Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Museum tsunami Aceh. Foto: Investor Daily/IST

Museum tsunami Aceh. Foto: Investor Daily/IST

Menyusuri Museum Tsunami Aceh

Minggu, 24 Januari 2021 | 13:31 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

GEMPA bumi dan tsunami dahsyat menghantam Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004. Bencana alam itu menjadi duka nasional, bahkan menerpa sejumlah negara.

Peristiwa 16 tahun lalu itu merenggut sekitar 227 ribu jiwa. Gempa bumi 9,1 skala richter meluluhlantakan bangunan dan menimbulkan tsunami skala besar.

Untuk mengenang tsunami dahsyat tersebut sejumlah lembaga yaitu Badan Rekonstruksi dan Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Ikatan Arsitek Indonesia memprakarsai pembangunan Museum Tsunami Aceh.

Pembangunan museum ini juga sekaligus untuk mengenang para korban dan syuhada yang gugur dalam peristiwa tsunami.

Kini, museum tersebut menjadi tempat wisata masyarakat. Museum Tsunami ini terdiri atas empat tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa islam. Dari arah luar dapat terlihat bangunan ini berbentuk seperti kapal, dengan sebuah mencu suar berdiri tegak di atasnya.

Tampilan eksterior yang luar biasa yang mengekspresikan keberagaman budaya Aceh terlihat dari ornamen dekoratif unsur transparansi elemen kulit luar bangunan. Ornamen ini melambangkan tarian saman sebagai cerminan Hablumminannas, yaitu konsep hubungan antar manusia dalam islam.

Fasilitas Museum

Museum tsunami Aceh. Foto: Investor Daily/IST
Museum tsunami Aceh. Foto: Investor Daily/IST

Museum Tsunami Aceh terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda dekat Simpang Jam dan berseberangan dengan Lapangan Blang Padang kota Banda Aceh dan diresmikan pada Februari 2008.

Selain sebagai tempat untuk mengenang gempa bumi yang mengakibatkan tsunami tahun 2004, museum ini juga menjadi pusat Pendidikan.

Selain itu, sekaligus sebagai pusat evakuasi jika bencana tsunami sewaktu-waktu datang kembali. Bangunan museum ini didesain oleh seorang dosen arsitektur ITB Bandung, M Ridwan Kamil yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

Desain yang berjudul Rumoh Aceh as Escape Hill ini mengambil ide dasar rumoh Aceh yaitu rumah tradisional masyarakat Aceh berupabangunan rumah panggung. Museum dibangun dengan dana sekitar Rp 70 miliar.

Lantai pertama museum ini merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar dan fungsinya sebagai tempat untuk mengenang peristiwa tsunami. Di lantai ini terdapat beberapa ruangan yang berisi rekam jejak kejadian tsunami 2004. Antara lain ruang pamer tsunami, pra tsunami, saat tsunami dan ruang pasca tsunami.

Selain itu, beberapa gambar peristiwa tsunami, artefak jejak tsunami, dan diorama juga ada di lantai ini. Salah satunya adalah diorama kapal nelayan yang diterjang gelombang tsunami dan diorama kapal PLTD Apung yang terdampar di Punge Blang Cut.

Lalu, di lantai dua museum berisi media-media pembelajaran berupa perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D (empat dimensi), dan souvenir shop. Alat peraga yang ditampilkan antara lain yaitu, rancangan bangunan yang tahan gempa, serta model diagram patahan bumi.

Selain itu, juga ada beberapa fasilitas terus disempurnakan seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi, serta cafe. Kemudian eksterior dari museum ini mengekspresikan keberagaman budaya Aceh dengan ornament dekoratif berunsur transparansi seperti anyaman bambu. T

ampilan dengan interiornya unik ini akan menggiring wisatawan untuk bisa melakukan perenungan atas musibah dahsyat yang diderita warga Aceh, sekaligus kepasrahan dan pengakuan atas kekuatan dan kekuasaan sang pencipta.

Selain itu, museum ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Museum Tsunami tidak memberlakukan tiket masuk alias gratis, kecuali jika para penelusur ingin menyaksikan tayangan 4D maka akan dipungut biaya.

Saat mulai memasuki museum maka para penelusur akan menemui lorong sempit dengan air terjun yang mengeluarkan suara bergemuruh di kedua sisinya seakan mengingatkan dahsyatnya gelombang tsunami.

Museum ini juga menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004, foto-foto korban dan kisah dari korban selamat.Lokasi museum sangat mudah sekali di jangkau baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi.

Kehadiran museum ini juga sebagai bentuk perhatian dan kenangan bagi masyarakat Indonesia dan warga Aceh, sekaligus symbol kebangkitan warga Aceh untuk mengenal lebih dekat peristiwa yang terjadi saat itu. Dibangun pada 2008, museum ini dibuka untuk umum pada 2011.

Kini museum tersebut dijadikan sebagai tempat destinasi wisata yang wajib dikunjungi oleh wisatawan saat berada di Aceh. Fasilitas di Museum Tsunami sudah cukup lengkap, karena sudah terdapat toilet, ruang parkir, musala, toko suvenir, ruang geologi, pusat kuliner, hingga perpustakaan, semuanya tersedia.

Setelah puas berkeliling Museum Tsunami, wisatawan juga bisa melihat langsung Kapal PLTD Apung yang masuk ke daratan. Kapal pembangkit listrik tenaga diesel apung (PLTD) Apung yang terletak di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Panjang kapal ini 63 meter, mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 Megawatt dan berbobot 2.600 Ton.

Museum tsunami Aceh. Foto: Investor Daily/IST
Museum tsunami Aceh. Foto: Investor Daily/IST

Dengan bobot yang besar itu, sulit membayangkan kapal ini dapat terhempas hingga ke pemukiman penduduk.

Gelombang tsunami mampu menggerakkannya. kapal ini terseret  gelombang setinggi sembilan meter. Jalur yang dilalui kapal semuanya lenyap tak berbekas, padahal kawasan tersebut awalnya padat penduduk.

Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa yang jatuh akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Tertera tanggal dan waktu kejadian dari musibah yang juga menimpa beberapa Negara selain Indonesia.

Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan.

Kemudian ada Kubah Al-Tsunami, Kubah Masjid Lamteungoh di Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Saat tsunami menjadi hancur dan yang tersisa hanya kubah yang beratnya puluhan ton. Gelombang Tsunami membuat kubah itu terombang ambing seakan mencari dudukan yang tepat dan terseret sejauh 2,5 kilometer hingga sampai ke hamparan sawah di Desa Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar.

Kubah yang kini dinamai Kubah Al-tsunami tersebut juga dianggap kapal penyelamat. Karena banyak orang yang menyelamatkan diri dengan naik ke atas kubah. Kubah tersebut saat ini menjadi salah satu destinasi_wisata_di Aceh. Setiap menjelang peringatan tsunami, rata-rata 200 wisatawan mengunjungi lokasi kubah yang letaknya di tengah sawah ini.

Baca juga

https://investor.id/lifestyle/menginap-di-serambi-mekah

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN