Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Januari "Tidak" Effect

Oleh Hari Prabowo, Senin, 20 Januari 2020 | 11:02 WIB

JAKARTA, Investor.id - Setelah di akhir Desember 2019 lalu IHSG gagal ditutup di atas 6300 yang berarti lebih rendah dari penutupan tahun 2018, investor berharap bulan Januari 2020 ini akan terjadi siklus tahunan yang sering disebut "January Effect". Saat itu, biasanya terjadi masa panen investor karena harga mayoritas saham mengalami rally dengan kenaikan yang signifikan.Kondisi seperti itu sudah terjadi berulang kali, layaknya musim semi bagi investasi saham, sehingga wajar jika investor berharap tahun ini juga akan berulang.

Namun sampai pekan ketiga Januari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tidak banyak bergerak, akhir pekan (17/1/2020) ditutup di posisi 6291 atau lebih rendah 0,13% dari penutupan akhir tahun 2019 yang 6299. Timbul pertanyaan klasik dari para pelaku pasar, mengapa IHSG masih belum bisa rebound?

Cukup mengherankan memang pergerakan IHSG dibandingkan indeks bursa global, apalagi indeks Dow Jones yang justru mencapai rekor tertingginya. Padahal DOW biasanya menjadi acuan indeks bursa global maupun regional. Namun IHSG seakan tak bergeming bahkan ditutup minus selama tahun lalu.

Bila dilihat dari angka-angka ekonomis seperti nilai Rupiah yang menguat, inflasi yang rendah, suku bunga yang bergerak turun, pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5%, cukup aneh memang kalau IHSG belum bisa bergerak naik. Harapan January Effect yang ditunggu sebagai awal kebangkitan pertumbuhan IHSG sepertinya menjadi January "tidak" Effect.

Saya punya analisis lain tentang tentang Januari yang tidak Effect ini. Kasus Asuransi Jiwasraya dan disusul dengan ASABRI, menjadi faktor kuat penyebab turunya nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sekaligus IHSG.

Ada dua kemungkinan alasan yaitu pertama, investor institusi mengurangi investasi dalam bentuk saham, bahkan cenderung menjual saham yang ada dalam portfolionya. Mereka timbul kekhawatiran "disalahkan" bahkan dipidanakan jika investasinya mengalami penurunan atau hasil yang minus. Saya kira nuansa psikologis para pengurus lembaga pengelola dana seperti Dana Pensiun, Asuransi, TASPEN, BPJS saat ini  mengalami dilematis antara keinginan untuk berinvestasi di instrumen pasar modal dan kekhawatiran pidana.

Kondisi ini harus segera diatasi dan tidak boleh berkepanjangan yang justru akan memundurkan pasar modal kita. Saya kira sepanjang para manajemen atau pengurus institusi tersebut tidak punya itikad jahat dalam berinvestasi serta mengikuti ketentuan yang ada maka tidak bisa dipidanakan hanya karena investasinya minus.

Investasi di pasar modal terutama dalam bentuk saham memang mempunyai risiko yang tinggi disamping harapan hasil yang tinggi pula. Kasus Jiwasraya sudah ditangani aparat hukum dan saya kira para pelaku pasar modal cukup mengerti "siapa dan mengapa" kasus tersebut. Namun tentunya tidak bisa disamakan bahwa institusi-institusi lain yang menjadi investor potential di pasar moda juga mengalami hal yang sama seperti Jiwasraya.

Bisa jadi institusi yang berinvestasi di pasar modal memang sedang mengalami posisi "potential loss" dalam portofolionya mengingat kondisi pasar memang sedang tidak bagus atau mereka justru jadi korban dari para bandar saham, atau yang disebut Presiden dan Menteri Keuangan sebagai predator yang bermain secara licik di bursa yang merugikan investor lain.

Penyebab kedua, para manajer investasi, khususnya yang masuk dalam daftar yang terkait kasus Jiwasraya, sedang melakukan penjualan besar-besaran, terutama yang termasuk saham saham gorengan.

Kasus Jiwasraya memang berdampak negatif bagi pasar modal kita. Ini pukulan berat bagi pelaku pasar terutama investor dan sekaligus tamparan bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK ) dan BEI.
Untuk itulah harus segera dilakukan pembenahan menyeluruh tanpa membuat investor institusi menjadi ketakutan dan dipersalahkan. Ini ibarat "sudah jatuh tertimpa tangga" . Di sisi lain, para manajemen investor institusi juga harus belajar agar lebih hati hati dalam berinvestasi.

Silahkan para bandar saham, manipulator atau predator yang memang melakukan tindakan yang melanggar dikenai sanksi agar pasar bisa berjalan dengan wajar dan menjadi media investasi yang nyaman. Sepertinya, Januari tahun ini menjadi Januari "tidak" Effect. Tapi masih ada waktu ke depan yang bisa menjadi lebih baik jika  kasus di pasar modal ditangani secara baik dan benar sehingga kepercayaan investor tumbuh kembali.

*** Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA