Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar bertajuk Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin? yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Lippo Village dan Roche Indonesia, Kamis (18/11/2021).

Webinar bertajuk Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin? yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Lippo Village dan Roche Indonesia, Kamis (18/11/2021).

Gaya Hidup Pasif Selama Pandemi Tingkatkan Prevalensi Penyakit Jantung

Kamis, 18 November 2021 | 19:50 WIB
Hendro Situmorang

TANGERANG, investor.id  - Penyakit jantung masih menjadi penyumbang angka kematian tertinggi di dunia. Gaya hidup masyarakat yang semakin pasif selama pandemi Covid-19, turut berkontribusi bagi peningkatan prevalensi penyakit jantung.

Di tengah euforia menurunnya kurva pandemi Covid-19 di Indonesia, penyakit jantung masih menempati posisi pertama penyebab kematian di seluruh dunia. Gaya hidup pasif mayoritas pada usia produktif di perkotaan dinilai menjadi salah satu penyebab. Padahal, penyakit jantung sejatinya bisa dicegah dengan deteksi dini secara rutin dan komprehensif, yang disesuaikan dengan riwayat kesehatan serta gaya hidup tiap individu.

Hal itu dikatakan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Lippo Village, dr Antonia Anna Lukito dalam sesi webinar bertajuk “Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin?” yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Lippo Village dan Roche Indonesia, Kamis (18/11/2021).

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Lippo Village, dr Antonia Anna Lukito
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Lippo Village, dr Antonia Anna Lukito

"Penyakit jantung telah menyebabkan setidaknya 15 dari 1.000 orang di Indonesia menderita penyakit kardiovaskular pada 2018. Gejala penyakit jantung kerap tidak disadari oleh pengidapnya, terutama jika pasien masih berusia muda dan produktif," kata dia.

Padahal, gejala seperti sesak napas yang disertai dengan keringat dingin, rasa lemas, jantung berdebar, atau nyeri dada sebelah kiri, kemungkinan besar menandakan adanya gejala penyakit jantung yang perlu dideteksi dan ditangani sejak dini.

Oleh karena itu, cek jantung sejak dini juga berperan penting dalam menentukan tes-tes lanjutan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan jantung masing-masing individu.

Webinar bertajuk Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin? yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Lippo Village dan Roche Indonesia, Kamis (18/11/2021).
Webinar bertajuk Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin? yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Lippo Village dan Roche Indonesia, Kamis (18/11/2021).

“Gejala-gejala penyakit jantung di fase awal kerap dirasakan sebagai gejala umum yang tidak membahayakan kesehatan. Sehingga, banyak pasien yang baru memeriksakan jantungnya ketika sudah mengalami gejala yang cukup parah," urai dr Antonia.

Negara lain bahkan merekomendasikan warganya untuk melakukan cek jantung rutin secara berkala minimal lima tahun sekali sejak usia 18 tahun. Hal itu harus semakin sering jika memiliki riwayat kesehatan atau gaya hidup tertentu.

"Pada tahap ini, deteksi dini sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya keterlambatan penanganan pada penyakit jantung,” pungkas dr Antonia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN