Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat pergerakan harga saham melalui layar monitor komputer. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat pergerakan harga saham melalui layar monitor komputer. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ada Apa, Kok Kode Broker Disembunyikan Sih?

Kamis, 25 Februari 2021 | 08:49 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Hot issue yang banyak diperbincangkan investor pagi ini, Kamis (25/2/2021) seputar rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menyembunyikan kode broker dalam running trade sistem perdagangan saham. Rencana itu akan efektif per Juli 2021. Pelaku pasar banyak yang mempertanyakan kebijakan tersebut dan berkeberatan.

Sebelumnya, BEI menyebutkan penyesuaian dilakukan di antaranya untuk mengikuti best practice di bursa-bursa dunia. Selain itu, penyesuaian juga dilakukan untuk mengurangi potensi herding behavior dan meningkatkan kewajaran dalam pembentukan harga.

Mentor Investa yang pernah menjabat sebagai Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud menyatakan berada di barisan yang keberatan terhadap rencana BEI menyembunyikan kode broker dalam info running price.

"Saya mengambil keputusan investasi sepenuhnya berdasar kajian saya tentang fundamental perusahaan. Kondisi saat ini dan prospeknya ke depan. Saya tidak pernah mempelajari bandarmology. Tidak tahu satupun kode broker. Tidak tahu mana broker asing, mana domestik. Tapi saya berada di barisan pelaku pasar yang keberatan dengan rencana itu," katanya.

Beberapa alasan Hasan Zein antara lain:

1. Menurunkan kualitas transparansi dan level playing field. Bagi para traders, info para broker adalah relevant and sensitive information

2. Herding behavior justru bisa dikurangi bila para buzzers, para pom-pom, para influencers itu, ditampilkan di depan publik, dibuat aturan tata cara dan kode etik. Diatur dan diminta register

3. Salah kaprah paling parah di pasar modal Indonesia adalah menyamakan bandar dan market makers. Market makers itu profesi jelas dan terang benderang. Bandar itu makhluk halus. Market makers itu registered, punya aturan, diawasi, punya kode etik. Sementara bandar adalah pencari lobang, pembuat lobang.

NASDAQ bertransaksi lewat market makers. Obligasi pemerintah (Treasuries) diperdagangkan lewat market makers. Semua primary dealers di pasar perdana wajib menjadi market makers di pasar sekunder. Sehingga harga surat utang pemerintah federal tersebut menjadi sangat likuid, harganya transparan dan transaksinya fair.

Di NYSE ada market maker yang disebut specialist. Specialists itu menyediakan likuiditas, bertindak sebagai traders of the last resort dan menjaga kewajaran harga.

4. Jangan sekedar mengobati gejala penyakit. Obati sumber penyakit. Tantang para bandar itu menjadi spesialis di bursa. Beri fasilitas. Itu kalau mereka berani! Di negara yang well-regulated, bandar judi aja diatur, dan dibuat transparan.

5. Mayoritas ritel adalah traders. Sering mengambil keputusan "hanya" berdasar info di running price. Menghapus info tersebut ekuivalen dengan menutup mata pemain ritel saat masuk ke lapangan pertandingan. Pada saat yang sama menyembunyikan dan melindungi para bandar.

6. Sebagai seorang guru seumur hidup saya ingin mengatakan: "Kita butuh partisipasi masyarakat luas dalam mengembangkan dan memperdalam aktivitas bursa, tapi kita abai terhadap edukasi.

Ada tiga tugas utama sebuah perusahaan broker: educate people, create market and first line filter of transaction. Tugas yang pertama itu sungguh mereka abaikan. Mengumpulkan calon nasabah, dicelotehi setengah sampai satu jam, dijamu makan siang, lalu disodori pembukaan rekening, bukan edukasi.

7. BEI harus mengalokasikan pendapatannya untuk pendidikan. Hanya well-informed investor yg membuat well-functioning capital market. Well-informed investor akan mengeliminir para manipulator pasar.

Mengurangi Transparansi

Sementara itu, Ketua LP3M Investa Hari Prabowo menilai, rencana tidak menampakkan kode dan status broker pada saat riel time dengan menunda pada akhir perdagangan ini akan mengurangi transparasi. Pasalnya, investor tidak bisa melihat siapa broker yang melakukan transaksi jual beli yang sudah terjadi secara cepat.

"Ini menyulitkan investor mendeteksi sebagai bahan analisa khususnya dari kajian bandarmologi atau tape reading yang biasanya memantau broker siapa yang melalukan akumulasi dan distribusi serta asing atau lokal," ujarnya.

Terkait rencana perpanjangan jam perdagangan bursa dan pengurangan hari libur bursa tahun 2021, menurut Harry, sangat positif. Investor, kata dia, bisa melakukan trading lebih lama.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN