Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

BEI JARING 55 EMITEN BARU

Penggalangan Dana IPO Saham Tembus Rp 14,7 Triliun

Farid Firdaus, Kamis, 26 Desember 2019 | 09:53 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Galva Technologies Tbk (GLVA) resmi menjadi emiten ke-55 sekaligus yang terakhir dalam aksi pencatatan saham perdana (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini. Perseroan memperoleh dana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp 67,5 miliar, sehingga total penggalangan dana IPO saham di BEI pada 2019 mencapai Rp 14,7 triliun.

Dari sisi jumlah emiten, pencapaian tahun ini hampir menyamai jumlah emiten baru tahun lalu sebanyak 57 perusahaan. Sedangkan dari sisi nilai emisi, pencapaian tahun ini turun 10,5% dibanding total emisi IPO saham tahun lalu sebesar Rp 16,43 triliun.

Galva yang menjadi perusahaan tercatat ke-668 di BEI melepas sebanyak 300 juta saham baru atau 20% dari modal ditempatkan dengan harga perdana Rp 225 per saham. Perseroan juga mengalokasikan 3 juta saham dari saham yang ditawarkan pada IPO untuk program alokasi saham karyawan.

Presiden Direktur PT Galva Technologies Tbk Oki Widjaja. Sumber: BSTV
Presiden Direktur PT Galva Technologies Tbk Oki Widjaja. Sumber: BSTV

PT Buana Capital Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam aksi IPO Galva. Dalam debut perdagangan perdananya, saham GLVA langsung terkena auto reject atas karena melesat 49,56% ke posisi Rp 338 per saham.

Direktur Utama Galva Technologies Oki Widjaja mengatakan, dana IPO mayoritas digunakan untuk memperkuat modal kerja perusahaan. Saat ini, perseroan merupakan distributor dan penyedia solusi bisnis terintegrasi, dengan tiga lini bisnis utama, yaitu business solutions, IT distribution, dan printing solutions.

“Sekitar 20% dari dana IPO akan kami gunakan untuk menambah capex (capital expenditure). Jadi, tidak besar, tapi kami ingin menambah usaha kami di lini bisnis baru, khususnya yang padat teknologi, seperti internet of things (IoT), clouds solutions, dan juga yang mengarah ke internet,” papar Oki Widjaja usai listing perdana saham perseroan di BEI, Jakarta, Senin (23/12).

Oki menambahkan, bisnis teknologi akan terdorong oleh rencana pemerintah dan swasta mengembangkan kota dan bangunan pintar, yang menjadi bisnis potensial pada masa mendatang. Demi mengantongi proyek-proyek smart city, Galva Technologies terus melakukan pendekatan kepada para kontraktor yang kerap menggarap infrastruktur perkotaan.

Perseroan, menurut Oki, membidik pelanggan produk-produk teknologi informasi (TI) dari sektor infrastruktur besar, seperti kereta api, pelabuhan, sampai stadion olahraga.

Dia menjelaskan, dengan portofolio produk yang beragam, perseroan telah melayani lebih dari 2.500 pelanggan berbagai sektor industri. Sektor-sektor tersebut di antaranya jasa keuangan, multimedia, properti dan konstruksi, hospitality, ritel dan lifestyle, organisasi keagamaan, pemerintahan dan BUMN, edukasi dan olahraga, infrastruktur, pertambangan dan energi, serta segmen jasa kesehatan.

Adapun Galva Technologies memiliki jaringan distribusi dan pemasaran yang tersebar di 11 kota besar lainnya di Indonesia, yaitu Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Medan, Pekanbaru, Palembang, Denpasar, Makassar, Manado, dan Balikpapan.

“Tahun ini, kami berharap membukukan penjualan Rp 2,8 triliun dan posisi laba kira-kira Rp 35 miliar. Kami menargetkan peningkatan sekitar 50% untuk laba pada tahun depan,” tutur Oki Widjaja.

Pipeline BEI

Minat IPO Tetap Tinggi
Minat pemodal terhadap saham-saham baru di pasar perdana atau initial public offering (IPO) tetap tinggi.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, pada 2019 BEI menjaring emiten dari berbagai sektor dengan raihan dana IPO yang bervariasi. Raihan IPO paling kecil adalah aksi PT Putra Mandiri Jembar Tbk (PJMS) yang bergerak di bisnis diler otomotif dengan nilai Rp 17,2 miliar.

Adapun aksi IPO terbesar adalah PT Asuransi Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) senilai Rp 4,76 triliun. Namun, karena saham IPO Sinarmas MSIG adalah saham divestasi atau bukan saham baru maka predikat aksi IPO terbesar tahun ini disematkan kepada PT Uni-Charm Indonesia Tbk (UCID) yang mengantongi dana Rp 1,25 triliun.

Sementara itu, BEI masih memiliki ‘tabungan’ 30 perusahaan pada daftar pipeline IPO. Perusahaan-perusahaan ini menggunakan dasar valuasi laporan keuangan yang beragam, mulai Mei 2019 hingga September 2019.

Dari 30 perusahaan, sebanyak dua perusahaan mengajukan pembatasan informasi. Dengan demikian, 28 perusahaan yang mengantre untuk melangsungkan IPO antara lain PT Alamanda Investama, PT Graha Belitung Utama, PT Era Graharealty, PT Royalindo Investama Wijaya, PT Pratama Widya, PT Karya Bersama Anugerah, dan PT Diamond Citra Propertindo.

Itu belum termasuk PT Perintis Properti, PT Andalan Sakti Primaindo, PT Lancartama Sejati, PT Makmur Berkah Amanda, dan PT Pakuan. Mereka masuk dalam kelompok emiten sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan.

Di sektor keuangan, PT Bank Amar Indonesia menjadi satu-satunya yang berada dalam daftar. Sedangkan di sektor infrastruktur dan transportasi, ada PT Putra Rajawali Kencana dan PT Batulicin Nusantara Maritim.

Selanjutnya PT Esta Multi Usaha, PT Nara Hotel Internasional, PT Tourindo Guide Indonesia, PT Agro Yasa Lestari, PT Cahaya Bintang Medan, PT Aesler Grup Internasional, PT Metro Healthcare Indonesia, dan PT Molly Sentosa Indonesia merupakan calon emiten pada kelompok perdagangan, jasa dan investasi.

Sejalan dengan itu, di sektor konsumsi terdapat PT Morenzo Abadi Perkasa, PT Diamond Food Indonesia, PT Era Mandiri Cemerlang, dan PT Cipta Selera Murni. Adapun PT Cisadane Sawit Raya menjadi satu-satunya perusahaan siap IPO dari sektor pertanian.

Dalam pipeline tersebut tidak ada perwakilan dari BUMN maupun anak usahanya. Sepanjang 2019 juga tak ada satupun kelompok BUMN yang melantai di bursa saham domestik.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA