersebut akan menjadi pembenaran akan cerita resmi Tiongkok, dibandingkan menolaknya.

Petugas medis sedang memeriksa informasi usai mereka mengambil sampel swab dari orang yang akan diuji untuk coronavirus novel COVID-19 di Wuhan, provinsi Hubei tengah, Tiongkok pada 16 April 2020. ( Foto: Hector RETAMAL / AFP )
Petugas medis sedang memeriksa informasi usai mereka mengambil sampel swab dari orang yang akan diuji untuk coronavirus novel COVID-19 di Wuhan, provinsi Hubei tengah, Tiongkok pada 16 April 2020. ( Foto: Hector RETAMAL / AFP )

Bukan yang Pertama

Kedatangan tim WHO ke Tiongkok untuk penyelidikan Covid-19, bukan kali pertama dilakukan. Pada tahun lalu, diluncurkan misi untuk melihat respons pihak berwenang mengenai asal virus. Misi lainnya yang dilakukan pada musim panas adalah bertujuan meletakkan dasar-dasar penyelidikan yang akan datang.

Yang berbeda dari misi-misi sebelumnya adalah kali ini WHO bakal memasuki rawa kepentingan yang saling bersaing. WHO akan terjebak di antara negara-negara Barat yang menuduh dan kepemimpinan Tiongkok yang bertekad untuk menunjukkan, bahwa sistem politik rahasia dan hierarkinya berfungsi untuk membendung, bukan menyebarkan, wabah itu.

Selain itu, tidak diketahui secara jelas tentang siapa yang dapat ditemui para ahli ketika tim WHO tiba di Wuhan untuk menelusuri kembali hari-hari dan pekan-pekan awal pandemi. Apalagi para pelapor dan jurnalis di Tiongkok telah dibungkam atau berada dalam penjara, termasuk seorang wanita berusia 37 tahun yang dijatuhi hukuman oenjara 4 tahun pada pekan lalu atas laporan video pemberitaan dari kota tersebut selama pemberlakuan karantin (lockdown) berkepanjangan.

Di luar itu, tanggung jawab atas virus telah dijadikan senjata. Sejak awal, Presiden AS Donald Trump memanfaatkan kemunculan virus corona sebagai gada politik untu k melawan Tiongkok. Dia menuduh Tiongkok berusaha menyembunyikan wabah, yang disebut sebagai "virus Tiongkok", dan berulang kali menyebarkan desas-desus tidak berdasar mengenai kebocoran di laboratorium Wuhan.

Trump juga menarik AS keluar dari WHO, karena dituding bersikap lunak terhadap Tiongkok. Namun, para kritikus mengatakan bahwa gelombang badai tuduhan ini dipandang sebagai usaha untuk mengalihkan perhatian dari respons ceroboh AS dalam menangani krisis yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 350.000 warga Amerika.

“Tanpa itu semua, banyak situasi yang kami alami pada Januari 2020 tidak akan berjalan seperti itu,” kata salah satu kritikus.

Geopolitik Kalahkan Kesehatan

Menurut Ilona Kickbusch, dari Pusat Kesehatan Global di Graduate Institute of International and Development Studies di Jenewa, Swiss, isu geopolitik lah yang menempatkan dunia dalam situasi sekarang ini.

Jika politik dan krisis kesehatan luar biasa terus digabungkan, para ahli mengkhawatirkan kerugian yang mendalam pada perang melawan pandemi yang tidak mengenal batas.

“Ada perasaan dunia dalam kekacauan. Jika kepercayaan terhadap kesehatan global habis, itu akan membuatnya begitu sangat sulit untuk bekerja sama,” kata Kickbusch.

Dalam semangatnya, WHO mengatakan para ahli internasionalnya diharapkan dapat menambah, bukannya menduplikasi, upaya yang sedang berlangsung atau yang ada selama kunjungan ke Tiongkok. Ini berartu tim tidak akan menyelidiki penelitian yang telah disediakan oleh para ilmuwan setempat.

“Saya tidak optimis. Jejaknya sekarang dingin,” tambah Profesor Gregory Gray dari Divisi Penyakit Menular Universitas Duke, tentang kemungkinan para ahli luar negeri melacak asal hewan virus tersebut.

Tetapi perjalanan itu mungkin tidak sepenuhnya sia-sia. Bahkan Gray menekankan perjalanan ini kemungkinan dapat meletakkan dasar untuk pengawasan berkelanjutan ketika wabah virus kembali melanda di masa depan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN