Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

SAL dan Obligasi Global Rp 105 T Cukupi Belanja Awal Tahun

Selasa, 15 Desember 2015 | 10:29 WIB
Oleh Yosi Winosa dan Novy Lumanauw

JAKARTA – Pemerintah memiliki dana sekitar Rp 105 triliun untuk mencukupi belanja modal dan gaji pegawai awal tahun depan, yang terdiri atas saldo anggaran lebih (SAL) Rp 55,6 triliun dan obligasi global untuk pre-funding US$ 3,5 miliar (Rp 49,3 triliun).


Dengan dana tersebut, pada Januari mendatang, proyek-proyek infrastruktur yang sudah dilelang tahun ini bisa mulai dikerjakan meski belum ada penerimaan dalam APBN 2016. Pada Senin (14/12), presiden telah menyerahkan 22.965 DIPA 2016 senilai Rp 784,1 triliun kepada kementerian/lembaga penerima anggaran.


Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2016 itu diserahkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/12). Total ada 22.965 DIPA senilai Rp 784,1 triliun, yang terdiri atas 2.249 DIPA kantor pusat senilai Rp 523,3 triliun dan 20.716 DIPA untuk satuan kerja di daerah yang meliputi kantor vertikal, dekonsentrasi, tugas perbantuan, dan urusan bersama senilai Rp 260,8 triliun.


Setelah menyerahkan DIPA kepada penerima anggaran, Kepala Negara memerintahkan pimpinan kementerian/lembaga (K/L), gubernur, walikota, dan bupati se-Indonesia untuk secepatnya menggunakan anggaran mulai Januari mendatang.


Untuk mengantisipasi belum masuknya penerimaan negara tahun anggaran 2016 pada awal tahun, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Robert Pakpahan mengatakan, pemerintah telah mengeksekusi lebih awal surat berharga negara (SBN) berdenominasi dolar AS (global bond) US$ 3,5 miliar untuk pre-funding. Penerbitan ini lebih rendah dibanding tahun 2015 sebesar US$ 4 miliar pada awal Januari lalu.


“Penerbitan global bond US$ 3,5 miliar pada 2 Desember lalu cukup dalam rangka pre-funding. Apakah selanjutnya akan dilakukan penambahan, tentu semua harus dengan memperhatikan kondisi ekonomi global yang ada,” kata Robert Pakpahan di Bali, Jumat (11/12).


Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu Marwanto Harjowiryono mengatakan kepada Investor Daily, belum lama ini, masih ada saldo anggaran lebih (SAL) Rp 55,6 triliun yang bisa ditarik untuk menambal defisit fiskal jika penerbitan SBN netto sudah melampaui target. SAL merupakan akumulasi sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa).


“Penggunaan SAL lazimnya di awal tahun, karena penerimaan pajak belum terealisasi. Padahal, kebutuhan pembiayaan awal tahun biasanya mencapai Rp 47 triliun-50 triliun, untuk belanja rutin gaji pegawai Rp 8 triliun, dana pensiun Rp 6 triliun per bulan, plus Dana Alokasi Khusus (DAU) daerah Rp 29,5 triliun. Selain itu, untuk proyek infrastruktur, karena di awal tahun pemenang tender bisa menarik uang muka 10-15% dari kontrak, jika di akhir tahun sebelumnya tender sudah didapatkan,” paparnya.


Penggunaan SAL untuk menutup defisit ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 163/ PMK.05/2015. PMK menyebutkan, jika defisit melampaui target, maka akan dibiayai dengan menggunakan dana yang bersumber dari SAL, penarikan pinjaman siaga, dan penerbitan SBN. (bersambung)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/realisasi-apbnp-2015-rp-1389-triliun/135335

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN