Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bitcoin dan mata uang yuan Tiongkok. ( Foto: coindesk.com / Shutterstock )

Ilustrasi bitcoin dan mata uang yuan Tiongkok. ( Foto: coindesk.com / Shutterstock )

Tiongkok: Semua Transaksi Kripto Ilegal

Sabtu, 25 September 2021 | 06:19 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id - Bank sentral Tiongkok atau PBoC pada Jumat (24/9) menyatakan semua transaksi keuangan yang melibatkan mata uang kripto (cryptocurrency) adalah ilegal. Pernyataan ini seperti membunyikan lonceng kematian bagi perdagangan uang digital di Tiongkok, menyusul tindakan keras terhadap mata uang digital yang memiliki volatilitas tersebut.

Nilai global cryptocurrency termasuk Bitcoin telah berfluktuasi secara besar-besaran selama beberapa tahun terakhir karena peraturan pemerintah Tiongkok, yang berusaha mencegah spekulasi dan pencucian uang.

"Aktivitas bisnis terkait mata uang virtual adalah aktivitas keuangan ilegal," kata PBoC dalam sebuah pernyataan, disampaikan secara daring pada Jumat (24/9), yang dikutip AFP.

Pihaknya menambahkan bahwa pelanggar akan diselidiki karena kejahatan dan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan undang-undang.

Pemberitahuan tersebut melarang semua aktivitas keuangan terkait yang melibatkan mata uang kripto, seperti perdagangan kripto, penjualan token, transaksi yang melibatkan derivatif mata uang virtual, serta apa yang disebut oleh pemerintah Tiongkok sebagai penggalangan dana ilegal.

Bitcoin, yang telah jatuh sebelum pengumuman tersebut, merosot sebanyak 7,57% ke level US$ 41.320 pada 12:35 GMT. Sekitar 10:30 GMT, mata uang itu diperdagangkan turun 5,0% ke angka US$ 42.464.

Bank sentral Tiongkok menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir perdagangan Bitcoin dan mata uang virtual lainnya telah meluas.

"(Dan telah) Mengganggu ketertiban ekonomi dan keuangan, menimbulkan pencucian uang, penggalangan dana ilegal, penipuan, skema piramida, hingga kegiatan ilegal dan kriminal lainnya. (Ini) sangat membahayakan keselamatan aset rakyat," bunyi pernyataan tersebut.

Sebelumnya, pembuatan dan perdagangan kripto telah dinyatakan ilegal di Tiongkok sejak 2019. Namun tindakan keras lebih lanjut tahun ini oleh pemerintah Tiongkok memperingatkan perbankan untuk menghentikan transaksi terkait dan menutup hampir semua jaringan penambang besar bitcoin negara itu.

Pernyataan Jumat oleh bank sentral mengirimkan sinyal terkuat bahwa pemerintah Tiongkok tertutup terhadap aset kripto.

Kontrol

Bitcoin, mata uang digital terbesar di dunia, dan kripto lainnya tidak dapat dilacak oleh bank sentral suatu negara, sehingga sulit diatur dalam undang-undang.

Kalangan analis mengatakan, pemerintah Tiongkok khawatir dengan proliferasi investasi gelap dan penggalangan dana dari cryptocurrency di ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Sementara Tiongkok juga memiliki aturan ketat seputar arus keluar modal.

Tindakan keras atas mata uang kripto juga membuka pintu bagi pemerintah Tiongkok untuk memperkenalkan mata uang digitalnya sendiri, yang sudah ada dalam rencana. Hal ini akan memungkinkan pemerintah pusat untuk memantau arus transaksi.

Pada Juni 2021, pejabat Tiongkok mengatakan lebih dari 1.000 orang telah ditangkap karena menggunakan keuntungan dari tindak kejahatan untuk membeli cryptocurrency.

Beberapa provinsi utama Tiongkok melarang pengoperasian tambang cryptocurrency sejak awal tahun ini. Salah satunya wilayah yang menyumbang 8% dari daya komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan blockchain global, yakni set buku besar daring untuk mencatat transaksi bitcoin.

Nilai Bitcoin jatuh pada Mei 2021 karena peringatan oleh pemerintah Tiongkok kepada investor terhadap perdagangan spekulatif dalam cryptocurrency.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN