Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perawat Naomi Walsh (kanan) memberikan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech kepada Bernice Wainer (82 tahun) di rumah sakit Royal Free, London pada 8 Desember 2020 , dalam program awal vaksinasi terbesar di Inggris. ( Foto: Jack Hill / POOL / AFP )

Perawat Naomi Walsh (kanan) memberikan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech kepada Bernice Wainer (82 tahun) di rumah sakit Royal Free, London pada 8 Desember 2020 , dalam program awal vaksinasi terbesar di Inggris. ( Foto: Jack Hill / POOL / AFP )

Vaksin Pfizer-BioNTech Tidak untuk yang Alergi Berat

Kamis, 10 Desember 2020 | 07:34 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Regulator kesehatan Inggris atau Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) pada Rabu (9/12) menyarankan orang yang memiliki riwayat alergi-alergi berat untuk tidak mendapatkan vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. Setelah dua orang dimaksud mengalami reaksi tidak cocok yang parah pada hari pertama vaksinasi di Inggris.

Inggris memulai vaksinasi massal Covid-19 pada Selasa (8/12). Dengan penerima pertama adalah orang-orang tua dan para tenaga kesehatan.

Direktur Medis Badan Layanan Kesehatan Nasional Inggris atau National Health Service (NHS) Stephen Powis mengatakan pada Rabu, saran telah diubah setelah dua pegawai NHS dilaporkan mengalami reaksi anafilaktoid setelah menerima vaksin tersebut.

“Selayaknya bila ada vaksin-vaksin baru, demi pencegahan MHRA menyarankan orang-orang dengan riwayat reaksi alergi berat untuk tidak menerima vaksinasi ini, setelah dua orang dengan riwayat reaksi alergi berat itu menunjukkan respons ketidakcocokan kemarin. Tapi keduanya sudah memulih dengan baik,” tutur Powis, seperti dikutip Reuters.

MHRA menyatakan akan menggali informasi lebih lanjut dan pihak Pfizer serta BioNTech menyatakan dukungannya atas investigasi MHRA.

MHRA pekan lalu menjadi regulator pertama di dunia yang memberi persetujuan edar kepada umum untuk vaksin buatan Pfizer dari Amerika Serikat (AS) dan mitranya dari Jerman BioNTech. Sedangkan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA) dan Badan Pengawas Obat-obatan Eropa atau European Medicines Agency (EMA) masih menganalisis data vaksin tersebut.

“Malam lalu, kami memeriksa dua laporan kasus reaksi alergi. Dari sisi uji klinis sangat ekstensif kami tahu bahwa ini tidak terjadi,” kata CEO MHRA June Raine, kepada Parlemen Inggris.

Sudah Dikesampingkan

Pfizer menyatakan bahwa orang-orang dengan riwayat reaksi alergi berlawanan yang berat terhadap vaksin atau bahan-bahan kandidatnya sudah dikesampingkan dari uji klinis tahap akhir. Hal ini juga sudah termuat dalam protokol persetujuan darurat MHRA.

Arahan baru MHRA, yang sudah langsung disebarkan kepada para profesional kesehatan, menyatakan bahwa segmen yang jauh lebih luas jangan dulu menerima vaksin tersebut.

“Setiap orang dnegan riwayat reaksi alergi berat terhadap sebuah vaksin, obat-obatan atau pun makanan, seperti riwayat reaksi anafilaktoid sebelumnya, atau mereka yang disarankan memakai injektor otomatis adrenalin, jangan menerima vaksin Pfizer-BioNTech,” tutur MHRA.

Regulator itu juga meminta ada fasilitas-fasilitas penyadaran kembali untuk seluruh vaksinasi. Di AS, FDA pada Selasa waktu setempat merilis dokumen persiapan untuk pertemuan komisi penasihat pada Kamis (10/12) waktu setempat, yang menyatakan bahwa data kemanjuran dan keselamatan vaksin Pfizer sudah memenuhi ketentuan otorisasi.

Dokumen itu menyebutkan bahwa 0,63% relawan dalam kelompok vaksin dan 01% relawan dalam kelompok plasebo dilaporkan menunjukkan reaksi seperti alergi selama pengujian. Menurut Peter Openshaw, profesor obat-obatan eksperimental di Imperial College London, proporsi tersebut sangat kecil.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN