Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Korporasi Indonesia Siap Emisi Obligasi Global US$ 2,8 Miliar

Selasa, 26 Mei 2015 | 12:54 WIB
Oleh Antonia Timmerman dan Jauhari Mahardhika

JAKARTA – Sebanyak tujuh perusahaan asal Indonesia berencana menerbitkan obligasi global (global bond) senilai total US$ 2,87 miliar atau sekitar Rp 37,3 triliun. Dana hasil emisi surat utang itu akan dipakai untuk melunasi (refinancing) utang dan ekspansi usaha.


PT Tower Bersama Infrastructure Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) siap menerbitkan obligasi global masing-masing sebesar US$ 500 juta. Adapun PT Garuda Indonesia Tbk menerbitkan surat utang syariah (sukuk) global senilai US$ 500 juta.


Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk akan emisi obligasi masing-masing sebesar Sin$ 400 juta (US$ 299 juta) dan Sin$ 500 juta (US$ 375 juta).


Analis Millenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan, perusahaan asal Indonesia tertarik menerbitkan obligasi global, karena kupon dan imbal hasil (yield) lebih rendah dibandingkan obligasi domestik.


Menurut dia, beberapa obligasi korporasi global yang sudah diterbitkan memiliki kisaran kupon 7-8% atau di bawah rata-rata kupon obligasi di dalam negeri. Kupon tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata kupon di luar negeri seperti Amerika Serikat (AS) atau Eropa, sehingga bisa menarik investor asing.


“Di AS, surat utang bertenor 10 tahun berkupon 2,1%, sedangkan di Eropa dan Jepang tidak sampai 1%. Hal ini yang mendorong perusahaan Indonesia menerbitkan obligasi di luar negeri,” kata Desmon kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.


Lebih lanjut dia mengatakan, faktor pendorong lain penerbitan obligasi global adalah persyaratan yang mudah dibandingkan emisi di dalam negeri. Persyaratan itu juga lebih longgar dibandingkan dengan pinjaman bank. Di sisi lain, persaingan di pasar obligasi global lebih menguntungkan perusahaan Indonesia dibandingkan persaingan di pasar domestik.


“Terakhir, banyak juga perusahaan yang memakai obligasi global untuk branding, atau unjuk kemampuan di luar negeri,” ujar Desmon.


Meski memiliki sejumlah kelebihan, emisi obligasi global juga terdapat risiko, antara lain pelemahan pertumbuhan ekonomi dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.


Menurut Desmon, pelemahan rupiah membuat pembayaran kupon menjadi mahal, terutama bagi perusahaan yang tidak memiliki pendapatan dalam dolar AS. “Karena itu, perusahaan-perusahaan yang lebih ‘aman’ untuk emisi global bond adalah perusahaan yang memiliki investasi dalam bentuk dolar AS. Misalnya Tower Bersama,” tutur dia.


Sementara itu, perusahaan yang membukukan pendapatan dalam bentuk rupiah disarankan untuk menunda emisi hingga situasi ekonomi kembali stabil. Saat ini, emiten cenderung berhati-hati, karena pertumbuhan ekonomi yang melambat. (ian/gor)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/perlambatan-ekonomi-fluktuasi-rupiah-masih-jadi-sentimen-negatif/117268

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN