Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

LAPORAN DARI DEALING ROOM BANK BNI

Ryan Kiryanto: Rupiah Bisa Ditutup di Level 13.960

Senin, 28 Oktober 2019 | 10:09 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi bergerak menguat 20 poin atau 0,14% menjadi Rp14.018 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya di posisi Rp14.038 per dolar AS.

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam wawancaranya dengan BeritasatuTV di Dealing Room Bank BNI di Jakarta, Senin (28/10/2019) mengatakan rupiah yang dibuka di zona hijau pagi ini memang belum menguat secara signifikan.

Namun, lanjut dia, penguatan rupiah memberikan sinyal bahwa ada view yang optimistis dari market terhadap outlook rupiah pada hari ini.

“Rupiah tadi dibuka di level 14.000, nanti sore rupiah di closing pukul 16.00 ada ekspektasi rupiah bisa ke 13.960. Tetapi kalau pun steady ya di range 14.000-14.050. Trennya adalah apresiasi meski dalam ruang yang sempit,” katanya. 

Foto ilustrasi uang rupiah/David Gitaroza/Investor Daily
Foto ilustrasi uang rupiah/David Gitaroza/Investor Daily

Ryan mengatakan bahwa progress dari kesepakatan trade war antara AS-Tiongkok akan terus dipantau oleh seluruh pelaku pasar keuangan dunia, termasuk pasar keuangan Asia dan terutama di Jakarta. Karena dengan sistem ekonomi Indonesia yang terbuka apapun yang terjadi di dunia luar atau variable eksternal, tentu akan memberikan pengaruh kepada semua indikator ekonomi Negara termasuk mata uangnya.

Jika arah gerakan dari trade war ini mengalami progress yang positif, lanjut Ryan, memberikan apresiasi kepada seluruh mata uang di luar mata uang di mana Negara-negara itu mengalami tekanan ekonomi.

“Sebut saja Jepang. Jepang tiba-tiba ekonominya melemah, maka yen nya juga melemah. Dolar Singapura saya kira juga sekarang berada dalam tekanan yang tajam, karena pertumbuhan ekonomi Singapura sangat rendah, setelah 0,9% beberapa kuartal yang lalu, rilis terbaru Singapura hanya tumbuh 0,1%, sehingga muncul dugaan cepat atau lambat Negara ini jika tidak rebound akan terjerembab dalam situasi resesi,” katanya.

Terkait sentimen dalam negeri, Ryan mengatakan kemarin sempat muncul kekhawatiran. Jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuannya BI 7 DRRR 25 basis poin dari 5,25% ke 5% itu akan memberikan tekanan ke rupiah. Dan, memang pada hari Jumat sempat terjadi tekanan terhadap rupiah.

“Karena walaupun BI mengatakan bahwa itu adalah policy yang sifatnya behind the curve yaitu langkah antisipatif atau preemptive menyambut pertemuan FOMC pekan ini, yang kita juga tidak tahu apakah Fed akan menurunkan Fed fund rate-nya atau menurunkan atau menahan steady di level 1,75% sampai 2% hingga bulan depan, tidak ada yang tahu,” katnya. 

Jika Fed benar-benar memangkas suku bunga acuannya, lanjut Ryan, maka ini akan memberikan angina segar kepada mata uang Asia, termasuk rupiah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN