Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan sedang mengerjakan pesawat pesawat Boeing 737 MAX di pabrik Boeing Renton, di Renton, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat (AS), pada 27 Maret 2019. ( Foto: Jason Redmond / AFP )

Karyawan sedang mengerjakan pesawat pesawat Boeing 737 MAX di pabrik Boeing Renton, di Renton, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat (AS), pada 27 Maret 2019. ( Foto: Jason Redmond / AFP )

UE Izinkan Boeing 737 MAX Mengudara Pekan Depan

Rabu, 20 Januari 2021 | 06:17 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency/EASA) berencana mengizinkan pesawat Boeing 737 MAX mengudara kembali pada pekan depan, setelah selama 22 bulan dilarang beroperasi (grounded) pasca dua kecelakaan fatal.

“Bagi kami, MAX akan bisa terbang lagi mulai minggu depan. Kami telah mencapai titik di mana empat tuntutan utama kami telah dipenuhi, setelah instruksi dipublikasikan,” ujar Direktur EASA Patrick Ky dalam konferensi video yang diselenggarakan oleh asosiasi jurnalis penerbangan Jerman, yang dikutip AFP, Selasa (19/1).

Sebelumnya, MAX dilarang terbang pada Maret 2019 menyusul dua kecelakaan yang menewaskan 346 orang, yakni pada kecelakaan Lion Air 2018 di Indonesia dan kecelakaan Ethiopian Airlines pada tahun berikutnya.

Tim penyelidik mengatakan, penyebab utama kedua kecelakaan itu adalah akibat kesalahan sistem penanganan penerbangan, yakni sistem anti-stall atau Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

MCAS adalah sebuah sistem yang dirancang bekerja secara otomatis meski pesawat terbang manual (autopilot mati), dengan mengarahkan hidung pesawat ke bawah ketika pesawat dalam keadaan bahaya atau kehilangan kecepatan di udara

Sistem dimaksudkan menjaga agar pesawat tidak terhenti saat naik, tapi sistem otomatis malah memaksa hidung pesawat mengarah ke bawah. Temuan itu membuat Boeing mengalami krisis, dan berdampak pada pembatalan lebih dari 650 pesanan 737 MAX sejak tahun lalu.

Administrasi Penerbangan Federal AS atau Federal Aviation Administration (FAA) pun memerintahkan Boeing untuk memperbaiki sistem pesawat dan menerapkan protokol pelatihan pilot baru, sebelum akhirnya menyetujui pesawat untuk kembali beroperasi pada November.

Ky sendiri telah mengindikasikan pada Oktober, kemungkinan besar persetujuan baru diberikan oleh UE setelah Boeing berjanji menambah sensor baru untuk mencegah masalah serupa yang menyebabkan kecelakaan itu.

Kegagalan

Persetujuan dari EASA berarti maskapai penerbangan di seluruh dunia dapat kembali menggunakan pesawat 737 MAX untuk penerbangan ke dan dari Eropa.

Brasil juga telah mengizinkan pesawat 737 MAX untuk digunakan dalam penerbangan. Sementara itu, pihak berwenang Kanada mengatakan pekan ini, bahwa persetujuan kemungkinan akan segera diberikan pada Rabu (20/1).

Sebagai informasi, krisis yang melanda 737 MAX telah diperparah dengan kacaunya lalu lintas perjalanan udara karena wabah virus corona Covid-19. Hal ini mendorong Boeing untuk memangkas puluhan ribu pekerja, dan memicu perombakan kepemimpinan.

Pesawat ini dimaksudkan menjadi andalan Boeing yang hemat bahan bakar di pasar yang sangat kompetitif bagi pesawat jet berbadan sempit. Apalagi, rivalnya di Eropa, Airbus telah sangat sukses dengan keluarga pesawat A320 untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah.

Chief Executive Officer (CEO) baru Boeing David Calhoun, pada bulan ini mengakui bahwa pihaknya telah gagal memenuhi nilai dan ekspektasi, setelah perusahaan setuju membayar denda US$ 2,5 miliar untuk menyelesaikan tuduhan kriminal AS yang menipu regulator.

Boeing juga mendapat dorongan pada Desember tahun lalu, ketika maskapai penerbangan Irlandia, Ryanair mengatakan telah memesan 75 lebih pesawatnya. Ini adalah pesanan besar pertama sejak 737 MAX dilarang terbang.

Perusahaan berharap program vaksinasi Covid-19 akan membantu meningkatkan keuntungannya tahun ini, setelah Boeing hanya bisa mengirimkan 157 pesawat pada tahun lalu atau merosot 59%.

“Pada 2021, kami akan terus mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan budaya keselamatan kami, menjaga likuiditas, dan mengubah bisnis kami untuk masa depan,” kata Chief Financial Officer (CFO) Greg Smith awal bulan ini.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN