Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bincang Kelaparan pada Balita digelar oleh Foodbank of Indonesia

Bincang Kelaparan pada Balita digelar oleh Foodbank of Indonesia

Miris, Balita Tak Sarapan, Orang Tua Habiskan Uang untuk Rokok

Jumat, 30 Oktober 2020 | 17:00 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Kondisi kesehatan anak Indonesia sungguh memprihatinkan. Sebanyak 27% dari total 21,9 juta balita tak sarapan hingga siang hari. Sementara itu, orang tua khususnya ayah, justru menghabiskan 2/3 pengeluaran keluarga untuk rokok.

 

“Hasil survei Foodbank of Indonesia (FOI) pada Agustus 2020 di 14 kota, 27% balita ke sekolah Paud dengan perut kosong karena tidak makan hingga siang hari. Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya mencapai 40-50%. Jika kelaparan terjadi dalam jangka panjang, terdapat kemungkinan gizi buruk yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada balita,” ungkap pendiri FOI Hendro Utomo dalam bincang media Catatan di Hari Sumpah Pemuda: Media Bisa Akhiri Kelaparan pada Balita yang digelar FOI, Rabu (28/10/2020).
 

Sebelum pandemi Covid-19, Indonesia, kata Hendro, memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018). Pada sebuah keluarga, balita memang lah kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan. Mereka sangat tergantung orang tua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser oleh kebutuhan keluarga yang lain.

 

“Dengan adanya pandemi Covid-19, kondisi 7 juta anak stunting dan 27% balita tak sarapan itu makin parah karena kemiskinan yang bertambah, angka pengangguran, dan tingkat pendidikan yang rendah. Peluang generasi yang hilang dalam situasi​ pandemi Covid-19 semakin terbuka,” miris Hendro.

 

Padahal, sebelumnya, jumlah stunting dari total 79,5 juta anak Indonesia (usia 0-17 tahun) semakin menurun. Pada 2013, jumlah anak stunting mencapai 37%, pada 2018 menurun menjadi 30%, dan turun lagi menjadi 27,7% pada 2019. “Prevalensi stunting pada 2024 ditargetkan menurun jadi 14%. Karena itu diperlukan upaya keterlibatan dari banyak pihak untuk pemenuhan gizi anak,” tegas Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA,​Lenny N Rosalin.

 

Mirisnya, kata Lenny, di tengah upaya pemenuhan gizi anak, pengeluaran rokok sampai menghabiskan 2/3 pengeluaran keluarga. Di kota, rokok menghabiskan 12.2% pengeluaran keluarga dan di desa 10,9%. “Bandingkan dengan pengeluaran untuk beli telur ayam yang hanya menghabiskan 4,3% pengeluaran keluarga di kota dan 3,7% di desa, pengeluaran untuk beli ayam yang 4,1% di kota dan 2,4% di desa, beli mie intan 2,3% di kota dan 2,1% di desa, dan beli beras 20,2% di kota dan 25,3% di desa,” ungkap Lenny.

 

Pangan lokal

 

Dekan FTP UGM Eni Harmayani memaparkan masalah kelaparan ini terdiri atas tiga hal, yaitu food insecurity, malnututririn, dan diet. “Bisa juga gizi makanan bagus, tapi cara memasak dan mengolahnya yang salah. Faktor lain adalah kemampuan daya beli. Solusinya adalah kembali ke pangan lokal,” tegas Eni.

Upaya kembali ke pangan lokal ini juga tidak mudah. Banyak ibu-ibu lebih suka memberi uang jajan kepada anak ketika berangkat sekolah. Karena itu, kampanye kembali ke pangan lokal ini harus digaungkan dan diedukasi ke masyarakat agar isu kelaparan pada balita dapat diatasi demi mewujudkan Indonesia merdeka 100% dari rasa lapar.

 

“Melalui kampanye Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia Seri Ikan untuk Anak, FOI bersama Beejay Seafood akan memberikan ikan untuk 20 ribu anak di tujuh provinsi di Indonesia sebagai aksi nyata kembali ke pangan lokal,” tandas Hendro.

Editor : Mardiana Makmun (nana_makmun@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN