Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden membicarakan bantuan Covid-19 dengan didampingi oleh Wakil Presiden AS Kamala Harris (kiri) dan Menteri Keuangan AS Janet Yellen (kanan) di ari Ruang Makan Negara Gedung Putih pada 5 Februari 2021, di Washington, DC. ( Foto: Brendan Smialowski / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden membicarakan bantuan Covid-19 dengan didampingi oleh Wakil Presiden AS Kamala Harris (kiri) dan Menteri Keuangan AS Janet Yellen (kanan) di ari Ruang Makan Negara Gedung Putih pada 5 Februari 2021, di Washington, DC. ( Foto: Brendan Smialowski / AFP )

Upah Minimum US$ 15 Tak Masuk Stimulus US$ 1,9 Triliun

Senin, 8 Februari 2021 | 06:23 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengungkapkan, kenaikan upah minimum nasional menjadi US$ 15 per jam seperti yang ia janjikan kemungkinan tidak dapat masuk ke dalam paket stimulus Covid-19 yang senilai US$ 1,9 triliun. Alasannya, karena ada aturan Senat AS.

“Dugaan saya tidak akan masuk. Tapi saya berpendapat kita harus memiliki upah minimum, yang tersendiri, sebesar US$ 15 per jam,” ujar Biden, dalam wawancara dengan CBS, dan dikutip Reuters, akhir pekan lalu.

Penaikan upah minimum dari US$ 7,25 per jam itu akan menabrak aturan Senat tentang rekonsiliasi. Sedangkan prosedur kedewanan tersebut menjadi instrumen yang dipakai kubu Partai Demokrat untuk meloloskan paket stimulus besar-besaran tersebut walau tanpa dukungan kubu Partai Republik di Senat.

Biden mengatakan, dirinya akan mempersiapkan negosiasi terpisah mengenai penaikan upah tersebut. Yang mana ia yakin hal itu akan disetujui.

“Tidak boleh orang bekerja sampai 40 jam per minggu tapi hidup di bawah garis kemiskinan. Dan jika mereka berpenghasilan kurang dari US$ 15 per jam, mereka hidup di bawah garis kemiskinan,” kata Biden.

Namun tidak masuknya upah minimum US$ 15 per jam dari paket stimulus tersebut akan melanggar janji utama Biden saat kampanye pilpres. Sehingga ia akan mendorong rancangan undang-undang terpisah untuk dapat memenuhi janji tersebut. “Saya sudah memasukkannya (dalam paket stimulus) tapi saya pikir tidak akan lolos,” kata Biden.

Kedua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi mengatakan akhir pekan lalu, pihaknya menargetkan pengesahan paket stimulus fiskal tersebut dalam tempo dua pekan. Resolusi anggaran ini akan mengarahkan komisi-komisi untuk menyusun legislasi yang mencerminkan paket stimulus Covid-19 dan masih di bawah target US$ 1,9 triliun.

Kubu Demokrat menargetkan pengesahan tunjangan tunai US$ 1.400 per individu, tunjangan pengangguran US$ 400 per minggu hingga September 2021, dana bantuan US$ 350 miliar untuk pemerintah negara bagian, pemerintah lokal, dan dewan adat, US$ 20 miliar untuk program vaksinasi Covid nasional, dan US$ 50 miliar untuk pengetesan virus Covid-19.

Stimulus tersebut juga diharapkan mencakup US$ 170 miliar untuk lembaga-lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Serta US$ 30 miliar untuk bantuan sewa tempat tinggal serta tagihan listrik, air, dan gasnya.

Keberatan Republik

Sementara keberatan kubu Republik antara lain penaikan upah minimum. Yang dikhawatirkan semakin membebani para pengusaha yang sudah terpukul oleh dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian.

Senator Demokrat Joe Manchin juga menolak penaikan upah minimum tersebut. Yang berarti tidak akan mendapatkan cukup suara untuk meloloskan stimulus itu di Senat, sekalipun dengan mengambil rekonsiliasi akan mendapatkan mayoritas sederhana.

Atas dasar itu lah Biden berjanji untuk memprioritaskan penaikan upah US$ 15 per jam dapat terwujud lewat legislasi terpisah.

“Sebagai presiden Amerika Serikat, saya siap untuk menegosiasikan upah minimum secara terpisah agar naik dari yang sekarang,” kata Biden.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN