Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Masih di zona merah. Pengunjung melihat layar elektronik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal.

Masih di zona merah. Pengunjung melihat layar elektronik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal.

Badai Pasti Berlalu

Selasa, 17 Maret 2020 | 08:30 WIB
Investor Daily

Badai masih mengharu biru pasar saham. Kecemasan para investor di lantai bursa meningkat seiring terus meluasnya penyebaran Virus Korona baru (Covid-19) yang memaksa sejumlah negara memberlakukan lockdown (penguncian akses masuk dan keluar di suatu wilayah).

Kecemasan makin menjadi-jadi setelah harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent anjlok di bawah US$ 30 per barel. Pandemi Covid-19 dikhawatirkan memicu resesi yang akan menekan turun permintaan minyak. Apalagi Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia gagal mencapai kesepakatan untuk memangkas produksi.

Pasar semakin panik setelah Bank Sentral AS, The Fed, secara mendadak mengumumkan pemangkasan Fed funds rate (FFR) menjadi 0% pada pertemuan Minggu (15/3), untuk merespons dampak pandemi Covid-19. Padahal, belum lama berselang, The Fed memotong FFR sebesar 50 bps menjadi 1,00-1,25%. Pasar menafsirkan tindakan darurat The Fed merupakan bukti ekonomi AS telah digerogoti Covid-19.

Di dalam negeri, pasar juga khawatir penyebaran Covid-19 meluas sehingga perekonomian bakal semakin terpukul. Kekhawatiran itu pula yang membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles 216,91 poin (4,42%) ke level 4.690,65 pada penutupan perdagangan Senin (16/3).

Kapitalisasi pasar (market cap) emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tergerus Rp 251 triliun dalam sehari. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), IHSG sudah terjun bebas 25,54% dan market cap bursa sudah menguap Rp 1.838 triliun.

Pelemahan IHSG diikuti depresiasi rupiah. Nilai tukar rupiah, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), makin dekat ke level psikologis Rp 15.000. Rupiah yang pada awal Januari masih bertengger kokoh di level Rp 13.895, kini terkulai lemas di posisi Rp 14.818, menjauh dari asumsi Rp 14.400 per dolar AS dalam APBN 2020.

Kecemasan tak hanya menyergap para investor di pasar saham dan valas dalam negeri. Rasa waswas juga sedang mengepung para investor di pasar finansial global. Itu sebabnya, bursa saham di seantero dunia terus terperangkap di zona merah.

Apakah itu berarti pasar saham sedang sekarat? Tentu saja tidak. Secara fundamental, bursa saham Indonesia masih kuat. Buktinya, 79% emiten di BEI hingga September 2019 masih membukukan laba bersih. Jumlahnya lebih banyak dari emiten di Malaysia (68%) dan Singapura (64%).

Bahkan, dibanding crash yang terjadi saat krisis finansial mengguncang dunia pada 2008, krisis di pasar saham saat ini masih jauh lebih baik. Pada Oktober 2008, IHSG terjun bebas 50,6%. Setelah itu, pada 2009, IHSG rebound 86,7%.

Ada sejumlah sinyal positif yang membuat kita yakin bahwa badai pasti berlalu dari pasar saham. Sinyal pertama, Tiongkok, negara yang diyatakan pertama kali terjangkit Covid-19, dalam tempo dua bulan mampu mengendalikan penyebaran Virus Korona. Malah, Tiongkok telah mengirimkan tim medisnya untuk membantu negara-negara lain menangani Covid-19.

Bila Virus Korona bisa ditangani, sumber kecemasan di pasar saham bakal sirna. Dengan asumsi Covid-19 di berbagai negara bisa diredam dalam dua bulan ke depan, berarti pasar saham bisa berangsur pulih, setidaknya pada akhir kuartal II atau pada Juni 2020.

Sinyal kedua yaitu gerak-gerik investor asing. Dalam beberapa waktu terakhir, investor asing terus melepas portofolionya, sehingga total jual bersih (net sell) saham oleh asing mencapai Rp 7,54 triliun (ytd). Kemarin, asing mulai mencatatkan beli bersih (net buy). Nilainya tidak besar, hanya Rp 238,11 miliar, namun itu sudah cukup untuk mengonfirmasi bahwa asing sedang berancang-ancang memborong saham lagi karena mereka yakin Covid-19 bisa diredam.

Sinyal ketiga adalah tindakan darurat The Fed. Keputusan The Fed memangkas FFR hingga 0% memang menimbulkan kepanikan. Namun, kepanikan investor segera pudar. Sebab, dalam jangka menengah dan panjang, tindakan The Fed akan efektif menyelamatkan ekonomi AS.

Apalagi pemotongan suku bunga The Fed diikuti stimulus dan pelonggaran moneter (quantitative easing/QE) berupa pembelian surat utang senilai US$ 700 miliar. QE itulah yang dulu sukses menyelamatkan perekonomian AS dari krisis finansial global. Selain itu, bank sentral negara-negara maju sepakat menurunkan nilai tukar mata uang mereka guna menjaga pasar finansial.

Sinyal keempat yaitu komitmen otoritas untuk terus mengawal pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI telah memberlakukan sejumlah ketentuan untuk mengamankan pasar saham, seperti melonggarkan aturan pembelian kembali (buyback) saham, memperketat auto rejection, melarang transaksi short selling, dan menerapkan protokol krisis, termasuk suspsensi perdagangan jika pasar crash.

Sinyal kelima adalah kesiapan BPJS Ketenagakerjaan dan dana pensiun (dapen) untuk memborong saham berfundamental baik. Tindakan BPJS Ketenagakerjaan dan dapen bisa diikuti para investor ritel. Jika semua memiliki asumsi dan ekspektasi yang sama, pasar saham bisa segera rebound.

Pelemahan yang terjadi bertubi-tubi sejak isu Covid-19 mencuat pada akhir Desember 2019, telah mengakibatkan pasar saham domestik terbenam dalam. Price to earning ratio (PER) saham emiten di BEI rata-rata sudah 13,5 kali, dengan price to book value (PBV) 1,7 kali.

Maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk masuk pasar dan melakukan akumulasi beli. Tentu dengan tetap menerapkan kewaspadaan tingkat tinggi. Bukankah saat badai berlalu, kita tidak pernah tahu badai berikutnya akan datang atau tidak?

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN