Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Atasi Rupiah dan Defisit, PSI Dorong CEPA Eropa Dikebut

Minggu, 2 September 2018 | 15:58 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA—Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyambut baik tercapainya kesepakatan Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Australia IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement). Kesepakatan tersebut rencananya segera diteken atau pada November 2018.

“Kita sambut baik ini pertanda positif bagi masa depan ekspor kita yang saat ini sedang melemah,” ujar Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo di Jakarta, Minggu (2/9).

Tercapainya kesepakatan itu ditandai dengan kunjungan Perdana Menteri (PM) yang baru Australia Scott Morrison ke Jakarta akhir pekan ini.

Meski demikian, Rizal mengatakan, pemerintah juga harus mempercepat perundingan dengan negara-negara eropa. Pasalnya, perundingan CEPA antara Indonesia dengan Uni Eropa sudah berlangsung lama.

“Perundingan perdagangan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership (IEU CEPA) ini sudah berlangsung lama. Memang akan lebih lama sebab melibatkan sekitar 38 negara Eropa, sedangkan dengan Australia, lebih bilateral,” ucap Rizal.

Namun Rizal mengatakan, meningkatkan volume perdagangan ke Eropa sangat penting untuk mendorong ekspor nasional guna menghentikan defisit neraca perdagangan dan membuat rupiah terus terdepresiasi.

“Mengerem impor hanya solusi jangka pendek. Sebab toh yang diimpor barang-barang modal bersifat produktif untuk infrastruktur dan industrilisasi. Berarti didalam negeri ada pergerakan ekonomi yang masif. Hanya saja ada ketidakseimbangan baru. Sebab itu, dalam jangka panjang harus diperkuat ekspor, sehingga rupiah bisa kembali perkasa,” ucap dia.

Rizal mengatakan, IEU-CEPA dapat menjamin akses pasar dan preferensi yang terbaik bagi pelaku usaha Indonesia. Salah satu penyebab masih banyaknya produk Indonesia susah diterima adalah belum tercapainya CEPA antara Indonesia dan Eropa. Padahal satu-satunya cara agar produk Indonesia dapat diterima di Eropa adalah melalui CEPA.

“Kita jangan kalah dong dari beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Malaysia. Produk mereka leluasa masuk Eropa sebab sudah CEPA. Ekspornya bagus,” ucap dia.


 

Rizal mengatakan, bila CEPA dengan Eropa tercapai, Indonesia dapat menaikkan ekspornya sebesar 300%. Sebab dengan CEPA, beberapa hambatan yang selama ini mengganjal produk dalam negeri masuk ke Eropa akan berkurang.

Beberapa produk Indonesia yang berpeluang dapat digenjot ekspornya ke Eropa adalah crude palm oil (CPO), produk tekstil, sepatu, makanan dan minuman.

Tak hanya dengan Eropa, Indonesia juga perlu segera mengikat perdagangan bebas tidak hanya dengan Eropa tetapi juga dengan Amerika Serikat agar produk tekstil dari Indonesia bebas biaya masuk.

“Coba bayangkan. Macam mana, kita bisa saingan sama negara tetangga. Bea masuk bagi produk tekstil kita di dua benua itu 11%-30%. Sedangkan produk tekstil dari Vietnam, China dan Bangladesh sebesar 0% karena dia sudah ada CEPA,” ucap Rizal.

Secara umum perdagangan Uni Eropa dengan Indonesia mengalami surplus. Nilai total perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada 2017 mencapai US$ 25,2 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar US$ 14,5 miliar dan impor sekitar US$ 10,7 miliar sehingga surplus di angka US$ 3,8 miliar. Sementara itu, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tahun 2016 sebanyak US$ 2,6 miliar dengan jumlah 2.813 proyek.

Periode Januari-Juli 2018, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 3,09 miliar. Defisit tersebut disebabkan oleh neraca migas sebesar US$ 6,6 miliar, lebih tinggi dari sebelumnya sebesar US$ 4,62 miliar. Peningkatan itu didorong oleh kenaikkan harga minyak dunia.

Sedangkan dari neraca nonmigas terjadi surplus sebesar US$ 3,56 miliar atau lebih kecil dari tahun sebelumnya sebesar US$ 12,0 miliar. Hal ini disebabkan terjadi peningkatan impor barang modal untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur. Defisit ini membuat rupiah terus terdepresiasi, selain factor sentimen global. (gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN