Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Pekan Depan, IHSG Diprediksi Akan Bergerak dalam Rentang 5.988 – 6.200

Sabtu, 23 November 2019 | 15:09 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Jakarta, Investor.id – Aktivitas transaksi pasar saham sepanjang pekan depan diprediksi masih akan dipengaruhi oleh sentimen terkait negoisasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Selain itu pelaku pasar terus memantau perkembangan dari berbagai sentimen skala global lainnya.

Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama memperkirakan kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok "fase pertama" kemungkinan tidak akan terjadi tahun ini, dan tertunda ke tahun depan. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali mengancam akan menaikan tarif impor barang Tiongkok, jika Beijing tidak menyetujui kesepakatan perdagangan.

“Hal ini berpeluang menekan laju indeks pasar saham global dan regional dan menaikan keidakpastian,” urai Hans dalam riset mingguan yang diterima Majalah Investor, Sabtu (23/11/2019).

Sebelumnya, akhir pekan kemarin,  Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He dikabarkan mengundang Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin ke Beijing untuk bernegosiasi lebih lanjut.

Dalam pertemuan itu, Liu He menyatakan sangat optimistis bisa mencapai kesepakatan fase pertama dengan AS. Hal ini menyusul potensi AS untuk menunda tarif impor Tiongkok, bahkan jika kesepakatan belum tercapai pada 15 Desember. Ancaman Trump tampaknya bakal menggugurkan optimisme Liu.

Keraguan analis terkait keberhasilan kesepakatan dagang fase pertama, juga disebabkan oleh Kisruh di Hongkong, seiring pernyataan Senator AS Marco Rubio mengatakan Presiden AS Donald Trump akan menandatangani RUU AS yang mendukung demonstran pro-demokrasi Hong Kong. Hal ini memicu Beijing untuk menuduh AS mencampuri urusan dalam negerinya terkait demonstrasi di Hongkong.

Sementara dari dalam negeri AS sendiri, pasar masih akan memantau proses pemakzulan terhadap Trump. Begitu pula perkembangan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan risalah pertemuan Federal Reserve pada Oktober lalu menunjukkan pejabat The Fed melihat sedikit kebutuhan untuk memangkas suku bunga lebih jauh. Sebelumnya diketahui The Fed memutuskan untuk menurunkan suku bunga federal sebesar 25 basis poin ke kisaran 1,5% hingga 1,75% akhir bulan lalu. Penurunan tersebut merupakan pemangkasan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini tetapi mengisyaratkan tidak akan ada pengurangan lebih lanjut kecuali jika ekonomi benar-benar memburuk.

“Prospek penurunan bunga The Fed sampai akhir tahun sangat kecil, sehingga diperkirakaan BI juga akan menahan suku bunga sampai akhir tahun,” papar Hans.

Adapun sentimen dari dalam negeri, tampaknya tidak terlihat dapat mengimbangi tekanan skala global. Sebaliknya berpotensi menekan pasar seiring terjadi kasus gagal bayar PT Minna Padi.

Terkait kasus ini, OJK telah meminta Minna Padi membubarkan 6 reksa dananya. Dari list yang beredar terdapat banyak saham-saham dengan fundamental baik dan berkapitalisasi besar dalam list aset reksadana yang dikelola oleh MI tersebut.

“Perintah pembubaran, mewajibakan Fund Manager melikuidasi semua posisi di pasar dan dalam 60 hari lalu mengembalikan semua dana kepada investor. Ini akan menekan saham-saham yang dijual oleh fund manager tersebut,” imbuhnya. Belum lagi bila khasus ini berkembang dan (bila) ada lagi MI yang di minta membubarkan produknya.

Tak hanya itu, risiko MKBD beberapa sekuritas telah membuat naiknya nilai hair cut dan membuat turunya transaksi margin. Ini terlihat dari nilai transaksi harian yang mengalami penurunan cukup besar.

Penurunan MKBD yang berpotensi membuat suspen transaksi sebuah broker menurut Hans bisa membuat kepanikan di pasar bila dibiarkan.

Negatifnya berita global dan regional ditambah beberapa kasus di atas membuat Hans menurunkan target IHSG ke level 6220 di akhir 2019.

“IHSG masih berpeluang turun test level 5524 dalam beberapa pekan kedepan. Kami perkirakan IHSG di awal pekan dapat menguat menyusul optimisme harapan perundingan perang dagang AS -Tiongkok, tetapi diakhir pekan kami perkirakaan kembali akan terkoreksi,” urainya.

Untuk itu, secara umum IHSG pekan depan menuurt Hans diperkirakan akan bergerak di level support 6062 sampai 5988 dan resistance di level 6167 sampai 6200.

“Investor kami rekomendasikan SOS ketika pasar menguat dan melakukan pemelian kalau terjadi koreksi dalam di pasar,” tandasnya.

 

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN