Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

2021, Tujuh Sektor Saham Naik Melampaui Pertumbuhan IHSG

Jumat, 31 Desember 2021 | 16:19 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 7 dari 11 indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) bertumbuh 11,2% hingga 707,5% selama 2021. Pertumbuhan tersebut di atas kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) 2021 yang mencapai 10%.

Indeks saham teknologi naik paling tinggi sebesar 707,5%. Setelah itu, indeks saham transportasi & logistik 67,7%, energi 45,5%, konsumer siklikal 21,2%, keuangan 21,1%, industri 11,6%, dan infrastruktur 11,2%.

Tahun depan, pangsa saham sektor teknologi diprediksi mencapai 15-20% dari total kapitalisasi pasar saham (market cap) Bursa Efek Indonesia (BEI), naik signifikan dari 4,3%. Lonjakan market cap saham sektor teknologi bakal didongkrak oleh penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham decacorn dan unicorn, seperti GoTo, Blibli, Traveloka, dan SiCepat.

Baca jugaSaham-saham yang Paling Banyak Diburu Asing selama 2021

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menuturkan, gain saham teknologi tahun depan berpotensi masih tinggi, menyesuaikan pergerakan kapitalisasi pasar. Selain ditopang IPO unicorn, sejumlah inovasi yang dilakukan para pemain lama akan merangsang pemodal, termasuk pengelola dana memburu saham teknologi.

Selama ini, dia menyatakan, keputusan berinvestasi di saham teknologi lebih dipengaruhi prospek bisnis, bukan kinerja fundamental. Sebab, sering kali pengembangan bisnis masif tidak terefleksi di kinerja keuangan.

Baca juga: 10 Jawara Market Cap di BEI hingga Akhir 2021

Hal itu terjadi, kata dia, karena emiten teknologi membutuhkan dana besar untuk riset dan promosi. Akibatnya, pendapatan tergerus, sehingga mereka mencetak rugi. Namun, dia menilai, hal itu tidak masalah. Sebab, pengeluaran biaya yang masif diharapkan dapat menopang kinerja ke depan. Nilai ini yang dilihat oleh para pelaku pasar.

“Jadi, melihat saham teknologi tidak bisa seperti melihat saham tradisional. Sebab, yang dilihat adalah prospek, bukan kinerja keuangan terkini. Intinya, emiten menjual prospek dan investor merespons dengan membelinya,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN