Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor pusat Unilever di Rotterdam, Belanda. Raksasa produsen barang kebutuhan konsumen, Unilever mengatakan telah menjadi perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Inggris pada 30 November 2020 . ( Foto: John Thys / AFP )

Kantor pusat Unilever di Rotterdam, Belanda. Raksasa produsen barang kebutuhan konsumen, Unilever mengatakan telah menjadi perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Inggris pada 30 November 2020 . ( Foto: John Thys / AFP )

Unilever Sepenuhnya Dimiliki Inggris

Selasa, 1 Desember 2020 | 07:27 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Raksasa produsen barang kebutuhan konsumen, Unilever mengatakan telah menjadi perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Inggris. Pernyataan yang disampaikan pada Senin (30/11) menunjukkan telah selesainya proses merger (penggabungan) bersejarah antara korporat Belanda dan Inggris yang bertujuan mengakhiri struktur berkepala dua.

Pihak perusahaan juga menegaskan tidak akan ada perubahan pada tingkat operasi, lokasi, aktivitas, dan stafnya.

Sebagai informasi, Unilever didirikan pada 1930 setelah produsen margarin Belanda, Margarien Unie bergabung dengan produsen sabun Inggris Lever Brothers. Namun sampai sekarang masih mempertahankan struktur berkepala dua.

Dengan mengusung nama baru Unilever PLC, maka grup perusahaan ini akan berkantor pusat di London di bawa strategi unifikasi yang dirancang lebih responsif terhadap tantangan ekonomi, termasuk virus corona. Ini dikarenakan Unilever mendapat permintaan tinggi untuk produk-produk pembersih tangan dan pembersih rumah tangga selama pandemi Covid-19.

“Unilever dengan bangga mengumumkan penyelesaian penyatuan struktur hukum grupnya di bawah perusahaan induk tunggal, Unilever PLC. Mulai hari ini, dan untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, Unilever sekarang berdagang dengan satu kapitalisasi pasar, satu kelas saham, dan satu kelompok likuiditas global, sambil juga mempertahankan daftar grup di bursa saham Amsterdam, London, dan New York,” demikian menurut pernyataan yang dikutip AFP, Senin.

Para pemegang saham pun sudah menyampaikan sangat menyetujui langkah tersebut pada September, setelah grup perusahaan mengumumkan rencananya pada Juni. Pernyatan korporat menyebutkan, entitas perusahaan Belanda, Unilever NV sudah tidak ada lagi pada Minggu (29/11).

“Ini adalah hari penting bagi Unilever, dan kami ingin berterima kasih kepada para pemegang saham kami atas dukungan kuat mereka terhadap proposal Unifikasi kami, yang memberi kami fleksibilitas yang lebih besar untuk perubahan portofolio strategis, menghilangkan kompleksitas dan lebih meningkatkan tata kelola,” ujar Chairman Unilever Nils Andersen.

Ditambahkan dalam pernyataan, bahwa divisi makanan dan minuman perusahaan akan terus berbasis di Rotterdam. Sedangkan Inggris akan terus menjadi basis untuk divisi perawatan rumah serta divisi kecantikan dan perawatan tubuh.

Perusahaan – yang juga memproduksi sabun Dove dan es krim Magnum – ini telah berusaha memindahkan basis perusahaannya dari London ke pelabuhan Rotterdam di Belanda pada 2018. Namun, perusahaan tersebut harus mundur setelah ada pemberontakan oleh para pemegang saham di Inggris.

Menanggapi keberhasilan merger Unilever, analis ekuitas Hargreaves Lansdown Sophie Lund-Yates mengatakan bahwa langkah itu akan membuat perusahaan lebih mudah merampingkan operasi, dengan bayang-bayang ketidakpastian yang disebabkan oleh virus corona Covid-19 dan Brexit.

“Motivasi terbesar untuk pencatatan saham (listing) tunggal adalah untuk membuat perampingan bisnis menjadi tugas yang lebih mudah. Virus corona telah membuat hidup jauh lebih rumit, dan aliran pendapatan menjadi kurang pasti di saat Unilever sudah menghadapi penjualan yang lamban. Struktur perusahaan induk tunggal hanyalah alat dalam gudang persenjataannya yang akan memungkinkan grup untuk melenturkan portofolionya secara lebih efisien,” katanya kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa iklim ketidakpastian saat ini mungkin telah bertindak sebagai katalisator terhadap perubahan ini, walau ini tidak mungkin menjadi satu-satunya alasan.

“Grup harus lebih gesit untuk mengamankan pertumbuhan jangka panjang, itulah sebabnya kami melihat pemisahaan perusahaan ada yang menjadi dua (demerger) terhadap bisnis teh. Ini lebih kepada strategi peremajaan jangka panjang daripada langkah politik,” tutur Lund-Yates.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN