Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Plang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terpampang di markasnya yang terletak di Jenewa, Swiss. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Plang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terpampang di markasnya yang terletak di Jenewa, Swiss. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

WHO: Risiko Omicron Sangat Tinggi

Selasa, 30 November 2021 | 06:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Senin (29/11) mengingatkan bahwa varian baru Covid-19, Omicron, menunjukkan risiko sangat tinggi secara global. Meski belum diketahui tingkat bahaya maupun tingkat penularannya.

Badan kesehatan PBB tersebut menyatakan jenis Covid-19 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan (Afsel) ini adalah varian yang sangat berbeda. Dengan jumlah mutasi yang tinggi. Beberapa di antaranya varian yang mengkhawatirkan dan mungkin terkait dengan potensi menyerang kekebalan tubuh dan potensi penyebaran yang lebih tinggi.

"Kemungkinan potensi penyebaran Omicron lebih lanjut tinggi di tingkat global," kata WHO mengingatkan dalam sebuah catatan teknis yang dirilis Senin.

Hingga saat ini, tambah WHO, belum ada laporan adanya kematian yang terkait dengan varian Omicron. Bahkan jika varian baru tidak terbukti lebih berbahaya atau mematikan dari yang sebelumnya, tetapi jika menyebar dengan lebih mudah akan memicu lebih banyak kasus dan lebih banyak tekanan pada sistem kesehatan. Dengan demikian, katanya, bisa membuat lebih banyak kematian.

"Jika gelombang besar lain Covid-19 terjadi didorong oleh Omicron, konsekuensinya mungkin parah. Risiko global keseluruhan yang terkait dengan varian yang menjadi perhatian (VoC) Omicron dinilai sangat tinggi," kata WHO.

Badan PBB ini juga menyatakan negara-negara harus meningkatkan pengawasan mereka untuk mencoba mendapatkan gambaran yang jelas tentang di mana dan seberapa cepat varian itu menyebar.

WHO juga mendesak percepatan vaksinasi Covid-19, terutama di kalangan populasi rentan yang belum menerima vaksin apa pun.

Tetapi pihaknya mengingatkan negara-negara agar tidak memaksakan larangan perjalanan. Memblokir perjalanan dari negara-negara asal varian baru dikhawatirkan menjadi tidak adil dan dinilai menghalangi pengawasan.

"Dengan varian Omicron yang sekarang terdeteksi di beberapa wilayah di dunia, memberlakukan larangan perjalanan yang menargetkan Afrika menyerang solidaritas global," kata Direktur Regional WHO Matshidiso Moeti.

Saat ini, daftar negara yang memberlakukan pembatasan perjalanan dari selatan Afrika terus bertambah. Di antaranya Inggris, Indonesia, Kuwait, Belanda, Qatar, Arab Saudi, dan Amerika Serikat (AS).

Hentikan Pelonggaran Perbatasan

Pemerintah Australia pada Senin menghentikan rencana pelonggaran perbatasan yang diberlakukan tahun lalu untuk memerangi pandemi Covid-19.

Negara-negara di seluruh dunia telah bereaksi terhadap jenis Omicron dengan memperketat perbatasan, meskipun varian tersebut telah mencapai Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengumumkan penundaan dua minggu atas rencana pelonggaran perbatasan, menyusul pengumuman dari pemerintah Jepang dan Israel tentang larangan wisatawan asing.

Banyak negara khususnya di Eropa barat sudah berjuang dengan peningkatan kasus yang cepat dan kembali mewajibkan penggunaan masker, langkah-langkah jarak sosial, jam malam, ataupun penguncian.

Para menteri kesehatan dari kelompok G-7 dari negara-negara terkaya di dunia melakukan pertemuan Senin untuk membahas ketegangan baru. Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga mengingatkan bahwa dunia sedang dalam sebuah perlombaan melawan waktu.

Para ilmuwan di Afrika Selatan menandai varian baru Kamis (25/11), mendorong beberapa negara Eropa untuk dengan cepat melarang penerbangan dari wilayah tersebut.

Hal itu membuat kesal para pejabat Afrika Selatan yang mengatakan bahwa mereka dihukum karena mengidentifikasi varian yang kini telah terdeteksi.

Menggarisbawahi kesulitan menahan penyebaran, pemerintah Austria dan Skotlandia menerapkan larangan terbang dari beberapa negara Afrika. Pihaknya mengkonfirmasi kasus Omicron pertama mereka pada Senin (29/11).

Pemerintah Filipina juga mengatakan akan menangguhkan sementara rencana untuk mengizinkan turis yang divaksinasi penuh.

Dokter Afrika Selatan Angelique Coetzee, yang memperingatkan tentang Omicron, mengatakan kasus yang dia lihat menunjukkan gejalanya lebih ringan daripada varian lainnya.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN