Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar bertema tranformasi digital perguruan tinggi yang digelar Komunitas Sentra Vidya Utama (SEVIMA) pada Kamis (21/04/2022) pekan lalu. (IST)

Webinar bertema tranformasi digital perguruan tinggi yang digelar Komunitas Sentra Vidya Utama (SEVIMA) pada Kamis (21/04/2022) pekan lalu. (IST)

Ini Cara Mudah Transformasi Digital di Kampus ala Prof Marsudi dari BRIN

Minggu, 24 April 2022 | 18:26 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Transformasi digital di perguruan tinggi (PT) sangat penting untuk meningkatkan kualitas kampus. Sebab, mustahil menyiapkan putra-putri bangsa yang menguasai teknologi digital dan mampu menaklukkan tantangan global jika kampusa belum mahir menggunakan teknologi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dewan Pengarah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Prof Marsudi Wahyu Kisworo, dalam webinar Sentra Vidya Utama (SEVIMA) pada Kamis (21/04/2022) pekan lalu.

Dalam webinar yang dihadiri oleh 2.000 rektor dan dosen se-Indonesia tersebut, Marsudi menjelaskan manfaat yang bisa dirasakan bila PT melakukan transformasi digital serta berbagi tips bagi kampus untuk bertransformasi. 

Baca juga: Nadiem: Kampus Merdeka untuk Pembelajaran Lebih Menyenangkan dan Relevan

“Transformasi digital adalah sebuah disrupsi untuk meningkatkan bisnis serta pendidikan menjadi lebih cepat dan kuat. Teknologi digital seperti kuliah online, bahkan bisa mengurangi biaya pengeluaran di perguruan tinggi. Namun kalau tidak beradaptasi, kampus akan terdisrupsi dan ditinggalkan,” ungkap Marsudi, didampingi Direktur Utama SEVIMA Sugianto Halim dan para panelis.

Rencanakan Sejak Awal

Tips pertama transformasi digital ala Prof Marsudi adalah memahami apa saja permasalahan di kampus. Proses ini akan membantu perguruan tinggi dalam memetakan solusi digital apa yang diperlukan untuk bertransformasi ke digital.

“Misalnya pada permasalahan pandemi, apakah harus menghambat seluruh proses pembelajaran dan perbaikan sistem informasi akademik kampus? Jawabnya tentu saja tidak. Kalau kita bisa bertransformasi digital, mengelola kelas dan pelaporan justru makin murah dan mudah,” lanjut pria yang kini juga menjabat sebagai Ketua Aliansi Pendidikan Vokasional Se-Indonesia (APVOKASI).

Tips yang kedua, setelah memahami permasalahan, transformasi bisa dilanjutkan dengan cara merubah budaya dan pola pikir. Segenap komponen kampus pun harus siap melakukan perubahan, menyederhanakan pekerjaan yang ada, mengubah kebiasaan yang konvensional menjadi lebih maju dan kompeten, serta menjaga keamanan diri di ekosistem digital.

Keamanan siber menjadi poin penting karena ada orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan data-data tersebut. Karena itu, jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan dari banyaknya data yang dimiliki oleh sebuah PT. Keamanan pun bisa dimulai dengan cara setiap pengguna bertanggung jawab mengamankan datanya masing-masing.

“Ketika sudah beralih menuju digital, setiap SDM (sumber daya manusia) di perguruan tinggi harus mengubah mindset. Harus transformasi budaya yang lebih maju dan kompeten untuk bisa melakukan manajemen informasi yang lebih baik. Rektor, dosen, mahasiswa, semua harus mau berubah,” terangnya.

Manfaatkan Aplikasi

Sementara itu,  tips yang terakhir dan tak kalah penting adalah menentukan solusi digital yang tepat. Kampus pun bisa memilih, apakah akan membuat aplikasi sendiri, atau memanfaatkan aplikasi yang sudah ada.

Terlebih, aplikasi pembelajaran online seperti Zoom maupun sistem akademik berbasis awan (Siakadcloud) telah tersedia dan bisa dengan mudah diperoleh di internet. Kampus dapat mempertimbangkan kondisi kampus untuk menentukan solusi digital mana yang cocok.

Prof Marsudi mengungkapkan bahwa walaupun inovasi adalah hal yang baik, tidak semua kampus cocok untuk membuat aplikasi sendiri. Terlebih, kemampuan dosen di setiap kampus berbeda-beda. Ada kampus yang punya talenta yang mahir dalam pemrograman dan pembangunan jaringan, namun tak sedikit yang belum mampu. 

“Perguruan tinggi harus menyesuaikan setiap kemampuannya ketika membangun sistem informasi. Jangan sampai kampus yang belum mampu membangun sistem informasi memaksa untuk membuat sistem informasi sendiri,” ujarnya.

Baca jugaTokocrypto Buka Tempat Pembelajaran Blockchain "BlockSpace" di Kampus UGM

Aplikasi Gratis

Senada, Sugianto Halim, selaku Direktur Utama SEVIMA dan pakar teknologi informasi, mengungkapkan bahwa telah tersedia aplikasi akademik dan pelaporan (feeder) yang gratis dan telah digunakan ribuan kampus di Indonesia, seperti Gofeeder.

Aplikasi versi komunitas seperti itu bisa dengan mudah diinstal oleh operator dan tim akademik di server kampus. PT tidak perlu memikirkan perancangan aplikasi dan biaya. 

“Yang paling penting, bagaimana sistem akademik kita gunakan membentuk perguruan tinggi yang lebih kompeten. Aplikasi gratis seperti Gofeeder telah terintegrasi dengan sistem pelaporan pendidikan tinggi yang ada di Pemerintah Indonesia (Neofeeder), bisa jadi alternatif kampus-kampus kecil,” pungkas Sugianto.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN