Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Versi lanjutan dari East Ventures - Digital Competitiveness Index 2022. (IST)

Versi lanjutan dari East Ventures - Digital Competitiveness Index 2022. (IST)

East Ventures: Indeks Daya Saing Digital Indonesia Membaik

Selasa, 24 Mei 2022 | 15:59 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -s East Ventures, perusahaan modal ventura (venture capital/VC) dan pionir investasi start-up di Indonesia, meluncurkan versi lanjutan East Ventures - Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2022. Daya saing digital di 157 kota/kabupaten disebutnya terus menunjukkan tren positif dengan skor 43,5.

EV-DCI 2022 diharapkan bisa menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, investor, akademisi, dan pelaku bisnis untuk memetakan dan menetapkan strategi menuju era emas digital Indonesia.

Laporan lanjutan tersebut merupakan bagian dari EV- DCI 2022 yang diluncurkan lebih awal pada Maret 2022 dan memberikan informasi mendalam tentang daya saing digital pada 157 kota/kabupaten di Indonesia.

Operating Partner East Ventures David Fernando Audy mengatakan, laporan itu memberikan informasi yang lebih rinci tentang bagaimana setiap kota/kabupaten telah kontribusi menuju inklusi dan pemerataan daya saing digital di Indonesia.

“Laporan bertujuan untuk menandai keberhasilan dari sektor-sektor dan mengidentifikasi ruang perbaikan untuk mempercepat daya saing digital di Indonesia,” ujar David, dalam pernyataannya. Selasa (24/5/2022).

Baca juga: Menkominfo: Percepat Transformasi, Indonesia Latih Masyarakat Keterampilan Digital

Dia menjelaskan, daya saing digital di kota/kabupaten di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Hal ini terlihat dari laporan EV-DCI 2022 untuk 157 kota/kabupaten dengan skor 43,5, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (2021), yaitu 42,2 dan dua tahun sebelumnya, yakani 36,7 (2020).

Selain itu, nilai spread antara kota/kabupaten dengan kinerja tertinggi dengan terendah juga semakin menyempit, yang mengindikasikan semakin berkurangnya kesenjangan daya saing digital.

Pada 2020 dan 2021, kesenjangan antara peringkat teratas dan peringkat terbawah masing-masing 52,2 dan 48,2. Tahun ini, nilai kesenjangan turun menjadi 47,3. Temuan ini menunjukkan bahwa kelompok menengah dan bawah terus tumbuh dan mengejar peringkat kota/kabupaten teratas.

Menurut dia, konsisten dengan dua laporan sebelumnya, peringkat teratas kota/kabupaten di wilayah Jabodetabek dan Jawa masih mendominasi. Posisi lima teratas terdiri atas DKI Jakarta, Kota Bandung, Kota Yogyakarta, Kota Bekasi, dan Kota Depok, secara berurutan.

Sementara itu, kota/kabupaten lain di luar wilayah Jabodetabek juga terus menunjukkan peningkatan daya saing digital. Sebagai contoh, peringkat Kota Yogyakarta naik signifikan dari urutan ke-9 (2021) naik ke posisi ke-3 (2022).

Kabupaten Sleman naik lima peringkat ke posisi ketujuh, menandai sebagai kabupaten dengan kinerja terbaik. Di luar Jawa, salah satu kota/kabupaten yang mengalami peningkatan tajam adalah Kota Bengkulu yang naik 28 peringkat  ke posisi ke-14.

Peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan skor yang signifikan di bidang sumber daya manusia (SDM). Selain pilar SDM, Kota Yogyakarta meningkatkan pilar tenaga kerja, Pemkab Sleman meningkatkan pengeluaran untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan Kota Bengkulu ditopang pilar infrastruktur dan penggunaan TIK.

EV-DCI 2022

David melanjutkan, pandemi Covid-19 telah menghadirkan dinamika luar biasa yang mengubah lanskap ekonomi digital dalam satu tahun terakhir. Memasuki tahun ketiga, pertumbuhan ekonomi digital di 34 provinsi dan 157 kota/kabupaten disajikan dalam bentuk pengungkapan indeks yang terdiri atas kesiapan infrastruktur digital, SDM, kegiatan ekonomi digital, dan kebijakan pemerintah provinsi.

Baca juga: Fokus Investasi ke Start-up Indonesia dan Asia Tenggara, East Ventures Tutup Penggalangan Dana Multi-Stage US$ 550 Juta

EV-DCI 2022 memiliki tiga subindeks, yakni Input, Output, dan Penunjang. Subindeks Input dengan pilar bangunan yang terdiri atas SDM, penggunaan TIK, dan pengeluaran TIK.

Subindeks Output dibentuk oleh pilar ekonomi, kewirausahaan dan produktivitas, serta tenaga kerja. Terakhir, subindeks Penunjang dibentuk oleh pilar infrastruktur, keuangan, regulasi, dan kapasitas pemerintah provinsi.

Laporan EV-DCI 2022 juga dilengkapi dengan hasil survei terhadap 71 perusahaan digital, analisis delapan sektor, serta perspektif dari 18 tokoh. Perspektif ini mencakup pengambil kebijakan, antara lain Menko Perekonomian, Menko Maritim dan Investasi, Menteri BUMN, Menteri Kesehatan, dan lainnya.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN