Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Co-founder Ternak Uang Timothy Ronald

Co-founder Ternak Uang Timothy Ronald

Tips Pendiri Ternak Uang bagi Investor Pemula: Pilih Industri yang Benar

Kamis, 29 Juli 2021 | 06:26 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Investor pemula seringkali kebingungan saat memilih jenis saham yang ingin dibeli. Hal ini wajar sebab saham memiliki dimensi risk dan reward sehingga perlu analisis matang.

Founder Ternak Uang Timothy Ronald pun berbagi tips dalam menganalisis saham bisnis mana yang memiliki prospek bagus.

"Saya pribadi memakai analisis top down. Kita lihat dulu dari kondisi global, kemudian lihat makronya, lalu lihat industrinya," kata Timothy di acara Emiten Expose 2021 yang diselenggarakan Majalah Investor, Selasa (27/7).

Expose sesi 2 dengan tema Tips & Trik Cermat Berinvestasi bagi Investor Pemula di acara Emiten Expose 2021 Live Streaming di Beritasatu.com, Youtube dan Facebook Beritasatu Media pada Selasa 27 Juli 2021. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Expose sesi 2 dengan tema Tips & Trik Cermat Berinvestasi bagi Investor Pemula di acara Emiten Expose 2021 Live Streaming di Beritasatu.com, Youtube dan Facebook Beritasatu Media pada Selasa 27 Juli 2021. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Jika misalnya disebutkan, ke depan saham teknologi memiliki prospek yang bagus, maka cari emitennya (bottom up) , kemudian analisis laporan keuangan dan manajemennya termasuk analisis secara teknikal dan pantau pergerakan (flow) uangnya.

Namun di luar semua itu, yang paling penting kata dia, memilih industri yang benar. Sebab, jika industri yang dipilih sudah benar, kemungkinan saham-saham di industri tersebut akan naik menjadi sangat tinggi.

"Jadi, kalau misalnya sekarang kita tahu semua lagi Environmental, Social, and Corporate Governance (ESG), kita nggak bisa pilih indutsri-industri yang condong ke batu bara dalam jangka waktu pendek. Walaupun investor itu sedang all top high karena sahamnya tidak akan ke mana-mana," ujarnya.

Sebaliknya, para investor pemula perlu mencari saham-saham yang ibaratnya ada proxy to tech seperti Bukalapak yang mau initial public offering (IPO) dan saham bisnis apa saja yang kira-kira bakal menangguk keuntungan.

Dari tech ini, investor pemula juga bisa melihat industri lain yang terkait seperti indutsri Telko. Sebab, dengan aplikasi teknologi yang semakin maju, orang pasti akan membutuhkan paket data.

"Jadi, kita lihat perusahaan Tower dan perusahaan Telko. Kira-kira saham mana yang memiliki potensi upside tinggi. Setelah kita menganalisis secara top down, baru lihat laporan keuangannya apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. Lalu ekuitas perusahaannya seperti apa dan siapa yang running perusahaannya," jelas Timothy.

Jika misalnya manajemen perusahaan melakukan ekspansi ke sektor tertentu, maka investor pemula juga harus melihat di laporan keuangannya apakah perusahaan benar memakai dana (capital expenditure) untuk aksi korporasi.

Setelah melakukan analisis secara top down mulai dari perusahaan, laporan keuangan, dan analisis secara teknikal, selanjutnya investor pemula harus memahami timing.

"Kalau kita beli saham yang down trennya kuat sekali, lalu kita bilang murah, saham itu tetap akan turun. Jadi kita harus cari saham yang secara teknikal bagus dan lihat flow uangnya apakah cuma ritel yang bermain atau ada institusi lain dan pada fase apa flow sahamnya," tambah dia.

Sebab ia khawatir, para investor pemula justru membeli saham ketika semua institusi sedang distribusi sehingga ujung-ujungnya mereka akan rugi.

"Jadi saya rasa, tips yang pertama adalah top down analisis, kedua lihat laporan keuangan, ketiga kita perhatikan analisa teknikal, dan terakhir flow," imbuhnya.

Terkait flow, Timothy menerangkan bahwa cara melihatnya dari broker summary dan siapa yang sedang mengakumulasi saham dan siapa yang sedang mendistribusikan saham. Tapi, bagi investor pemula, ia menyarankan untuk tidak membeli banyak  saham seperti 20 sampai 30 karena hal itu tidak masuk akal.

"Saham itu ibarat kita punya anak. Cukup satu atau tiga saja. Karena kalau uang investor itu terkonsentrasi pada satu sampai tiga saham saja, maka akan bisa meningkat lebih cepat. Selama 2020-2021 ini, saya sudah menggandakan uang tiga kali. Sedangkan kalau saya masukin uang saya ke 10 sampai 20 saham misalnya, yang ada malah pusing," ungkapnya.

Hal lain yang juga tidak kalah penting untuk diperhatikan bagi investor pemula adalah aspek piskologi. Menurut dia, manusia itu memiliki banyak bias emotional. Contoh paling besar yaitu loss aversion bias. Karena manusia tidak ingin rugi dibandingkan ingin untung.

"Jadi, kita misalnya beli saham di harga 1000, lalu sahamnya turun 900. Kita nggak mau cut loss sehingga merasa saham ini masih bisa naik sampai akhirnya turun 500 dan boncos. Sedangkan kalau sahamnya naik baru 1100 saja, kita sudah cepat-cepat ingin menjual. Itulah bias manusia," terangnya.

Untuk itu, sebagai manusia, investor pemula juga harus sadar bias-bias tersebut dan harus mampu mengatasinya secara psikologis. Dengan demikian, jika misalnya investor sudah salah, akui saja sebagai kesalahan di market. Lagi pula menurutnya, tidak ada salahnya dengan cutloss.

Tips lainnya yang dibagikan Timothy asalah mengenai money management. Ia melihat, banyak investor pemula yang saat ini masih kebingungan. Misalnya, mereka memiliki uang Rp 5 juta, mereka cenderung meginvestasikan semuanya di saham.

Menurut dia, opsi itu salah. Investor pemula seharusnya mulai dengan nominal yang kecil seperti Rp 200-Rp 300 ribu. Sebab, risiko investor itu berbeda-beda. Banyak yang mengira, investasi saham adalah cara cepat menjadi kaya. Padahal saham hanyalah instrument investasi sama seperti produk investasi lain seperti produk utang maupun produk ekuitas yang berfungsi untuk mencapai tujuan finansial, bukan kaya secara cepat. 

"Tapi kalau misalnya kita mau menggandakan uang, saya rasa tidak ada cara lain yang lebih cepat selain di capital market," kata dia.

Di samping itu, investor pemula juga harus mampu mendiverisifkasi aset. Jangan pernah berhenti di 100% saham. Karena saham memiliki sanksi rasio di mana investor mencari risk dan reward yang paling bagus. Walaupun sebetulnya, bobot saham tidak pernah bagus 100%.

"Mentor saya Sandiaga Uno mengatakan, 60% diinvestasi di saham, 10% di cash, 20% di fix income atau money market, dan 10% disisihkan untuk membeli property. Jadi itu yang saya lakukan sekarang," tutup Timothy.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN