Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkominfo Johnny G Plate. Foto: IST

Menkominfo Johnny G Plate. Foto: IST

Menkominfo Ingatkan Medsos Sigap Cegah Infodemi Covid-19

Rabu, 21 Juli 2021 | 11:38 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyesalkan maraknya informasi tak valid dan hoaks (infodemi) terkait pandemi Covid-19 di tengah masyarakat karena semakin mempersulit penanganannya. Semua platform media sosial (medos) pun diminta ikut berperan untuk mencegah penyebarannya.

Sepanjang 23 Januari 2020 hingga 18 Juli 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) telah menemukan adanya 1.763 isu hoaks terkait Covid-19 yang tersebar dalam 3.817 postingan di berbagai platform medsos. Sebanyak 3.356 postingan di antaranya telah diturunkan (take down).

Beragam temuan tersebut pun telah ditindaklanjuti dengan penegakkan hukum oleh Kepolisian RI (Polri), terhadap 767 kasus sampai dengan 15 Juli 2021.

“Saya menyesalkan banjir informasi yang tidak tepat dan sangat memengaruhi laju pemulihan pandemi Covid-19 di Indonesia. Oleh karena itu, saya instruksikan kepada semua platform digital untuk lebih proaktif melakukan penanganan konten hoaks,” ujar Johnny, dikutip Selasa (20/7).

Platform medsos juga diharapkannya bisa turut mengamplifikasi pesan yang membangun optimism dan kekuatan bangsa, serta turut menyebarkan informasi kebijakan dan penanganan Covid-19 oleh pemerintah, termasuk percepatan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan.

Menurut Menkominfo, pertemuan virtual dengan para pimpinan platform medos di Indonesia telah dilakukan pada Minggu (18/7). Tujuannya untuk menegaskan kembali tanggung jawab pengelola platform medsos dalam penanganan hoaks, termasuk infodemi di masa pandemi Covid-19.

“Penyebaran berita bohong sangat memengaruhi pemikiran manusia dan yang menjadi taruhannya nyawa saudara-saudari kita sebangsa Indonesia. Sudah banyak yang jadi korban dari penyebaran infodemi yang kian masif ini. Kita tidak boleh menyerah kalah,” imbuhnya.

Johnny pun menyampaikan bahwa penanganan infodemi perlu dilakukan secara lebih tegas karena hoaks dan disinformasi terkait Covid-19 masih terus dan marak beredar.

Masih Marak

Ilustrasi berita bohong atau hoax. ( Foto: kominfo.go.id )
Ilustrasi berita bohong atau hoax. ( Foto: kominfo.go.id )

Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Menkominfo dan perwakilan pengelola platform medsos telah membahas penyebaran infodemi yang masih marak dan menyimpulkannya dalam tiga isu utama.

Pertama, adanya 1.763 hoaks Covid-19 sepanjang 23 Januari 2020 hingga 18 Juli 2021 menyangkut isu antara lain pemelintiran informasi bahwa rumah sakit sengaja meng-covid-kan pasien yang datang demi keuntungan komersiil hingga kabar bahwa Covid-19 merupakan konspirasi.

Kedua, sepanjang 4 Oktober 2020 hingga 18 Juli 2021, telah ditemukan 252 isu hoaks terkait vaksin Covid-19 pada 1.850 postingan media sosial dan seluruhnya telah di-take down.

Temuan di antaranya terkait hoaks vaksin yang menyebabkan gelombang radiasi elektromagnetik, informasi keliru yang menuding bahwa vaksin menyebabkan kematian, dan informasi keliru yang menyatakan bahwa penyebaran Covid-19 varian Delta disebabkan karena vaksinasi.

Ketiga, sepanjang 4 Juli hingga 18 Juli 2021, telah ditemukan 25 isu hoaks Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 209 postingan media sosial, di mana 136 postingan di antaranya telah ditangani.

Temuan hoaks tersebut utamanya menyangkut informasi keliru tentang penolakan PPKM Darurat di berbagai daerah serta pemahaman yang salah mengenai perpanjangan PPKM Darurat.

Hulu-Hilir

Menkominfo menyampaikan, penanganan hoaks akan terus dilakukan Kemkominfo dari hulu ke hilir, dimulai dari edukasi literasi digital, pemutusan akses (take down) konten negatif bersama platform medsos, penerbitan klarifikasi hoaks, hingga mendukung Kepolisian RI dalam penegakan hukum.

“Diperlukan juga dukungan yang besar dari platform medsos untuk proaktif menangani hoaks dan secara agresif mendorong literasi digital di masyarakat,” ujar Johnny.

Saat ini, berbagai kanal telah diaktifkan sebagai upaya mengatasi infodemi Covid-19. Beberapa di antaranya kanal pemeriksaan fakta untuk klarifikasi hoaks (hoax debunking) mandiri, seperti melalui s.id/infovaksin dan s.id/ datacovid19id.

Masyarakat juga dapat mengadukan konten yang dinilai mengandung informasi yang tidak tepat terkait Covid-19 melalui kanal-kanal yang ada, salah satunya aduankonten.id.

Sulitkan Penanganan

Pendiri Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Harry Sufehmi setuju bahwa infodemi Covid-19 dapat mengganggu usaha pencarian solusi dan penanganannya. Pasalnya, selain adanya persoalan serius terkait infodemi, Indonesia saat ini tengah menghadapai tantangan pandemi Covid-19 yang sedang gawat.

“Istilah infodemi sudah mengglobal dan memperburuk situasi. Kita saat ini di situasi pandemi, wabah global, bukan lokal. Infodemi tidak menolong situasi yang parah ini,” kata Harry.

Selain itu, infodemi dapat berakibat fatal hingga menyebabkan korban nyawa. Fenomena ini sering muncul di tengah masyarakat, seperti muncul informasi tidak benar tentang adanya obat penangkal Covid- 19 yang membuat masyarakat merasa aman, sehingga mengabaikan anjuran protokol kesehatan. Di sisi lain, Harry juga menjelaskan bahwa sesungguhnya para ulama Islam zaman dahulu telah menyusun ilmu hadis untuk melawan hoaks, atau banyak beredar hadis palsu.

Intinya bahwa dasar untuk mendeteksi dan menangkal hoaks seperti diajarkan oleh ulama dalam menelusur sebuah hadis dengan dasar sanad dan matan, yaitu mengetahui asal, atau sumber dan bunyi makna dan pemahaman tentang isinya.

Kemudian, terkait konten, atau isi informasi, masyarakat sebaiknya mengecek apakah ada yang aneh, atau tidak. Apabila ada informasi yang membangkitkan emosi, marah, gusar, ketakutan, atau berlawanan dengan yang beredar di media utama (mainstream), penerimanya perlu mengecek kevalidannya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN