Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek New York (NYSE). (FOTO: AFP)

Bursa Efek New York (NYSE). (FOTO: AFP)

Wall Street Jatuh, Data Pekerjaan Kuat Jaga Tekanan Kenaikan Suku Bunga

Sabtu, 4 Juni 2022 | 07:14 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id - Tiga indeks saham utama Wall Street lebih rendah pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Setelah laporan pekerjaan AS yang kuat mendukung harapan untuk jeda dalam pengetatan kebijakan agresif Federal Reserve (Fed) yang diperlukan untuk mendinginkan inflasi yang tinggi selama beberapa dekade.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 348,58 poin atau 1,05%, menjadi menetap di 32.899,70 poin. Indeks S&P 500 tergerus 68,28 poin atau 1,63%, menjadi berakhir di 4.108,54 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup anjlok 304,17 poin atau 2,47%, menjadi 12.012,73 poin.

Advertisement

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor konsumen non-primer dan teknologi masing-masing tergelincir 2,85% dan 2,48%, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi terangkat 1,4%, satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.

Untuk minggu ini Indeks S&P 500 turun 1,2%, sementara Indeks Dow Jones dan Indeks Nasdaq masing-masing kehilangan hampir 1%, setelah ketiga indeks naik tajam minggu sebelumnya.

Baca juga: Harga CPO Bergerak Mixed di Akhir Pekan

Indeks Nasdaq yang sarat teknologi memimpin penurunan, karena saham kelas berat di pasar Apple Inc dan Tesla Inc menjadi penekan terbesar di pasar.

Sebelumnya, laporan Departemen Tenaga Kerja yang diawasi ketat menunjukkan angka penggajian non-pertanian (NFP/Non-Farm Payrolls) naik 390 ribu pekerjaan bulan lalu dan upah tumbuh, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 3,6%, semua tanda pasar tenaga kerja yang ketat.

Para ekonom yang disurvei oleh Reuters telah memperkirakan bahwa angka penggajian non-pertanian akan naik 325 ribu pekerjaan. Sementara laporan pekerjaan meyakinkan untuk keadaan ekonomi saat ini, investor berfokus terutama pada pengaruh potensialnya terhadap kebijakan bank sentral.

"Pasar mencoba menyalurkan responsnya melalui apa yang mungkin atau mungkin tidak dilakukan The Fed," kata Kepala Ekonom ADP Nela Richardson, yang memperkirakan pasar akan terus jungkir balik sebagai akibat dari ketidakpastian seputar suku bunga dan inflasi dikutip dari Antara, Sabtu (4/6/2022).

Kepala Strategi Investasi Citi Personal Wealth Management, Shawn Snyder, melihat laporan yang kuat sebagai pedang bermata dua.

Baca juga: Minyak Naik Walau OPEC+ Bakal Naikkan Produksi

"Ini memberi tahu kita bahwa ekonomi berada dalam kondisi yang cukup baik yang merupakan kabar baik, tetapi jika dilihat dalam konteks apa artinya bagi Federal Reserve dan pengetatan kebijakan moneter, hal itu kemungkinan membuat mereka lebih percaya diri bahwa mereka dapat terus melakukan pengetatan," katanya.

"Itu muncul sebagai sedikit negatif bagi investor karena mereka berharap The Fed akan berhenti akhir tahun ini."

Pasar uang sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga 50 basis poin oleh Fed pada Juni dan Juli.

Sementara kenaikan pendapatan per jam pada laporan Mei yang lebih lambat dari perkiraan tampak seperti kabar baik untuk inflasi, Snyder menyebutkan kenaikan harga minyak sebagai faktor penyeimbang.

Volatilitas telah mencengkeram Wall Street dalam beberapa pekan terakhir karena investor memperdebatkan apakah pasar telah mencapai titik terendah dengan latar belakang beberapa komentar hawkish dari pejabat Fed dan data yang menunjukkan bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya.

Baca juga: Pentingnya Justice Transition bagi Industri Batu Bara demi Keberlanjutan 

"Untuk saat ini, ekonomi terlihat baik-baik saja. Dan pasar tenaga kerja sebagai sinyal ekonomi riil di Main Street terlihat sangat solid," kata Richardson dari ADP, seraya menambahkan bahwa dia melihat inflasi sebagai ‘ancaman terhadap pandangan itu’ bahkan jika inflasi itu mungkin telah mencapai puncaknya.

"Puncaknya kurang relevan dibandingkan dengan daya tahan inflasi dan tingkat kenaikan. Itulah mengapa upah dalam laporan ini sangat material. Sementara pertumbuhan upah mungkin tidak mendorong inflasi melewati puncaknya, itu bisa memainkan peran kuat dalam menjaga inflasi di sekitar level yang lebih tinggi ini lebih lama dari yang diinginkan atau diantisipasi siapa pun,” katanya.

Pembuat iPhone Apple berakhir anjlok 3,9% setelah prospek broker bearish dan laporan bahwa negara-negara Uni Eropa dan anggota parlemen minggu depan akan menyetujui port pengisian umum untuk perangkat seluler dan headphone, sebuah proposal yang dikritik Apple.

Saham Tesla terperosok 9,2% setelah CEO Elon Musk, dalam surel kepada eksekutif yang dilihat oleh Reuters, mengatakan dia memiliki 'perasaan yang sangat buruk' tentang ekonomi dan perlu memangkas sekitar 10% pekerjaan di pembuat mobil listrik itu.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : ANTARA

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN