Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi dolar AS

Ilustrasi dolar AS

Utang Pemerintah Global 2022 Melonjak Hampir 10% ke Level Tertinggi Baru

Rabu, 6 April 2022 | 09:49 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Utang pemerintah global akan naik 9,5% tahun ini ke rekor US$ 71,6 triliun, didorong oleh utang Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok. Hal ini diungkapkan oleh perusahaan manajemen aset Janus Henderson dalam sebuah laporan pada Rabu (6/4/2022).

Pemerintah-pemerintah di seluruh dunia telah meningkatkan pinjaman sejak pandemi Covid-19 meletus dua tahun lalu, ketika mereka mencoba melindungi ekonomi mereka dari kejatuhan.

Itu membuat utang pemerintah global mencapai rekor US$ 65,4 triliun pada 2021, dibandingkan dengan US$ 52,2 triliun pada Januari 2020, kata Janus Henderson. Utang Tiongkok naik tercepat dan terbesar dalam bentuk tunai, naik seperlima atau US$ 650 miliar tahun lalu.

Di antara ekonomi besar dan maju, Jerman mengalami peningkatan terbesar dalam persentase, dengan jumlah utang meningkat sebesar 15%, hampir dua kali lipat kecepatan rata-rata global.

Menurut Janus Henderson, utang pemerintah telah meningkat tiga kali lipat dalam dua dekade terakhir, tetapi faktor yang meringankan adalah biaya pembayaran utang yang rendah.

Dengan tingkat bunga efektif pada semua utang pemerintah dunia turun menjadi 1,6% tahun lalu dari 1,8% pada 2020, biaya pembayaran utang turun menjadi US$ 1,01 triliun.

Informasi lain dalam laporan itu menyebutkan, pemulihan ekonomi global yang kuat berarti rasio utang terhadap PDB global meningkat menjadi 80,7% pada tahun 2021 dari 87,5% pada tahun 2020.

Namun sekarang, biaya utang dapat meningkat tajam. Perusahaan manajemen aset ini memperkirakan beban bunga global meningkat hampir 15% dengan basis mata uang konstan menjadi US$ 1,16 triliun pada 2022.

"Dampak terbesar akan dirasakan di Inggris berkat kenaikan suku bunga, dampak inflasi yang lebih tinggi pada sejumlah besar utang terkait indeks Inggris, dan biaya untuk menghentikan program pelonggaran kuantitatif (QE)," laporan tersebut mengatakan.

"Ketika suku bunga naik, ada biaya fiskal yang signifikan terkait dengan pelonggaran QE. Bank-bank sentral akan mengkristalkan kerugian pada kepemilikan obligasi mereka yang harus dibayar oleh pembayar pajak."

Bank sentral Inggris (BoE) telah menaikkan suku bunga tiga kali sejak Desember menjadi 0,75%. Pasar keuangan memperkirakan suku bunga mencapai 2% pada akhir tahun ini.

Dengan lonjakan inflasi dan investor mengantisipasi suku bunga yang lebih tinggi dari bank-bank sentral utama, imbal hasil obligasi pemerintah juga meningkat tajam.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun, misalnya, naik hampir 100 basis poin tahun ini menjadi 2,45%.

Laporan Janus Henderson mengatakan, pasar obligasi pemerintah global memberikan pengembalian total -1,9% pada tahun 2021, hanya keempat kalinya dalam 35 tahun mengalami penurunan.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN