Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
John Riady (Foto: BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

John Riady (Foto: BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

John Riady: Nilai Bisnis Teknologi Mampu Tumbuh 1.000 Kali Lipat

Jumat, 20 Mei 2022 | 11:21 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – CEO PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) sekaligus Direktur Lippo Group John Riady menyebutkan bahwa potensi perkembangan bisnis teknologi di Indonesia masih sangat besar.

"Teknologi adalah bisnis yang nilainya mampu bertumbuh 1.000 kali lipat dalam 8 tahun. Tahun 2014, value dari seluruh perusahaan teknologi di Indonesia hanya berkisar Rp 1 triliun. Saat ini dengan semakin majunya perusahaan tersebut, nilainya bisa mencapai Rp 1.000 triliun," kata John saat menjadi pembicara dalam acara Fortune Indonesia Summit 2022 dengan tema diskusi 'Innovation in the fast track', Kamis (19/5/2022).

John menegaskan, hal itu baru titik awal saja, lantaran peluang pertumbuhan masih sangat besar. Perkembangan bisnis teknologi di Indonesia sendiri apabila dibandingkan dengan Tiongkok dan Amerika Serikat, masih sangat jauh, baik dari segi perorangan maupun kontribusinya terhadap total produk domestik bruto (PDB).

Dari sisi market value pun, menurut John, kontribusi perusahaan teknologi baru sekitar 3-4%. "Di Tiongkok saja, MCI Index itu 20%-nya adalah perusahaan teknologi," ujar dia.

Baca juga: Metaverse Jadi Ekonomi Baru, Perputaran Uang Bisa Capai US$ 3 Triliun

John mengatakan, saham-saham teknologi seperti PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memang sempat mengalami penurunan harga dalam beberapa waktu terakhir. Tetapi, penurunan tersebut murni karena volatilitas yang terjadi di pasar modal.

"Hal itu juga terjadi pada saham Amazon di 2001, di mana harga sahamnya menurun hingga 19,7%. Tapi seiring berjalannya waktu, harga sahamnya terus naik dan eksponensial, sehingga penurunan sebelumnya menjadi tidak berarti atau irrelevant," kata dia.

Kondisi inilah yang dianggap John sedang terjadi pada beberapa saham teknologi atau perusahaan teknologi yang ada di Indonesia. Dengan tren, fundamental, dan cara beroperasi yang baik, dia percaya bahwa beberapa perusahaan teknologi ini akan menjadi raksasa bisnis di kemudian hari.

Pasar Ritel

John juga mengungkapkan, pesatnya pertumbuhan perusahaan teknologi, seperti misalnya di pemasaran secara daring (online), tidak akan menggusur peran pasar ritel offline. Pasalnya, bisnis yang memiliki value tinggi adalah bisnis yang dapat memecahkan masalah.

Baca juga: Menguat Lebih dari 50% Sepekan, Dua Sekuritas Ini Tetap Rekomendasikan Beli Saham GOTO

Dia mencontohkan, Tiongkok saja yang sudah jauh lebih unggul dalam hal teknologi dibanding Indonesia, sebanyak 60% pasar ritelnya dikuasai oleh ritel modern, sementara sisanya 10% oleh ritel tradisional, dan 30% ritel online.

Kondisi tersebut sedikit berbeda dengan Indonesia, di mana pasar tradisional menguasai 60% pasar, disusul oleh ritel modern sebanyak 30%, dan sisanya 10% oleh ritel online. John optimistis, pasar ritel modern Indonesia ke depan mampu bertumbuh hingga 60%, yang akan dikontribusi dari pasar tradisional yang bergeser menjadi pasar modern.

"Secara karakteristik, pasar offline masih diminati oleh masyarakat Indonesia, sehingga masih berpeluang tumbuh. Saya percaya, Indonesia masih menjadi negara land of opportunity," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN