Menu
Sign in
@ Contact
Search
PT PP Tbk (PTPP).

PT PP Tbk (PTPP).

PP Tawarkan Obligasi Rp 1,5 Triliun

Jumat, 18 Oktober 2019 | 21:53 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT PP Tbk (PTPP) tengah melangsungkan penawaran awal (bookbuilding) atas obligasi berkelanjutan II tahap II senilai Rp 1,5 triliun. Dana hasil emisi obligasi akan digunakan perseroan untuk kebutuhan ekspansi infrastruktur.

Direktur Keuangan PP Agus Purbiyanto mengatakan, selama masa bookbuilding ini, surat utang ditawarkan dalam dua seri. Untuk seri bertenor tiga tahun, kupon yang ditawarkan berkisar 7,75-8,25%, sedangkan pada seri bertenor lima tahun kupon yang diusulkan sekitar 8-8,5%.

“Kami akan lihat respons investor seperti apa. Target perseroan hasil emisi sudah dapat dikantongi pada November 2019,” kata Agus kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (18/10).

PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi efek (underwriter) dari penerbitan obligasi berkelanjutan II tahap II PP. Surat utang tersebut telah mengantongi peringkat A+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Sebagai informasi, penawaran ini merupakan bagian dari PUB II yang memiliki target emisi hingga Rp 3 triliun. Sebelumnya, PP berhasil menerbitkan PUB II tahap I senilai Rp 1,5 triliun pada Mei 2018.

Ketika itu, perseroan meraih kupon di level 8,25% untuk seri A bertenor tiga tahun senilai Rp 1,04 triliun dan 8,5% untuk seri B bertenor lima tahun senilai Rp 460 miliar. Kedua obligasi ini bakal jatuh tempo masing-masing pada Juli 2021 dan Juli 2023.

Pada kuartal IV-2019 hingga tahun depan, PP masih membidik sejumlah proyek konstruksi, mulai dari sektor bagunan, energi, hingga sistem pengelolaan air minum (SPAM).

Sebelumnya, PP bersama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), dan PT Danareksa telah sepakat membangun gedung-gedung baru di sekitar kawasan Kementerian BUMN. Investasi proyek bernama BUMN Center ini diperkirakan senilai Rp 2 triliun.

Direktur Utama PP Lukman Hidayat mengatakan, sebagai kontraktor utama yang ditunjuk oleh Kementerian BUMN dalam menggarap BUMN Center, pihaknya menggunakan skema kerja sama usaha (KSU) dan perusahaan patungan (joint venture/JV). Proses pembangunan direncanakan memakan waktu mulai November 2019 hingga Juni 2024.

“BUMN Center ini merupakan ide Ibu Menteri (Rini Soemarno). Sementara, arsiteknya adalah PT Alien Design Consultant. Ketinggian gedung tidak lebih dari Monas” jelas dia di Jakarta, baru-baru ini.

Sesuai rencana, PP dan Danareksa akan menggunakan skema KSU dengan kepemilikan masing-masing 95% dan 5% pada gedung baru Danareksa. Begitu juga dengan gedung baru Garuda yang menggunakan skema KSU 95% dan 5%. Sedangkan untuk gedung baru Telkom, PP dan Telkom masih mengkaji lebih lanjut porsi sahamnya pada JV yang akan dibentuk.

BUMN Center akan berdiri di lahan seluas 24.694 meter persegi. Rinciannya, sekitar 3.955 meter persegi milik Garuda Indonesia, 11,439 meter persegi milik Telkom, dan 9.300 meter persegi milik Danareksa.

Dari sisi desain, gedung akan berkonsep green building yang menyerupai siluet burung garuda. Gedung BUMN yang sekarang ini mewakili kepala burung Garuda, diapit oleh gedung Telkom dan Danareksa yang menjadi sayapnya. Pada bagian belakang berdiri gedung Garuda yang akan didesain meruncing

Proyek BUMN Center yang akan dibukukan sebagai kontrak baru PT PP tahun ini sebesar Rp 800 miliar. Sementara itu, perseroan telah mengantongi kontrak baru senilai Rp 23 triliun hingga September 2019.

Menurut Lukman, pihaknya mempertimbangkan untuk merevisi turun target kontrak baru tahun ini menjadi Rp 45 triliun, dari semula Rp 50,3 triliun. Hal ini lantaran ada sejumlah tender konstruksi pemerintah yang mundur. “Pihak swasta juga banyak yang menunda bahkan cancel proyek. Mungkin mereka akan melakukan pada tahun depan,” jelas dia.

Seiring dengan revisi tersebut, perseroan juga turut mengubah target pendapatan tahun ini menjadi Rp 28 triliun dari Rp 30 triliun. Alhasil, target laba juga berpotensi diturunkan. Namun, Lukman belum bisa menyebut berapa persen penurunan karena mesti melewati persetujuan dewan komisaris.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com