Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet

SURPLUS NERACA PERDAGANGAN,

Ekonom: Pemulihan Ekonomi Masih Tertahan Permintaan

Rabu, 15 September 2021 | 22:12 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kondisi neraca perdagangan yang mengalami surplus pada Agustus 2021s sebesar US$ 4,74 miliar dinilai sudah menunjukan pemulihan ekonomi pada kuartal III 2021 namun pemulihan masih tertahan. 

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet  mengatakan meskipun pada Agustus permintaannya masih rendah tetapi secara beriringan ketika pemerintah mulai melonggarkan restriksi. Permintaan barang dan jasa kembali mengalami peningkatan sehingga pelaku usaha bisa menggunakan barang baku industri untuk meningkatkan kegiatan produksi

Indek Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2021 sebesar 77,3, lebih rendah dibandingkan dengan 80,2 pada Juli 2021. Begitu juga dengan Indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur Indonesia tercatat berada di posisi 43,7 pada Agustus 2021 yang sudah pulih namun belum optimal.

“Saya kira pemulihan ekonomi sudah terjadi tetapi dia berada pada level yang masih terbatas. Meskipun sudah ada aktivitas perekonomian yang ditunjukan oleh impor barang modal dan barang industri dan barang modal. Tetapi di sisi lain permintaannya juga masih kecil terlihat dari PMI juga belum ekspansif pada Agustus 2021,” ucap Yusuf saat dihubungi pada Rabu (15/9).

 Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core), Yusuf Rendy Manilet

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) nilai impor bahan baku/penolong mencapai US$ 12,38 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan 8,39% dari posisi Juli 2021 dan meningkat 59,59% dari posisi Agustus 2020.  Sektor ini berkontribusi hingga 74,2% terhadap total impor.

“Saya kira ini bisa dilihat juga dalam jangka menengah pelaku usaha sudah relatif optimis terhadap proses pemulihan ekonomi yang  terjadi. Makanya mereka mulai berani melanjutkan permintaan untuk bahan baku,” ucapnya.

Nilai impor barang modal mencapai  US$ 2,41 miliar. Secara bulanan menunjukan pertumbuhan  16,44%. Secara tahunan menunjukan kenaikan 34,56%. Secara keseluruhan impor barang modal memberikan andil 14,47% ke impor secara keseluruhan.

“Kalau saya lihat barang modal, ini sifatnya investasi yang jangka menengah panjang, karena kalau kita lihat di Agustus ini mengalami pertumbuhan yang lumayan,” ucap Yusuf.

Neraca perdagangan secara kumulatif dari Januari sampai Agustus 2021 surplus US$ 19,17 miliar. Tren pertumbuhan ekspor diperkirakan akan terus meningkat sampai akhir tahun. Menurut Yusuf sampai saat ini belum ada sentimen negatif yang bisa menekan  ekspor. Karena harga komoditas masih berada dalam tren kenaikan. Permintaan dari negara tujuan utama juga masih relatif bagus. Satu-satunya yang bisa menekan tetapi tidak memperlambat adalah kenaikan kasus Covid-19.

“Isunya adalah kenaikan kasus covid-19 di negara-negara tujuan utama. Tetapi selama itu tidak terjadi di India maupun Tiongkok, saya kira ekspor masih berpotensi mengalami peningkatan  baik dari sisi volume maupun harga,” kata Yusuf.

Kenaikan ekspor juga akan sejalan dengan kenaikan impor. Namun kenaikan impor masih bisa dikompensasi oleh kenaikan ekspor. “Jadi kalau tidak ada sentimen dari ekspor impor kita menurut saya sampai akhir tahun ini nanti surplus secara kumulatif bisa US$ 20 miliar sampai  US$ 25 miliar,” kata Yusuf.

Yusuf menyarankan agar  momentum kenaikan ekspor harus terus dijaga. Kalau perlu dilanjutkan hingga tahun-tahun mendatang. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan nilai tambah dari produk yang diekspor.  Tidak hanya sekedar impor barang mentah tetapi barang yang bisa dikelola menjadi barang setengah jadi.

“Ke depannya tentu harus  ada penambahan nilai tambah,  misalnya untuk nikel, tidak hanya untuk produk aluminium, tetapi dikembangkan untuk menjadi baterai listrik,” kata Yusuf.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN