Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. ( Foto: CHRISTOPHER BLACK / WORLD HEALTH ORGANIZATION / AFP )

Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. ( Foto: CHRISTOPHER BLACK / WORLD HEALTH ORGANIZATION / AFP )

WHO: Dunia Di Ambang Kegagalan Moral

Selasa, 19 Januari 2021 | 07:06 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA – Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa dunia berada di ambang kegagalan moral yang parah jika negara-negara kaya banyak menerima dosis vaksin Covid-19, sementara yang termiskin menderita.

Pernyataan Tedros yang dirilis pada Senin (18/1) diarahkan untuk mengecam negara-negara kaya yang bersikap “saya duluan”. Dan para produsen vaksin karena mengejar persetujuan peraturan di negara-negara kaya daripada mengirimkan datanya ke WHO untuk mendapat lampu hijau penggunaan vaksin secara global.

Dalam pidato yang disampaikan saat membuka rapat dewan eksekutif WHO di Jenewa, Swiss, Tedros menuturkan bahwa janji akses yang adil di seluruh dunia terhadap vaksin virus corona kini menghadapi risiko serius.

Dia mengungkapkan, sejauh ini sebanyak 39 juta dosis vaksin virus corona telah diberikan di setidaknya 49 negara berpenghasilan lebih tinggi.

“Sementara itu, baru 25 dosis yang diberikan di satu negara berpenghasilan terendah. Bukan 25 juta; bukan 25.000; hanya 25,” ujarnya.

Tedros menegaskan harus terus terang, bahwa dunia berada di ambang kegagalan moral besar. Kegagalan ini, lanjut dia bakal dibayar dengan harga yang mahal, dengan nyawa dan mata pencaharian di negara-negara termiskin di dunia.

Dia menambahkan, ketika beberapa negara mengucapkan kata-kata meyakinkan tentang akses yang adil, sesungguhnya mereka memprioritaskan kesepakatan mereka sendiri dengan produsen, menaikkan harga dan mencoba melompati antrean.

Tedros menyatakan terdapat 44 kesepakatan seperti itu yang dicapai pada 2020, dan sediktinya 12 di antaranya telah ditandatangani pada tahun ini.

“Situasi ini diperparah oleh fakta, bahwa sebagian besar pabrikan memprioritaskan persetujuan regulasi di negara-negara kaya, yang menghasilkan keuntungan paling tinggi, daripada menyerahkan berkas lengkap ke WHO. Pendekatan 'saya duluan' ini tidak hanya membuat orang-orang termiskin dan paling rentan di dunia berada dalam risiko, tetapi juga merugikan diri sendiri. Pada akhirnya, tindakan ini hanya akan memperpanjang pandemi, memperpanjang penderitaan kami, pembatasan yang diperlukan untuk mengatasinya, serta penderitaan manusia dan ekonomi,” demikian penjelasan Tedros.

Vaksinasi Covid-19

Sebagai informasi, WHO baru menyetujui validasi penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. Tedros pun mendesak produsen lain untuk memberikan data mereka guna dilakukan peninjauan peraturan.

Di sisi lain, Covax – sebuah inisiasi program distribusi vaksin Covid-19 global dengan WHO – telah mencapai kesepakatan dengan lima produsen untuk dua miliar dosis vaksin. Hal ini bertujuan mendapatkan vaksin bagi 20% populasi di setiap negara yang berpartisipasi pada akhir tahun, dengan pendanaan yang tercakup untuk 92 negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah yang terlibat.

“Kami menargetkan pengiriman pada Februari,” kata Tedros.

Dia mengatakan kemunculan varian baru dari virus SARS-CoV-2 yang menyebar dengan cepat baru-baru ini membuat peluncuran vaksin yang cepat dan adil menjadi lebih penting.

“Vaksin – secara harfiah dan kiasan – adalah memberikan suntikan di lengan bagi kita semua yang membutuhkan. Akan ada cukup vaksin untuk semua orang. Tapi tidak benar bahwa orang dewasa yang lebih muda dan lebih sehat di negara kaya divaksinasi sebelum petugas kesehatan, dan orang tua di negara miskin,” tegas Tedros.

Sebagai informasi, pandemi virus corona Covid-19 telah menewaskan lebih dari dua juta orang sejak muncul di Tiongkok pada akhir 2019. Patogen tersebut diyakini berasal dari spesies kelelawar yang belum ditentukan.

Menurut Tedros, pandemi menunjukkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan planet saling terkait. “Lebih dari 70% penyakit baru yang ditemukan dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan penularan dari hewan ke manusia. Satu tahun memasuki krisis terbesar di zaman kita, tidak diragukan lagi bahwa kita masih menghadapi bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN