Menu
Sign in
@ Contact
Search

Endometriosis Sebabkan Mandul hingga Ginjal Rusak

Kamis, 1 Maret 2018 | 22:03 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Setiap haid, Dewi selalu merasakan nyeri perut hebat. Nyeri itu membuatnya tak bisa beraktivitas.

 

“Nyeri haid adalah salah satu gejala endometriosis. Penyakit ini tidak bisa disepelekan karena apabila sudah parah, bisa menyebabkan kerusakan di berbagai organ tubuh, seperti saluran telur, liver, ginjal, usus, hingga paru-paru,” kata dr.med. Ferdhy Suryadi Suwandinata, Sp.OG-KFER selaku dokter spesialis kebidanan dan kandungan Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHK) di Jakarta, Rabu (28/2).

 

Endometriosis, kata Ferdhy, adalah suatu kumpulan gejala yang salah satunya merupakan nyeri haid dan ketidaksuburan. Hal ini disebabkan oleh jaringan endometrium yang letaknya ektopik atau tidak beraturan, misalnya di ovarium, dinding luar rahim, vagina, usus, dan kandungan kemih.

 

“Gejala awal yang paling umum dan paling sering adalah nyeri yang berlebihan pada saat menstruasi,” jelas Ferdhy.

 

Meski umumnya tidak mematikan, penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa penderitanya juga merasakan sakit saat buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) ataupun saat berhubungan seks karena jaringan endpmetriosisnya tertekan.

 

Selain nyeri tersebut, gejala lain endometriosis adalah berdarah saat BAB atau BAK atau juga berdarah saat batuk. “Berdarah saat BAK disebabkan karena endometriosis tumbuh di saluran kencing hingga ginjal. Berdarah BAB karena endometriosis tumbuh di usus, dan berdarah saat batuk karena tumbuh di paru-paru. Apabila ini tidak diatasi, dalam jangka panjang akan menyebakan organ-organ tersebut rusak,” tegas dr Ferdhy.

 

Apabila tumbuh di saluran telur, wanita penderitanya tidak akan bisa hamil. “Ini karena sperma sulit bertemu telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Endometriosis umumnya ditemukan pada wanita usia subur dengan prevalensi 1 dari 10 wanita. Hal yang memicu timbulnya endometriosis salah satunya adalah hormon estrogen. Hormon estrogen yang tinggi dapat menyebabkan kondisi semakin parah. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan penyakit ini umumnya menyerang wanita usia produktif.

 

“Selain hormon estrogen tinggi, beberapa faktor risiko yang diduga menjadi pemicu endometriosis adalah faktor keturunan, sistem kekebalan tubuh, faktor adaptasi sel sesuai lingkungan organnya, dan faktor paparan lingkungan,” jelas dr Ferdhy.

 

Penanganan pada penyakit ini bervariasi, tergantung pada keluhan yang dialami. Untuk keluhan nyeri saat haid biasanya dapat diatasi dengan penggunaan obat-obatan penghilang nyeri dan obat-obatan hormonal seperti pil KB. Sementara untuk keluhan ingin hamil dapat diatasi dengan penanganan fertilitas ataupun kesuburan wanita. “Untuk kasus yang parah, endometriosis harus dibuang melalui operasi,” tandas dr Ferdhy. (nan)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com