Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo aplikasi pesan Signal,  WhatsApp, dan Telegram ( Foto: phonemantra.com )

Logo aplikasi pesan Signal, WhatsApp, dan Telegram ( Foto: phonemantra.com )

Tak Ada Platform yang Tak Ambil Data Pengguna (Bagian II)

Rabu, 27 Januari 2021 | 10:21 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pengumuman kebijakan privasi terbaru dari WhatsApp, aplikasi perpesanan global terpopuler yang merupakan bagian dari Facebook Group, awal Januari ini, telah menimbulkan kontroversi secara global di tengah pandemi Covid-19. WhatsApp pun akhirnya menunda kebijakan tersebut hingga 15 Mei mendatang.

Sementara itu, dalam penundaan tersebut, WhatsApp menegaskan telah mengenkripsi pesan pengguna dan tak berbagi data pengguna kepada Facebook Group. Namun, pegiat dan pakar keamanan siber meyakini bahwa WhatsApp dan platform media sosial lain tetap mengambil data pengguna, atau setidaknya informasi dari data pengguna (metadata) untuk menghidupi bisnisnya.

Lalu, apa itu metadata dan fungsinya bagi pemilik platform, serta bagaimana tips yang aman menggunakan platform, atau media sosial dan saran ke pemerintah? Berikut penjelasannya.

Kaspersky, perusahaan sekuriti siber global, dan spesialis antivirus TI dari Vaksincom Alfons Tanujaya, menyampaikan, saat ini, hampir tidak ada model bisnis platform yang memberikan layanan sepenuhnya gratis. Banyak yang secara diam-diam mengumpulkan data pribadi, atau setidaknya metadata pengguna sebagai prasyarat bisa menggunakan aplikasinya.

“Nyatanya memang tidak ada yang sepenuhnya tidak berbayar, dan, sayangnya, model bisnis (platfrom) untuk layanan gratis, berarti kita membayarnya dengan data (pribadi) kita. Jejaring sosial, beberapa messanger, dan mesin pencari, menghasilkan uang dari iklan, dan apabila (data) semakin dipersonalisasi semakin baik,” kata Peneliti Senior Kaspersky Anna Larkina, belum lama ini.

Menurut dia, selama ini, perusahaan platfom seperti WhatsApp, Facebook, dan lain sebenarnya telah mengambil data pribadi pengguna secara diam-diam selama beberapa tahun terakhir. Kabar baiknya, kini, Facebook dan WhatsApp, berusaha untuk lebih bersikap transparan tentang kebijakan privasinya kepada para pengguna.

“Tidak ada makan siang yang gratis, begitu kata pepatah. Bagaimana logikanya WhatsApp harus menyediakan layanan yang selalu siap selama 24 jam untuk melayani 2 miliar pengguna di muka bumi ini, namun tidak menerima pembayaran sama sekali,” imbuh Alfons.

Youtube, lanjut dia, yang merupakan platform berbagi video, sudah menemukan model bisnisnya di mana setiap tenggang waktu tertentu menampilkan iklan, sehingga mampu mendapatkan keuntungan besar sekali pun harus menyediakan bandwidth dan server untuk mengelola video.

Pengguna pun bisa memilih untuk tidak mendapatkan iklan, namun dikenakan iuran bulanan yang harus dibayar. Satu pilihan yang dinilainya cukup fair. Walau kenyataannya, metadata pengguna yang membayar tetap digunakan oleh Youtube untuk menampilkan video rekomendasi, atau kepentingan lainnya.

Alfons melanjutkan, sampai saat ini, WhatsApp masih tetap pada komitmennya untuk tidak menampilkan iklan langsung di platform messaging-nya. Akibatnya, Facebook Group harus menomboki biaya pengelolaan sumber daya WhatsApp yang harus melayani aktivitas chat anggotanya yang lebih dari 2 milar.

“Karena itulah, sebagai pemilik Whatsapp, Facebook Group berpikir keras bagaimana melakukan monetisasi atas aplikasi yang dapat dikatakan paling aktif dan populer dimuka bumi ini,” ujarnya.

Metadata

Namun, ada kendala yang dihadapi WhatsApp dalam monetisasi adalah end-to-end encryption (E2EE). Seperti diketahui, seluruh komunikasi, baik chat personal maupun grup, penggunanya dilindungi dengan enkripsi. Dan, yang bisa membuka dan membaca pesan hanya penggguna chat/grup yang bersangkutan.

Dengan kata lain, pilihan terakhir yang bisa diakses dan dibagikan ke Facebook Group adalah metadata pengguna WhatsApp. Metadata merupakan informasi mengenai suatu data pokok/pribadi pengguna, yang dalam kasus tertentu bisa lebih berharga dari data pokok ketika sudah dikumpulkan dan diolah.

Menurut Alfons, metadata yang diambil oleh WhatsApp meliputi informasi dasar perangkat, yakni detail perangkat keras, merek, tipe, dan memori perangkat pengguna. Kemudian, sistem operasi, informasi peramban, detail alamat internet (internet protocol/IP) dan penyedia jasa internet (internet service provider/ISP pengguna, jaringan layanan seluler yang digunakan, nomor telepon seluler, dan pengidentifikasi perangkat.

Sementara itu, metadata yang menyangkut informasi dasar pengguna, yakni siapa yang pengguna kenal, siapa yang pengguna kirimi pesan, kapan pengguna dikirimi pesan, berapa sering pengguna berkomunikasi dengan seseorang, atau grup, siapa yang pernah menghubungi pengguna, serta lokasi pengguna ketika sedang melakukan chat.

Dari semua informasi metadata tersebut, WhatsApp dapat mengetahui pola komunikasi pengguna tanpa perlu mengetahui isi komunikasi/pesannya. Whatsapp pun bisa mengetahui siapa saja yang sering pengguna hubungi (kontak), kapan, dan seberapa intens, setelah diolah.

Kemudian, dari metadata perangkat Whatsapp tersebut, Facebook Group akan mengolah, mengarahkan iklan, dan memberikannya kepada perusahaan yang beriklan, seperti iklan ponsel baru yang sedang diluncurkan, iklan organisasi amal yang mungkin pengguna minati, ISP saingan yang ingin memperluas pasar dan mencari pelanggan baru.

Tips Aman

Sementara itu, untuk melindungi data pengguna platform, Kaspersky menyarankan pengguna perangkat seluler untuk mematuhi aturan, di antaranya, jangan mengunduh messenger dan platform lain dari sumber pihak ketiga.

Gunakan hanya melalui pasar aplikasi resmi, misalnya Goggle Play Store dan App Store karena lebih terlindungi keamanannya.

Lebih lanjut, jika memungkinkan, baca dengan seksama perjanjian platform dengan pengguna. Ada situasi ketika pengembang aplikasi secara terbuka memperingatkan dapat membagikan data pengguna dengan pihak ketiga.

Selanjutnya, jangan ikuti tautan mencurigakan dari pesan, meskipun itu dikirimkan oleh kolega terpercaya. Lalu, gunakan solusi keamanan jika memungkinkan pada perangkat seluler Anda.

Tak hanya itu, pengguna juga disarankan untuk memperhatikan izin mana yang diminta aplikasi. Jika izin yang diminta tidak diperlukan untuk berfungsinya aplikasi secara penuh, ada alasan untuk waspada. Misalnya, aplikasi senter (flashlight) jelas tidak membutuhkan data pengguna untuk akses ke mikrofon.

Lawan Dominasi

Alfons menambahkan, kunci menghadapi masalah dan dominasi platform global, seperti WhatsApp dan Facebook, adalah peran pemerintah yang guna kuat melindungi konsumen. Selain itu, konsumen secara sadar perlu berusaha untuk mencegah pasar perpesanan menjadi monopolistik.

Dari sisi positif, sebenarnya Indonesia merupakan pasar ke-3 terbesar didunia bagi Whatsapp, sehingga pemerintah (Kemkominfo dan Kemkeu) jika jeli bisa menangkap peluang untuk mendapatkan pajak dari iklan yang dinikmati oleh perusahaan internet tersebut.

“GDPR (Regulasi Perlindungan Data Umum/General Data Protection Regulation), regulasi dalam hukum Uni Eropa yang diterapkan oleh Uni Eropa mungkin bisa menjadi satu contoh peran regulator dalam menghadapi perusahaan internet,” tuturnya.

Alfons juga menyarankan para pengguna WhatsApp secara sadar mencegah satu perusahaan menguasai pasar terlalu besar pasar perpesanan (messaging). Karena itu, gunakan juga lebih dari satu aplikasi, mulai dari Telegram, Line, Signal, dan lainnya.

“Alasan utamanya supaya tidak ada penguasa pasar yang terlalu dominan, sehingga mampu bertindak arogan yang cenderung monopolistik. Jangan sampai konsumen diminta memilih setuju, atau tidak usah pakai aplikasinya, tanpa memberikan pilihan,” ujar dia.

Tips lainnya, jika tidak ingin menerima iklan yang terkadang sangat menyebalkan, gunakan program/aplikasi Ad Blocker di peramban. Hal ini akan secara efektif mencegah tampilnya bombardir iklan ketika Anda sedang berselancar.

Namun, kita juga disarankan jangan terlalu paranoid dengan iklan yang masuk ke perangkat kita. Karena, pada tingkat yang wajar, iklan juga masih bisa berguna sebagai sumber informasi bagi kita. (berbagai sumber)

Link berita terkait: Kebijakan Privasi WhatsApp yang Picu Kontroversi (Bagian I)

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN