Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peluncuran OVO virtual media gathering, Selasa (13/4).

Peluncuran OVO virtual media gathering, Selasa (13/4).

OVO: Masyarakat Hadapi Tantangan Atur Keuangan Saat Ramadan

Selasa, 13 April 2021 | 15:24 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  – Ramadan 2021 merupakan kedua sejak terjadinya pandemi Covid-19. Tak bisa dipungkiri, ini tentu bukanlah hal yang mudah dan banyak rintangan yang dihadapi masyarakat di masa ini. Salah satunya adalah tantangan dalam mengatur keuangan selama Ramadan.

Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan OVO yang dilakukan pada 469 responden pengguna OVO di Jabodetabek dan non Jabodetabek menemukan bahwa 6 dari 10 orang mengalami kesulitan mengatur keuangan saat Ramadan. Terlebih karena kondisi pandemi sehingga kebutuhan cenderung lebih banyak.

Head of Corporate Communication OVO Harumi Supit mengatakan 52% orang menggunakan dana darurat, baik yang ditarik dari tabungan ataupun investasi. Hal itu dilakukan dengan alasan memenuhi kebutuhan saat Ramadan.

Tidak hanya itu, sebanyak 4 dari 10 orang melenceng jauh dari rencana awal terkait perencanaan keuangan saat Ramadan.

Peluncuran OVO virtual media gathering, Selasa (13/4).
Peluncuran OVO virtual media gathering, Selasa (13/4).

Survei itu juga menemukan bahwa 43% orang menggunakan seluruh THR-nya untuk kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri. “Sayangnya, hanya 4 dari 10 orang yang menyimpan THR-nya untuk tabungan jangka panjang,” ungkapnya di sela peluncuran OVO virtual media gathering, Selasa (13/4).

Masih berdasarkan survei tersebut, lanjut Harumi, sebanyak 50% orang akan tetap memberi THR meskipun tidak dapat bertemu saudara dan kerabat. THR tersebut akan dibagikan melalui transfer. Sedangkan tidak mendapat THR menjadi kekhawatiran terbanyak yang dipilih responden terkait Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini.

Terakhir, mayoritas responden memilih untuk menyalurkan THR sebagai hadiah untuk orang lain, kebutuhan sehari-hari, ditabung dan berinvestasi.

Perencana Keuangan Lolita Setyawati CFP® mengungkapkan membengkaknya dana yang harus dikeluarkan selama Ramadan karena adanya 'Gaya Hidup Ramadan'. Gaya hidup ini terjadi karena kebiasaan masyarakat yang selalu membeli cemilan atau takjil untuk berbuka puasa.

Belum lagi adanya belanja untuk penampilan yang biasanya terjadi menjelang hari Raya Lebaran, serta adanya THR yang membuat mereka sangat bergantung pada THR.

“Karena esensinya THR itu adalah bonus. Tapi karena selalu didapatkan setiap tahun menjadi hal yang rutin sehingga masyarakat menjadi sangat bergantung pada THR. Padahal, THR adala tunjangan hari raya yang hanya digunakan untuk hari raya,” paparnya.

Lebih lanjut Lolita menambahkan kesalahan yang sering kali dilakukan saat Ramadan, antara lain tidak membuat perencanaan atau anggaran dan tidak mencatat pengeluaran. Tidak hanya itu, sering sekali mudah tergoda 'keinginan. Ditambah lagi, menggunakan sumber dana yang tidak sesuai peruntukkan. Misalnya Dana Darurat. Bahkan, berhutang demi gaya hidup Ramadan.

Terakhir, tidak membuat skala prioritas. Sementara saat Ramadan, ada beberapa kebutuhan tambahan ataupun pengeluaran khas Ramadan, seperti biaya mudik, zakat, memberikan THR pada yang bekerja. Seta memberikan bingkisan baik keluarga maupun kerabat.

“Alhasil, banyak faktor yang membuat pengelolaan keuangan melenceng dan harus disiplin membagi antara pos penting, cukup penting dan tidak penting,” tambahnya.

Untuk itu, Lolita mengatakan ada beberapa tips mengatur keuangan selama Ramadan, yaitu Pertama, buatlah daftar prioritas sesuai kebutuhan.

Kedua, siapkan dana ekstra untuk kebutuhan tambahan. Ketiga, belanja di awal atau dicicil sebelum bulan Ramadan. Terakhir, buatlah menu sahur dan buka puasa untuk menghindari pembelanjaan makanan yang impulsif.

“Hal ini karena biasanya kebanyakan saat jam 3 sore kebanyakan pesan-pesan makanan. Tapi pas berbuka puasa hanya makan sedikit saja. Akhirnya malah akan menjadi mubazir,” ucapnya.

Sementara itu, Psikolog PGCertPT Irma Gustiana A SPsi MPsi menambahkan banyak persoalan bermunculan selama pandemi ini. Bukan hanya masalah kesehatan, pandemi juga mengubah hampir seluruh lini kehidupan, termasuk perekonomian bahkan psikologis seseorang.

Berdasarkan data Lembaga Penelitian SurveyMeter, pada akhir Mei 2020 tingkat kecemasan dan depresi penduduk Indonesia pada masa pandemi meningkat, 55% mengalami gangguan kecemasan dan 58% mengalami gangguan depresi. Ketidak ikhlasan dalam menerima masalah, takdir, atau apa yang ada dalam hidup akan menghalangi kebahagiaan dan menurunkan kualitas hidup, baik fisik maupun mental.

“Oleh karena itu, berupayalah untuk ikhlas, sabar, dan senantiasa bersyukur,” paparnya.

Irma pun memberikan tips beribadah maksimal dengan fisik dan mental yang sehat., yaitu dengan IKHLAS. Isi waktu dengan mencari kesibukan atau kegemaran baru.

Kajian, tadarus, buka puasa, sahur online bersama keluarga dan teman-teman. Hayati dan menerima segala bentuk cobaan yang diberikan Tuhan adalah bagian dari proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai individu.

Luangkan waktu untuk menjaga kebugaran dan merawat diri. Abaikan informasi atau berita yang memberikan dampak negatif pada kesehatan mental. Saling mendukung, saling mengingatkan dan memberdayakan sehingga daya tahan keluarga meningkat dan lebih bahagia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN