Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Aktivitas pekerja garmen di PT Sritex. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Refinancing Utang, Sritex Kaji Emisi Obligasi Global

Selasa, 18 Juni 2019 | 21:35 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA – PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) mengkaji pelunasan kembali (refinancing) utang senilai US$ 174,51 juta pada tahun ini. Perseroan membuka opsi refinancing melalui penerbitan obligasi global (global bond), sindikasi, serta pinjaman luar negeri.

Utang ini merupakan bagian dari global bond senilai US$ 350 juta yang diterbitkan tahun 2016. Surat utang tersebut memiliki bunga 8,25% dan jatuh tempo pada 2021. Pada Februari 2019, perseroan melakukan pembelian kembali (buyback) sebagian surat utang tersebut senilai US$ 175,48 juta.

Sekretaris Perusahaan Sritex Isman Welly Salam mengatakan, melalui aksi buyback tersebut, bunga global bond yang ditanggung perseroan turun menjadi 5,6%. Penurunan beban bunga ini tentunya memberikan penghematan bagi perseroan.

“Jadi sisa global bond nanti bisa kami refinancing dengan berbagai cara, termasuk merilis global bond lagi atau pinjaman bilateral,” jelas dia usai Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan (RUPST) di Jakarta, Selasa (18/6).

Saat ini, kata Welly, rasio hutang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) perseroan sebesar 1,2 kali. Perseroan berupaya mempertahankan posisi DER tersebut di akhir tahun. Sementara itu, pihaknya mengakui, pembayaran hutang sindikasi atau pinjaman luar negeri perseroan, karakternya mirip seperti penerbitan obligasi. “Pembayaran sindikasi kami itu bullet payment (dilakukan secara penuh) atau tidak ada amortisasi. Kreditur kami sangat mengapresiasi kredibilitas perseroan,” kata dia.

Maret lalu, lembaga pemeringkat rating Moody’s mempertahankan peringkat Sri Rejeki Isman di posisi Ba3. Peringkat tersebut diberikan lantaran perseroan mampu mempertahankan pendapatan kuat dan pertumbuhan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA). Hal ini didorong oleh ekpansi dan akuisisi kapasitas pabrik. Tahun lalu, perseroan mengakuisisi dua perusahaan yakni PT Primayudha Mandirijaya dan PT Bitratex Industries senilai US$ 85 juta.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$ 30-US$ 40 juta, atau hampir sama dengan realisasi tahun ini. Capex ini bakal diserap untuk pemeliharaan mesin-mesin produksi yang regular dilakukan.

Menurut Welly, untuk potensi aksi akuisisi, perseroan selalu mengkaji peningkatan kinerja melalui strategi organik dan anorganik. Hingga saat ini, perseroan berbagai rencana tersebut masih digodok. “Kita masih lakukan studi kelaikan untuk aksi akuisisi. Rencananya mungkin tahun depan, kita finalisasi program ini,” ujar dia.

Penjualan ke AS

Sritex menargetkan penjualan dari Amerika Serikat (AS) mampu mencapai US$ 83-88 juta tahun ini atau naik dari penjualan ke AS tahun lalu yang mencapai US$ 58 juta. Peningkatan ini dipicu oleh kondisi perang dagang antara AS-Tiongkok yang kian memanas.

Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam mengatakan, pertumbuhan penjualan ke AS ditargetkan sebesar US$ 25-30 juta pada tahun ini. Permintaan tekstil dari AS akan meningkat terhadap perusahaan di luar Tiongkok lantaran perang dagang antar dua negara ini membuat Amerika membatasi ekspor tekstil dari Tiongkok.

“Yang kami jual ke AS itu pakaian dan benang jadi. Dan kami supply kepada merek-merek besar seperti Disney dan  K-Mart dan masih banyak yg lainnya,” jelas dia usai RUPST.

Saat ini perseroan telah melakukan ekspor ke 100 negara. Hingga kuartal I-2019, berdasarkan wilayan, porsi pelanggan untuk pasar domestik mencapai 40%, dan sisa 60% merupakan porsi pelanggan luar negeri. Rincian sebaran wilayahnya, 37% pasar Asia, 9% pasar Eropa, 7% pasar Amerika, dan 7% untuk Uni Emirat Arab, Australia dan Afrika.

 

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN