Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Jantung Dunia diperingati setiap 29 September

Hari Jantung Dunia diperingati setiap 29 September

Hari Jantung Dunia

Pasien Jantung Didominasi Perempuan

Selasa, 29 September 2020 | 19:57 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id Perempuan merupakan pasien tertinggi penderita penyakit jantung. Riset tentang pasien yang dibantu Yayasan Jantung Indonesia (YJI) sejak 1974-2019 menunjukkan sebanyak 55.7% adalah wanita.

 

Di Hari Jantung Dunia atau World Heart Day (WHD) yang dirayakan setiap 29 September 2020, data tersebut membuat mata kita terbuka. Selama ini, penyakit jantung identik dengan pria. Tapi faktanya, justru pasien jantung didominasi wanita. Sayangnya, belum ada penjelasan mengenai ini.

 

Riset juga meneliti tentang pasien YJI yang berhasil dilakukan tindakan operasi sejak berdirinya YJI 1974-2019. Riset ini dipimpin oleh dr Siska S Danny Sp.JPK(K). Dalam kurun waktu 44 tahun YJI berhasil melakukan operasi sebanyak 1.828 pasien dari seluruh Indonesia . Pasien berasal dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara yang didapat berkat bantuan dari seluruh cabang YJI di 34 provinsi.

 

“Melihat dari karakteristik pasien, dari total 1.828 pasien, sejumlah 1019 orang atau 55.7% adalah wanita, sedangkan sisanya sebanyak 809 orang atau 44.3% adalah pria. Untuk rentang usia, jumlah terbanyak adalah rentang usia 0 – 6 tahun,” kata Ketua umum YJI Esti Nurjadin dalam keterangan pers, Selasa (29/9/2020).

 

Dari hasil riset dr Siska S Danny Sp.JP(K) di tahun 1975 – 2019, ada lima kota dengan jumlah pasien jantung terbanyak yang mendapat bantuan medis. Kota tersebut adalah DKI Jakarta (595 orang atau 32.5%), Jawa Barat (335 orang atau 18.3%), Kalimantan Timur (154 orang atau 8.4%), Jawa Timur (148 orang atau 8%), Sumatera Barat (53 orang atau 2.9%).

 

Berdasarkan waktu periode tindakan secara keseluruhan dalam kurun waktu 1975-2019, ditemukan data paling banyak pasien di periode tahun 1989-1993 yaitu sebanyak 361 pasien. Sedang diantara tahun 1984-1999 berdasarkan kecenderungan jumlah pasien yang dibantu ditemukan jumlah tertinggi yaitu sejumlah rata-rata 70 pasien tiap tahunnya.

 


Esti menyebutkan, penyakit jantung yang diderita pasien beragam. Dalam kurun waktu 1975-1999 dari jumlah pasien sebanyak 1.138 orang ditemukan sejumlah 381 orang (32.7%) mengalami penyakit jantung valvular, 690 orang (59.2%) mengalami penyakit jantung bawaan, sedangkan 67 orang (5.8%) sisanya jenis penyakit jantung lainnya (TAVB, PPM, Angina Pectoris/CAD, Arteritis (peradangan), Takayama, Myxoma, LV, dan sinkop).

 

Sedang dalam kurun waktu 2000 – 2019 dari jumlah 622 orang pasien, sebanyak 91 orang (13.7%) mengalami penyakit jantung valvular, 537 orang (81.1%) mengalami penyakit jantung bawaan, dan sisanya 5 orang (0.8%) jenis penyakit jantung lainnya (LA myxoma, PPM, dan TAVB).

 

Butuh banyak biaya

 

Sejak awal berdiri (1974), YJI yang berupaya melakukan pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah sudah mengedepankan program kuratif, yaitu membantu operasi jantung bagi anak-anak dari keluarga pra sejahtera yang menderita penyakit jantung bawaan. Karena penyakit jantung bawaan merupakan masalah kesehatan yang patut diperhatikan di Indonesia.

 

Di era sebelum BPJS, angka deteksi cukup rendah, karena tatalaksananya sulit dan biaya cukup mahal. Sehingga sebagian besar pasien sangat tergantung pada sumber pembiayaan lain, salah satunya dari public funding, antara lain YJI.

 

Namun di era setelah BPJS, angka pasien yang terdeteksi meningkat karena akses terhadap pelayanan kesehatanya lebih baik. Namun berakibat pada antrean panjang pasien yang membutuhkan penanganan, baik diagnostik maupun tindakan intervensi.

 

Sementara sistem pelayanan kesehatan Indonesia belum dapat menangani semua pasien yang membutuhkan secara cepat. Karenanya masih dibutuhkannya sumber pembiayaan lain untuk memperbaiki pelayanan terhadap anak-anak dengan penyakit jantung bawaan.

 

Sebagai informasi, dari riset yang dilakukan, ada lima rumah sakit selama prosedur yang dilakukan dengan jumlah pasien terbanyak. Rumah sakit tersebut adalah Pusat Jantung Nasional Harapan Kita sebanyak 1427 orang, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo 162 orang, Rumah Sakit Dr. Soepomo Surabaya 45 orang, RSPAD Gatot Subroto 38 orang, Rumah Sakit Siloam 38 orang.

 

Untuk prosedur kesehatan ditemukan data sebanyak 1.641 orang dilakukan tindakan operasi, 121 orang tanpa tindakan operasi, 60 orang mendapatkan tindakan diagnosa klinis, dan sisanya mendapatkan tindakan lainnya.

 

Selama kurun waktu 2000-2013, tingkat kesuksesan dalam prosedur kesehatan tercatat sebesar 99.4%, sedang dalam kurun waktu 2014-2019 tercatat sebesar 96.5% dengan sumber dana dari Yayasan Jantung Indonesia, donatur, sponsor, dan lain sebagainya.

 

Saat ini kemajuan tatalaksana penyakit jantung bawaan di Indonesia perlahan mulai membaik. Pasien penyakit jantung bawaan pada periode di bawah tahun 2000, sebagian besar harus menjalani tindakan operasi jantung terbuka. Namun setelah tahun 2000 mulai bisa ditangani, dengan menggunakan prosedur intervensi non bedah yang tentunya berkaitan dengan lama rawat dan waktu pulih yang lebih singkat untuk pasien.

 

Sampai sekarang, hal yang masih harus dilakukan adalah pemerataan distribusi bantuan pasien di luar pulau Jawa, mempersiapkan database baku dari pasien yang dibantu, dan melakukan analisa data tahunan. Menindaklanjuti pasien yang dibantu melalui cabang lokal untuk mempertahankan komunitas dari pasien yang dibantu oleh YJI, membuat komitmen bersama antara YJI bersama pasien dan keluarganya. Juga membentuk grup support untuk pasien-pasien terdahulu dalam mengatasi kesulitan hidup dengan penyakit jantung di kemudian hari.

 

“Namun yang menjadi pesoalan adalah, bahwa antrean untuk prosedur (baik operasi maupun intervensi non bedah), memang benar masih panjang. Namun apapun keadaannya, YJI terus berusaha membantu tindakan operasi bisa berjalan tepat waktu. Selamat Hari Jantung Sedunia,” ucap Esti.

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN