Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo Ismail

Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo Ismail

5G Mendorong Inovasi Digital di Indonesia

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:39 WIB
Kunradus Aliandu (kunradus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Kesiapan operator seluler dalam menggelar infrastruktur jaringan telekomunikasi seluler generasi kelima atau 5G di Indonesia dapat mendorong lompatan besar bagi inovasi digital di Indonesia.

Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo Ismail menyebut 5G sebagai evolusi teknologi mobile broadband yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan generasi sebelumnya, 4G. “Dari sisi kecepatan transfer data, menyalurkan informasi, network 5G minimal 20 kali lipat dari 4G,” ujarnya.

Selain itu, jaringan 5G juga memiliki delay time yang sangat rendah, hanya dalam hitungan detik. “Kalau delay panjang berarti lambat reaksinya. Kalau 5G bisa. Sehingga reaksinya hampir sama seperti reaksi manusia,” tambahnya.

Keunggulan lainnya, 5G mampu menghemat energi lebih lama dibanding 4G. Hal ini berimbas pada semakin banyak sensor yang bisa masuk dalam jangkauan 5G. Ia menyebut jaringan 5G bisa menaungi ribuan sensor di satu kota, jauh lebih banyak dibanding 4G yang hanya menaungi 100-200 sensor.

Terlebih lagi, jaringan 5G juga bisa digunakan untuk beragam keperluan baik bagi masyarakat, industri, maupun sektor privat. Namun demikian, untuk bisa menikmati berbagai kelebihan jaringan terbaru ini, ada berbagai aspek yang mesti dibenahi. Jaringan 5G membutuhkan bandwith frekuensi yang lebih lebar dari 4G. “Operator harus punya frekuensi di lower, middle dan upper band,” ujarnya.

Karena itu, jaringan 5G membutuhkan investasi tambahan. Utamanya dalam membangun infrastruktur telekomunikasi seperti Base Transceiver Station (BTS) yang berbeda dengan 4G. Di sisi lain, infrastruktur dan teknologi yang semakin terdepan ini juga membutuhkan tenaga sumber daya manusia yang mumpuni.

Masih Terbatas

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai, ketersediaan fiber optic (serat optik) dalam penerapan teknologi 5G merupakan suatu keharusan. Peran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tentunya harus terus ditingkatkan dalam penyediaan fiber optic.

Sekertaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Marwan O Baasir memaparkan bahwa saat melakukan uji coba dan launching 4G pada periode 2014-2015, proses melakukan roll out sebuah teknologi baru itu membutuhkan waktu, apalagi dari 4G ke 5G.

"Ini ada perbedaaan yang cukup fundamental. Transport yang ada di 4G itu masih bisa menggunakan gelombang mikro atau microwave. Karena yang berjalan di masyarakat saat ini, mungkin sama halnya dengan operator, itu bisa lebih dari 50-60% menggunakan microwave. Dengan beralih ke 5G, yang kecepatannya di atas 10 giga, kita membutuhkan fiber optic. Jadi, fiber optic itu harus. Kalau nggak, nanti 5G rasanya 4G, karena transportnya kurang. Jadi, itu yang sangat dibutuhkan," jelas dia.

Marwan menambahkan, ketersediaan fiber optic hingga saat ini masih terbatas, karena baru ada di perkotaan. Untuk itu, peran Kementerian Kominfo harus dioptimalkan untuk membantu para operator yang tergabung dalam asosiasi, agar pemerintah daerah bisa merelaksasi aturan-aturannya, sehingga proses penggelaran fiber optic dapat berjalan dengan mudah guna mendukung pengembangan 5G di Tanah Air.

Ia menuturkan, 5G yang ideal ada di frekuensi 3,5 GHz. Saat ini operator menggunakan frekuensi yang ada, jadi ada yang menggunakan 2,3 GHz. Hal ini dikarenakan penggunaan frkuensi 2,3 GHz masih memungkinkan dengan adanya dynamic spektrum sharing. "Tetap 5G, hanya menggunakan spektrum yang ada, jadi memang bandwith saat ini masih terbatas. Jadi, harapan kita 3,5 GHz bisa cepat," ujar Marwan.

Selain itu, dalam menerapkan teknologi 5G, operator lain selain Telkomsel juga perlu diberi equal treatment. "Jadi, kalaupun mereka menggunakan frekuansi yang ada, yakni 1.800 dan 2.100 dengan DSS, saya yakin pemerintah akan mendorong Uji Laik Operasi (ULO) segera diperoleh operator. Salah satu operator yang sudah mengajukan DSS adalah Indosat," ujarnya.

Tantangan

Saat ini, lanjut Marwan, masyarakat akan diperkenalkan 5G dengan frekuensi yang ada. Paling tidak masyarakat bisa merasakan 5G terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan masih adanya sejumlah kendala dan tantangan bagi para operator dalam penyediaan 5G.

Kendala dan tantangan yang dimaksud adalah pertama, spektrum. Kedua, fiber optic yang belum sepenuhnya terintegrasi."Jadi, fiber optic perlu merata. Apalagi, dalam menggelar fiber optic tentunya operator itu sewa pada pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat. Harapannya tentu mendapatkan harga yang affordable sebagaimana diamanatkan dalam UU Omnibuslaw. Sekarang bagaimana kita memastikan tools dari UU itu terimplementasikan sampai ke daerah. Karena, jangan dilupakan bahwa di Indonesia ini cukup banyak pemerintah daerah, yang mungkin saja tata cara mengimplementasikan UU itu juga berbeda. Ini tentunya menjadi kendala yang harus dihadapi," tutur Marwan.

Ketiga, memastikan aplikasi 5G ini berjalan. "Saya khawatir, jangan sampai kita sudah menaikkan teknologi ke 5G, tapi pemakaiannya hanya untuk akses internet. Ini tentunya sangat disayangkan," tegas Marwan.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN