Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengemudi GrabBike dan mitra pengantaran GrabFood Ika Dewi Sulistiani. (Foto: Grab)

Pengemudi GrabBike dan mitra pengantaran GrabFood Ika Dewi Sulistiani. (Foto: Grab)

Tak Hanya Restoran, GrabFood Juga Untungkan Mitra Pengantaran

Jumat, 19 Februari 2021 | 09:48 WIB
Jayanty Nada Shofa

JAKARTA, investor.id - Layanan pesan antar GrabFood tidak hanya menguntungkan restoran, tetapi juga mitra pengantaran GrabBike.

Dewasa ini, masyarakat cenderung mengandalkan layanan pesan antar di kehidupan sehari-hari. Apalagi di masa pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan masyarakat. Hal ini tentunya mendorong semakin banyak restoran untuk bergabung ke layanan pesan antar. Dengan banyaknya pesanan yang masuk, itu berarti banyak pesanan yang harus diantar.

Sejak pertama kali diluncurkan, Grab selalu mengajak masyarakat untuk bergabung menjadi mitra mereka. Salah satunya yang terpincut dengan ekosistem digital Grab adalah Ika Dewi Sulistiani, seorang mitra pengemudi GrabBike dan GrabFood di Surabaya.

Setiap harinya, Dewi berangkat dari rumah pukul 06:00 WIB. Ia kemudian mengelilingi kota untuk menarik penumpang dan mengantar pesanan GrabFood hingga 21:00 WIB. Ibu tunggal ini bahkan menargetkan untuk mendapatkan minimal Rp 200.000 per harinya.

“Kalau bisa lebih kenapa tidak diusahakan. Selagi saya tidak sakit parah saya akan tetap bekerja. Bagi saya kerja itu penting, karena anak butuh biaya,” kata Dewi, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya.

Dewi sebelumnya bekerja sebagai tim administrasi cadangan di sebuah perusahaan. Namun, ia terpaksa harus mencari pekerjaan lain saat kontrak dia habis. Kemudian, Dewi menemukan lowongan sebagai pengemudi GrabBike di media sosial.

Saat pertama kali mendaftar, Dewi mengaku tidak terlalu percaya diri karena pendaftar lainnya semuanya adalah laki-laki. Smartphone-nya di saat itu juga hanya memiliki RAM 1 GB.

Setelah resmi menjadi pengemudi GrabBike, Dewi  bergabung di komunitas ojek online (ojol) Surabaya. Atas saran anggota komunitas ojol tersebut, Dewi kemudian mengganti smartphone-nya dengan RAM yang lebih besar. Berkonsultasi dengan sesama pengemudi juga membuatnya lebih bersemangat untuk menarik lebih banyak pesanan.

Menurut Dewi, pendapatannya selama di GrabBike membantunya untuk berjualan.

“Dari awal memang sudah berencana kalau ada sisa uang penghasilan nge-Grab bakal dijadikan modal usaha. Saya juga berpikir, usia seseorang itu semakin lama semakin tua. Saya tidak bisa selamanya menjadi driver karena tenaga saya pasti menurun nantinya. Tapi saya senang sekali di usia 31 tahun ini saya dipertemukan dengan Grab," kata Dewi.

"Saya bisa mencari nafkah untuk anak dan keluarga saya. Pilihan yang tepat untuk saya yang seorang single parent,” pungkasnya.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN