Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak. ( Foto: BEN STANSALL / AFP )

Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak. ( Foto: BEN STANSALL / AFP )

Utang Inggris Bertambah 400 Miliar Pound

Kamis, 26 November 2020 | 07:36 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Utang Inggris akan bertambah 400 miliar pound di tahun ini, karena pemerintah harus memenuhi belanja terkait penanggulangan pandemi Covid-19. Akibatnya, defisit anggaran pemerintah juga mencapai rekor tertinggi di luar era perang.

Menteri Keuangan (Menkeu) Inggris Rishi Sunak menyampaikan, ekonomi akan berkontraksi 11,3% pada 2020. Ini akan menjadi kontraksi terbesar sejak The Great Frost pada 1709. Tapi tahun depan, kata Sunak, ekonomi Inggris berpotensi berbalik tumbuh sebesar 5,5%.

“Darurat kesehatan kita belum berakhir. Dan darurat ekonomi baru saja dimulai,” ujar Sunak kepada Parlemen Inggris, Rabu (25/11), seperti dikutip AFP.

Ia berjanji pemerintah akan menambah dana bantuan kesehatan dan untuk memerangi pengangguran. Badan Anggaran Inggris atau Office for Budget Responsibility (OBR) memperkirakan utang pada tahun finansial 2020-2021 mencapai 394 miliar pound.

Angka itu sedikit lebih tinggi dari prediksi pada Agustus 2020. Tahun finansial Inggris dimulai sejak bulan April.

Jumlah utang tersebut setara 19% produk domestik bruto (PDB). Yang berarti hampir dua kali lipat sejak krisis finansial global 2008-2009. Inggris membutuhkan waktu hampir 10 tahun untuk menurunkan rasio utang tersebut lewat kebijakan-kebijakan pemangkasan belanja.

Sebagai perbandingan, utang Inggris pada tahun finansial 2019-2020 -yang berakhir saat Inggris mulai terdampak Covid-19 – hanya setara 2,5% PDB.

Karena menjalankan karantina nasional yang panjang, Inggris paling terdampak Covid-19 secara ekonomi dibandingkan sebagian besar negara-negara kaya lainnya di dunia. Jumlah kematian akibat Covid-19 di Inggris hampir sebanyak 56.000 orang atau tertinggi di Eropa.

OBR memperkirakan ekonomi akan kembali ke kondisi sebelum krisis pada akhir 2022. Atau lebih lama lagi jika Inggris gagal mencapai kesepakatan perdagangan pasca-Brexit dengan Uni Eropa (UE).

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN